• PENANGGULANGAN ULAT GAHARU

    by  • 15/09/2017 • Perkebunan, PERTANIAN • 0 Comments

    Sejak beberapa tahun terakhir, petani gaharu di Vietnam, Kamboja, Thailand, Malaysia, dan Indonesia rugi besar akibat  ulat (larva) dari  ngengat (moth) Heortia vitessoides. Ulat ini telah mematikan ribuan  tanaman gaharu sebelum diinokulasi.

    Gaharu (agarwood) merupakan bahan aromatik dengan peringkat harga tertinggi di dunia. Saat ini, harga jual gubal gaharu kualitas A1 Rp 150 juta per kilogram. Di Timur Tengah, harga tersebut naik menjadi Rp 300 juta dan di RRT Rp 400 juta per kilogram. Gubal gaharu merupakan bagian kayu yang bercampur dengan resin dan beraroma sangat harum. Gubal akan terbentuk, apabila kayu batang pohon gaharu (Aquilaria malaccensis), terinveksi oleh kapang Acremonium sp, Cylindrocarpon sp, Fusarium sp. Sebagai pertahanan diri, tanaman mengeluarkan resin berbau harum, untuk mematikan kapang dan melokalisir serangan.

    ulat-gaharu-a
    Di alam, kapang itu menginveksi batang gaharu, melalui luka akibat serangan belalang, tertimpa dahan pohon lain yang patah atau retakan akibat angin kencang. Agar gaharu budi daya terinveksi kapang, batang tanaman dibor, dan benih kapang dimasukkan ke dalam lubang itu. Teknik ini disebut inokulasi, atau orang-orang menyebutnya “menyuntik” gaharu. Tanaman gaharu hasil budi daya, baru bisa diinokulasi, paling cepat pada umur enam tahun sejak tanam. Apabila inokulasi berhasil, gubal baru akan bisa dipanen paling cepat tiga tahun setelah inokulasi. Makin lama dipelihara, ukuran gubal akan semakin besar, dan biaya panen semakin rendah.

    # # #

    Sebagian besar gaharu budi daya, gagal diinokulasi, dan tanaman mati karena terinveksi kapang yang diinokulasikan. Untuk mengatasinya diupayakan isolasi kapang, dari gubal yang telah terbentuk di salah satu individu tanaman. Kemudian tanaman tersebut diambil entresnya untuk disambungkan ke pohon pangkal yang telah disiapkan, hingga tercipta benih gaharu sambungan. Dengan cara itu, diperoleh strain kapang; dan klon tanaman yang kompatibel.  Kendala budi daya gaharu, ternyata tak hanya sebatas masalah inokulasi. Belakangan ini tanaman gaharu justru mati diserang ulat sebelum diinokulasi.

    Ulat gaharu, menyerang semua spesies gaharu hingga batang pohon meranggas. Pohon yang sehat memang akan segera menumbuhkan tunas baru. Tetapi tak lama kemudian, larva yang bermetamorfosis menjadi pupa, kemudian ngengat, akan bertelur pada pucuk daun yang baru tumbuh. Populasi larva generasi kedua ini biasanya berjumlah lebih banyak dari generasi pertama. Kemudian larva generasi ketiga lebih banyak lagi; demikian seterusnya hingga tanaman menjadi semakin lemah. Pada saat bersamaan akan datang serangan kapang atau bakteri di pangkal batang hingga pohon langsung mati.

    Ulat gaharu bisa dibasmi secara efektif ketika berupa larva dengan pestisida kontak maupun sistemik. Pestisida kontak, akan mematikan larva yang bersentuhan langsung dengan pestisida yang disemprotkan. Pestisida sistemik, akan diserap jaringan tanaman, dan larva yang memakan daun tanaman akan mati. Dampak dari penggunakan pestisida kontak, akan cukup luas, sebab serangga yang bukan hama, reptil dan burung terancam ikut mati. Pestisida sistemik relatif lebih aman, tetapi harganya lebih tinggi, dan residunya akan cukup lama berada di jaringan tanaman.

    # # #

    Karena alasan tersebut, penanggulangan akan menjadi sangat murah dan aman terhadap lingkungan, apabila dilakukan pada stadium pupa. Ulat gaharu yang telah mencapai stadium dewasa, akan segera turun ke atas permukaan tanah, menggunakan benang yang keluar dari mulutnya. Sesampai di permukaan tanah, larva dewasa ini akan mencari tempat yang aman dan terlindung, untuk membuat kokon yang biasanya menyatu dengan tanah. Dalam kokon (kepompong) itulah ia bermetamorfosis menjadi pupa. Pembasmian pupa Heortia vitessoides paling mudah dan murah karena berada di atas permukaan tanah.

    Rumput, batu, kayu kering, serasah, di atas tanah di bawah tajuk gaharu, harus terlebih dahulu dibersihkan. Dalam membersihkan lahan di bawah tegakan tajuk, dilihat, apakah di balik serasah, kayu lapuk, dan batu tersebut ada pupanya. Kalau ada pupa ini dikumpulkan untuk pakan unggas (ayam, itik, burung piaraan), atau ikan. Kalau tidak ada, kita harus menggali agak lebih dalam untuk menemukan pupa tersebut. Apabila lahan di bawah tegakan pohon yang terserang ulat dibersihkan, dan pupa diambil, populasi hama generasi kedua akan mengecil. Demikian seterusnya, hingga ulat gaharu bisa kita kendalikan. # # #

    Artikel pernah dimuat di Tabloid Kontan
    Foto : F. Rahardi

    About

    Leave a Reply

    Your email address will not be published. Required fields are marked *