• REBUNG BAMBU BIARA

    by  • 13/10/2017 • Buah, Sayur, Tanaman Hias, PERTANIAN • 0 Comments

    Di pasar-pasar Kota Bangkok, kita akan sering melihat penjaja rebung bambu sebagai cemilan. Rebung bambu itu kecil-kecil memanjang, tampak “menggunung” dalam wadah pengukusnya yang terus-terusan mengepulkan uap air panas.

    Ketika ada pembeli, penjaja rebung itu akan mengambil beberapa potong dengan menggunakan garpu. Potongan rebung itu dengan cepat dicincangnya di atas talenan memakai pisau tajam. Cincangan rebung itu ditaruh dalam wadah, disiram sambal (saus) lalu disodorkan ke pembeli. Jauh sebelum asinan (pickle) ketimun menjadi trend “cemilan” di Amerika Serikat; masyarakat Thailand sudah biasa mengonsumsi rebung bambu sebagai makanan ringan yang menyehatkan. Rebung rendah kalori, rendah protein, tetapi kaya serat, vitamin dan mineral. Itulah sebabnya kita sulit menemukan obesitas di Thailand. Bahkan para Satpam yang tak banyak bergerak itu pun rata-rata bertubuh langsing.

    rebung-bambu-biara-1a
    Bambu yang mereka panen rebungnya untuk dijajakan sebagai cemilan itu bernama phai ruak, atau phai huak. Arti harafiahnya bambu biara (monastery bamboo, Thyrsostachys siamensis). Disebut bambu biara, karena di Thailand bambu ini banyak ditanam sebagai pagar hidup di komplek biara, yang dihuni para Rahib Buddha. Para Rahib Buddha, menanam bambu ini bukan sekadar sebagai pagar,  melainkan juga untuk dipanen rebungnya. Kadang di belakang nama phai ruak, ditambahkan kata no wan menjadi phai ruak no wan. No berarti rebung, dan wan manis. Rebung bambu biara memang dikenal manis, setelah direbus dan dibuang airnya. Meskipun tingkat kemanisannya masih di bawah rebung bambu petung kita, terutama petung kalimantan (buluh suluk, Gigantochloa levis).

    Meskipun jelas berasal dari kawasan Indochina (Myanmar, Thailand, Laos, Vietnam);  sampai ke  Yunnan di Selatan RRT, di Indonesia bambu biara justru dikenal sebagai bambu Jepang. Tak pernah jelas benar, mengapa bambu ini disebut “bambu Jepang”. Sama dengan chaya (tree spinach, Cnidoscolus aconitifolius), yang juga disebut “pepaya Jepang” padahal sayuran ini asli Meksiko. Bambu biara baru diintroduksi ke Indonesia tahun 1970an. Di negeri kita bambu ini justru populer sebagai pagar dan elemen taman. Bambu biara memang berbatang lurus, tumbuh merumpun dengan tingkat kerapatan tinggi. Tajuknya lentur dengan daun-daun kecil yang mampu meredam angin.

    # # #

    Di Thailand, bambu biara jarang digunakan sebagai pagar hidup atau elemen taman. Di kota Bangkok pun, hampir tak terlihat komplek bangunan yang menggunakan bambu biara sebagai pagar halaman. Yang ada “kebun bambu biara” di luar kota, sebagai penghasil rebung. Di negeri Gajah Putih ini bambu biara dibudidayakan secara massal, dan komersial, untuk dipanen rebungnya. Bambu ini dipilih untuk dibudidayakan karena mudah, murah, dan menguntungkan. Dibanding rebung bambu betung atau bambu hitam, rebung bambu biara relatif lebih populer di Thailand. Rebung bambu biara berukuran kecil, dengan diameter di bagian pangkal antara empat sampai dengan enam sentimeter.

    Ciri khas rebung bambu biara, selain berukuran kecil, juga memanjang antara 20 sampai 30 cm, sepanjang rebung bambu betung. Di Thailand, rebung bambu biara bukan hanya  dikonsumsi sebagai untuk cemilan dan sayuran segar, melainkan juga dikeringkan dan dikalengkan lalu mereka ekspor. Thailand mampu memanfaatkan Bangsa Tionghoa, baik yang tinggal di RRT maupun Taiwan, sebagai target pasar. Rebung, termasuk rebung bambu biara, hanyalah salah satu komoditas agro Thailand yang mereka pasarkan ke Taiwan dan RRT. Proses pemasaran produk pertanian Thailand ke dua negeri tersebut relatif mudah. Sebab sebagian investor agroindustri di Thailand memang berasal dari dua negeri tersebut.

