GOLDENBERRY
by indrihr • 13/11/2017 • Buah, Sayur, Tanaman Hias, PERTANIAN • 0 Comments
Benarkan buah ciplukan, punya nilai ekonomis dan layak dibudidayakan? Tapi saya tak pernah melihat buah ini dijual di pasaran, baik pasar swalayan, apalagi pasar tradisional. Lalu di manakah saya bisa memperoleh benihnya? (Rukmini, Bandung).
Sdri Rukmini, benar buah ciplukan, ecenet, cecendet, nyur-nyuran, atau kopok-kopokan memang bernilai ekonomis; meski di pasar swalayan belum kelihatan ada yang menjualnya. Ada tiga jenis ciplukan yang tumbuh liar sebagai gulma di lahan pertanian di Indonesia. Pertama native gooseberry, wild cape gooseberry, dan pygmy groundcherry (Physalis minima). Kedua angular winter cherry, balloon cherry, cutleaf groundcherry, gooseberry, hogweed, wild tomato, (Physalis angulata). Ketiga goldenberry, Cape gooseberry (Physalis peruviana).

Ciplukan Physalis minima paling banyak dijumpai sebagai gulma di lahan pertanian. Tanamannya kecil, dengan batang dan daun cukup lebar, licin tak berbulu. Ciplukan Physalis angulata agak jarang dijumpai. Tanamannya juga kecil dengan daun kecil-kecil sedikit berbulu. Ciplukan Physalis peruviana berukuran paling besar, dengan daun kecil-kecil berbulu lebat. Ciplukan Physalis peruviana inilah yang paling banyak dibudidayakan dan diberi nama golden berry. Spesies ini juga relatif jarang bisa ditemui di lahan pertanian sebagai gulma.
Tiga spesies ciplukan ini merupakan anggota genus Physalis yang terdiri dari 124 spesies. Semua berasal dari Amerika Tropis. Dari namanya Physalis peruviana ciplukan ini jelas berasal dari Negara Peru di Amerika Selatan. Setelah Christopher Columbus “menemukan” Benua Amerika, tiga spesies ciplukan ini segera menyebar ke kawasan tropis di seluruh dunia, termasuk ke Indonesia. Awalnya, ciplukan dibawa ke Indonesia oleh bangsa Portugis dan kemudian Belanda; sebagai tanaman hias, karena penampilan buahnya yang cukup menarik.
Tapi kemudian di Amerika Serikat dan Eropa, ciplukan Physalis peruviana mulai dibudidayakan secara komersial untuk dipanen buahnya sebagai “goldenberry”. Bagi Bangsa Amerika, warna emas goldenberry, sangat menarik untuk dikombinasikan dengan warna merah strawberry, warna hitam blackberry, dan warna biru blueberry. Meskipun sudah lama berada di Indonesia, tampaknya masyarakat kita tak terlalu tertarik untuk mengonsumsi buah ini. Terbukti tak pernah ada yang berminat untuk membudidayakan dan memasarkannya.
Dengan adanya globalisasi transportasi, komunikasi dan informasi; generasi muda Indonesia jadi mengenal goldenberry. Mulailah ada permintaan. Maka belakangan ini goldenberry impor mulai sering tampak secara terbatas di pasar swalayan papan atas Indonesia. Di sebuah situs penjualan online, goldenberry ditawarkan seharga 1 dollar AS (Rp 13.000) per 100 butir, belum termasuk biaya pengiriman. Harga buah ciplukan impor rata-rata di atas Rp 200.000 per kg. Selama ini konsumen goldenberry Indonesia lebih banyak yang membeli buah ini secara online.
Buah goldenberry menarik perhatian konsumen ternyata bukan hanya karena warnanya yang kuning oranye mirip warna emas; melainkan terutama karena dianggap berkhasiat obat. Kalau kita klik “khasiat buah ciplukan” atau “the benefits of goldenberry”, maka akan tampil berderet penyakit yang bisa disembuhkan oleh buah ini. Tentu ini hanya merupakan hoax, karena tak pernah ada penelitian yang menunjukkan hasil farmakologis maupun klinis terhadap buah ini. Selain buah berrynya, ciplukan juga dimanfaatkan seluruh bagian tanamannya untuk pengobatan, dengan cara direbus lalu diminum air rebusan tersebut.
Belakangan ini Waaida Farm di Desa Pamulihan, Kecamatan Pamulihan, Kabupaten Sumedang, Jawa Barat; mulai mencoba membudidayakan goldenberry. Awalnya Waaida Farm hanya membudidayakan talas Pratama dan jambu kristal. Produk-produk Waaida Farm, sampai sekarang masih sebatas dipasarkan secara online, dan belum semua permintaan bisa terpenuhi. Sdri Rukmini, untuk memperoleh benih goldenberry, Anda bisa menghubungi Waaida Farm via FB atau Twitternya. Atau Anda bisa mencari buahnya dari tanaman liar sebagai gulma di ladang dan sawah. # # #
Artikel pernah dimuat di Harian Kontan
Foto : F. Rahardi
