• KONSUMSI KOPI INDONESIA

    by  • 15/06/2017 • Perkebunan, PERTANIAN • 0 Comments

    Menurut Asosiasi Eksportir Kopi Indonesia (AEKI), tahun 2007 tingkat konsumsi kopi Indonesia masih berkisar pada angka 0,5 kg per kapita per tahun. Tahun 2017 ini, konsumsi kopi Indonesia naik tajam menjadi 1,6 – 1,7 kg per kapita per tahun.

    Gejala naiknya tingkat konsumsi kopi Indonesia, tampak dari menjamurnya gerai (warung dan restoran) dengan tambahan nama kopi. Baik yang merupakan gerai waralaba (franchise) seperti Starbuck Coffee, maupun gerai lokal. Indikator naiknya tingkat konsumsi kopi Indonesia juga tampak dari munculnya industri kopi saset. Baik yang hanya kopi tanpa gula, kopi dengan gula dan kopi dengan gula dan susu atau krim. Dengan tumbuhnya industri kopi saset, masyarakat lapis bawah dimudahkan untuk minum kopi, di mana pun dan kapan pun. Mesin-mesin penggiling dan penyeduh kopi juga laris manis.

    kopi-liberika-a
    Tempat minum kopi papan atas, memang harus menggunakan mesin kopi yang memanaskan biji kopi mentah (green beans), sesuai jumlah pemesan, menggilingnya, menekannya dengan uap panas, lalu hasil tetesan uap berkopi itulah yang disajikan. Di gerai kopi hotel bintang 5, disajikan beragam biji kopi Indonesia dan dunia. Baik kopi robusta (Coffea canephora), kopi arabika (Coffea arabica), maupun kopi liberika (Coffea liberica). Kopi-kopi itu berasal dari Brasil sebagai penghasil kopi utama dunia, Vietnam sebagai penghasil kopi kedua dunia, Kolumbia penghasil kopi ketiga atau keempat, sampai ke Ethiopia sebagai penghasil kopi kelima sekaligus tempat asal-usul kopi.

    Untuk itu Indonesia sebagai penghasil kopi nomor ketiga/keempat dunia (gantian dengan Kolumbia), terpaksa harus impor biji kopi mentah dari berbagai negara penghasil kopi tersebut. Tahun 2016 yang lalu, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat volume impor biji kopi mentah Indonesia sebesar 23.634,3 ton dengan nilai 43.781.822 dollar AS, atau Rp 569,1 miliar. Ini belum termasuk impor biji kopi sangrai (roasted coffee beans), kopi bubuk, dan kopi instan; yang nilainya memang tak sebesar impor biji kopi mentah. Tahun 2016, masih menurut BPS Indonesia mengekspor biji kopi mentah dengan volume 408.837,6 ton senilai 993.369.447 dollar AS atau Rp 12,9 triliun.

    # # #

    Volume dan nilai impor biji kopi mentah Indonesia, masih lebih tinggi ekspornya. Volume ekspor kopi Indonesia masih surplus sebesar 385.203,3 ton, dengan nilai surplus 94.9587.625 dollar AS atau Rp 12,3 triliun. Bahkan nilai kopi yang kita ekspor juga lebih tinggi dari kopi yang kita impor. Ekspor kopi Indonesia bernilai 2.429,7 dollar AS atau Rp 31.586.627 per ton; sementara kopi yang kita impor bernilai 1.852,4 dollar AS atau Rp 24.082.080 per ton. Selain karena faktor keberadaan gerai-gerai kopi waralaba asing, impor kopi Indonesia juga disebabkan oleh faktor kedekatan. Batam, Bintan, Takengon, Nunukan/Tarakan; pasti lebih murah impor kopi dari Singapura dan Malaysia, dibanding mendatangkan kopi dari Jawa.

    Kopi merupakan produk minuman “paling muda” dibanding teh, wine, bir, susu dan madu. Teh sudah mulai diminum manusia di wilayah Yunnan, RRT sejak dinasti Shang (1600 SM–1046 SM). Madu lebih tua lagi karena sudah dikenal sebagai minuman pada 6000 SM.  Wine (air anggur terfermentasi) menjadi minuman tahun 8000 SM. Susu domba dikenal sebagai minuman antara 9000–7000 SM. Bir hasil fermentasi malt (kecambah barley) merupakan minuman paling tua karena sudah dibuat manusia pada 9500 SM. Kopi yang berasal dari “Tanduk” Afrika (Somalia dan Ethiopia), tak diketahui dengan pasti, kapan mulai dikenal sebagai minuman.