    Fungsi ekonomis bambu biara sebagai penghasil rebung di Thailand, tak terjadi di Indonesia. Di sini bambu biara justru berfungsi sebagai tanaman hias, yang seakan menjadi pagar hidup “wajib” bagi komplek bangunan apa pun. Mulai dari perkantoran, sekolah, perguruan tinggi, perumahan, pabrik, gudang, semua menggunakan bambu biara sebagai pagar hidup. Karakter rumpun bambu ini memang tampak indah, sekaligus efektif meredam angin, suara, dan polusi debu serta asap knalpot kendaraan. Kelebihan itu, ditambah pertumbuhan yang cepat, harga yang murah, telah menyebabkan bambu biara menjadi pagar hidup favorit di kota-kota besar di Indonesia, mulai dari Sumatera sampai ke Papua.

    Bambu biara memang tergolong jenis bambu yang mudah dibudidayakan. Masyarakat biasa menyebutnya sebagai “tanaman bandel”. Potongan satu batang bambu setinggi 1,5 sampai 2 meter, dengan beberapa ranting yang masih berdaun, dan bagian bonggol batang yang berakar, cukup untuk menjadi benih. Meskipun untuk amannya lebih baik menggunakan benih yang terdiri dari tiga batang bambu yang menyatu dalam satu potongan rumpun. Bonggol berikut batang sepanjang 1,5 sampai 2 meter dengan sedikir ranting berdaun, merupakan benih paling ideal. Benih bambu biara banyak dijual di tukang tanaman, bahkan paling banyak dipasarkan secara massal sebagai pagar.

    # # #

    Akan tetapi, jangan menyebut bambu biara ke penjual tanaman pinggir jalan. Sebab mereka pun hanya mengenal jenis tanaman ini sebagai “bambu jepang”. Satu potongan rumpun dengan dua atau tiga batang bambu, dijual dengan harga antara Rp 30.000 sampai Rp 40.000 tergantung dari kondisi tanaman, serta di mana kita membelinya. Harga ini relatif murah, dibanding dengan bambu hias lain. Misalnya bambu gading (Bambusa vulgaris), yang sebenarnya masih satu spesies dengan bambu ampel yang berwarna hijau, dan juga dengan bambu “perut budha” (Buddha’s belly bamboo). Tahun 1980an, bambu gading juga pernah sangat populer sebagai elemen taman, dengan harga yang juga tinggi.

    Belakangan popularitasnya kalah oleh bambu suci bali (sacred bali bamboo, Schizostachyum brachycladum), varietas berbatang kuning. Habitat asli Schizostachyum brachycladum sebenarnya bukan Bali, melainkan seluruh kawasan Asia Tenggara. Juga disebut “buluh lemang”, karena  buluh bambu Schizostachyum brachycladum varietas hijau merupakan wadah pembakar lemang. Harga satu rumpun benih bambu suci bali, paling murah Rp 75.000. Dengan kondisi tanaman bagus, dan di lokasi strategis, misalnya di depan TVRI Senayan, Jakarta Pusat, harga benih bambu suci bali bisa di atas Rp 100.000 per rumpun kecil. Melihat perbandingan harga ini, bambu biara memang paling murah.

    Sebenarnya bambu cendani (golden bamboo, fishpole bamboo, Phyllostachys aurea), lebih pantas disebut bambu jepang. Sebab bambu ini berasal dari Fujian dan Zheijang, RRC, dan sudah lama menyebar sampai ke Korea dan Jepang. Bambu cendani juga sudah lebih awal masuk ke Indonesia. Di sini, bambu cendani hanya bisa tumbuh di dataran tinggi (di atas 1.000 m. dpl), dan dipanen untuk dijadikan barang kerajinan. Dulu, ketika sapu masih bertangkai bambu, bambu cendani dipanen sebagai tangkai sapu. Sebelum ada fibreglass, batang lembing untuk olahraga atletik juga berbahan bambu cendani. Sebutan bambu biara sebagai “bambu jepang” merupakan salah kaprah yang hampir tidak mungkin diubah. Kalaupun nama bambu biara bisa dipopulerkan, paling banter hanya akan menjadi sebutan alternatif.  # # #

    Artikel pernah dimuat di Tabloid Kontan
    Foto : F. Rahardi

    About

    Leave a Reply

    Your email address will not be published. Required fields are marked *