    Kemungkinan produk ini sudah mulai diminum di kawasan tersebut pada awal millenium I. Tetapi dunia luar, baru mulai mengenal kopi saat para saudagar Yaman memperkenalkan komoditas ini ke Arab, Mesir dan kemudian Turki pada abad ke 15. Kosakata kopi (coffee) berasal dari Bahasa Arab quwwah (kahwa) yang berarti kekuatan. Legendanya, kambing yang memakan daun kopi dan terikut buahnya, akan jadi agresif menyerang, dan jantan dewasa  mengejar-ngejar betina. Legenda lain menyebut ada kafilah yang beristirahat dan membuat api unggun. Salah satu anggota rombongan kafilah itu menaruh ranting dengan buah kecil-kecil di atas api.

    Dari buah yang terbakar itu kemudian  tercium bau harum. Ranting itu diambil kembali dan buah yang hangus itu dimakan. Ternyata rasanya pahit, hingga dia segera minum air. Tapi setelah itu rasa capek dan ngantuk anggota rombongan kafilah itu hilang. Sejak itulah para kafilah di Somalia dan Ethiopia biasa membakar buah yang kemudian diberi nama kopi ini, lalu mengunyahnya dan meminum air. Dari sinilah lahir budaya minum kopi di Tanduk Afrika, yang baru menyeberang ke Jazirah Arab, kemudian ke seluruh Timur Tengah, Eropa, Afrika Utara dan kemudian ke seluruh dunia.

    # # #

    Naiknya tingkat konsumsi kopi Indonesia sangat menggembirakan. Sebab dengan tingkat konsumsi hanya 0,5 kg per kapita per tahun, kita kalah dari Laos 1,4 kg; Vietnam 0,7 kg; bahkan kalah dari negara kepulauan di Samudera Pasifik, yakni Kiribati 1 kg;  dan Cook 0,6 kg. Dengan tingkat konsumsi 1,6 sampai 1,7 kg per kapita per tahun, berarti Indonesia naik dari peringkat 101 ke peringkat 50an. Lima negara dengan tingkat konsumsi kopi tertinggi dunia adalah Finlandia 12 kg; Norwegia 9,9 kg; Eslandia 9 kg, Denmark 8,7 kg; dan Negeri Belanda 8,4 kg. Di empat negara pengonsumsi kopi terbesar dunia ini, sebutan untuk minum kopi adalah minum Jawa (Java drink).

    Di negara-negara Eropa Utara, kopi memang disebut Java. Pada abad 17 saat pertama mereka mengenal budaya minum kopi, sampai dengan abad 19; biji kopi yang mereka minum berasal dari Jawa. Waktu itu Jawa memang penghasil kopi Arabika terbaik sekaligus terbesar dunia. Brasil, dan Kolumbia, terlebih Vietnam belum mulai menanam kopi. Tapi pada abad 19, areal kopi Arabika di Jawa hancur terkena serangan karat daun. Meski sekarang pasokan kopi di Eropa Utara tak hanya berasal dari Jawa, sampai sekarang mereka tetap menyebut minum kopi sebagai minum Jawa. Ironinya tingkat konsumsi kopi kita justru masih sangat rendah.

    Kopi saset, pada akhirnya bisa mendongkrak tingkat konsumsi kopi Indonesia. Meskipun trend ini sekaligus juga telah memanipulasi rasa kopi. Seseorang yang telah terbiasa minum kopi saset, akan kaget dan tak mau meminum kopi di gerai-gerai kopi papan atas. Bukan karena harganya tak terjangkau, tetapi karena selera mereka sudah terbentuk oleh kopi saset. Trend gerai kopi dan kopi saset juga telah memunahkan tradisi menyangrai dan menumbuk kopi secara tradisional. Di Sidikalang, di Ijen, di Toraja, di Manggarai, di Wamena; yang selama ini dikenal sebagai penghasil kopi arabika terbaik, kita tetap harus minum kopi saset. Tak ada lagi orang yang mau menyangrai dan menumbuk kopi, meskipun itulah yang paling enak.

    Beruntunglah Ethiopia sebagai negeri asal-usul kopi. Di sini, tradisi menyangrai dan menumbuk kopi tak tergusur oleh gerai kopi terlebih kopi saset. Di negeri ini, minum kopi disebut sebagai seremoni kopi (coffee ceremony). Tradisi ini mirip dengan upacara minum teh di Jepang. Ketika sebuah keluarga berkumpul, atau saat ada tamu dan kopi akan disajikan; disangrailah biji kopi mentah di atas tungku. Setelah kopi siap ditumbuk; di atas tungku itu ditaruh cerek berisi air untuk dididihkan. Saat air mendidih, kopi yang telah ditumbuk dimasukkan, ditunggu sebentar, dan siap dituang ke cangkir untuk dinikmati. # # #

    Artikel pernah dimuat di Mingguan Kontan
    Foto : F Rahardi

    About

    Leave a Reply

    Your email address will not be published. Required fields are marked *