• BRAZILIN DARI KAYU SECANG

    by  • 20/12/2017 • Perkebunan, PERTANIAN • 0 Comments

    Kalau Anda berkunjung ke Yogyakarta, jangan lupa menyempatkan diri menikmati wedang uwuh (minuman sampah). Disebut demikian karena ramuan yang diseduh jadi minuman itu sepintas tampak seperti sampah.

    Komponen utama wedang uwuh terdiri dari kayu secang, daun cengkih, daun pala, daun kayu manis, gagang (tangkai) bunga cengkih, atau bunganya, rimpang jahe, dan gula batu. Daun cengkih, daun pala, daun kayu manis, cengkih dan jahe berfungsi sebagai penghangat dan penghasil zat aromatik. Serutan kayu secang untuk memberi warna oranye kemerahan pada minuman. Gula batu sebagai pemanis. Meningkatnya pangsa pasar wedang uwuh, telah membuat kayu secang menjadi komoditas bisnis yang menarik. Tumbuhan yang selama ini hanya dikenal sebagai pagar hidup pembatas perkebunan besar, sekarang dicari-cari pembeli.

    kayu-secang-a
    Secang, sepang, sappanwood, Indian redwood, Caesalpinia sappan, merupakan perdu berkayu, suku (famili) polong-polongan (Fabaceae) dengan permukaan kulit batang, cabang dan ranting dipenuhi duri-duri tajam. Tinggi tanaman sekitar 10 meter, dengan tajuk tak beraturan. Daun majemuk ganda seperti daun lamtoro dan sengon, tetapi dengan helai daun berukuran lebih lebar. Bunga secang tumbuh pada ujung ranting berupa malai. Kelopak bunga berwarna kuning pucat, dengan kepala putik dan benang sari di bagian tengah. Polong secang berbentuk sangat khas, dengan ujung runcing berbentuk paruh burung.

    kayu-secang-1a
    Polong secang berwarna hijau terang waktu muda dan berubah menjadi cokelat gelap setelah tua. Panjang polong tujuh sentimeter dengan lebar empat sentimeter. Dalam satu malai terdapat lima sampai enam buah polong, dan masing-masing polong berisi empat sampai lima butir biji. Secang hanya bisa dikembangbiakkan secara generatif melalui biji. Benih secang berupa biji dipasarkan di kios/toko benih dan sarana pertanian, juga dalam situs-situs penjualan secara online. Konsumen benih secang, sampai saat ini masih pengusaha perkebunan, yang akan menanamnya sebagai pagar hidup yang sulit ditembus.

    # # #

    Penggunaan kayu secang sebagai minuman pertama-tama memang untuk membuat warna wedang uwuh menjadi kemerahan hingga menarik. Tapi selain itu, dalam kayu secang juga terkandung berbagai khasiat. Utamanya kayu secang berfungsi sebagai anti bakteri patogen dalam organ pencernaan, karena adanya kandung zat juglone (5-hydroxy-1,4-naphthoquinone). Dalam kayu secang juga terkandung zat homoisoflavonoids (sappanol, episappanol, 3′-deoxysappanol, 3′-O-methylsappanol, 3′-O-methylepisappanol, dan sappanone A). Zat-zat ini berkhasiat antikoagolan (anti penggumpalan darah), dan anti pembengkakan.

    Sebutan wedang uwuh memang merupakan trend baru. Tapi produk minuman berbahan baku serutan kayu secang, daun kayu manis, daun pala, gagang cengkih, dan jahe; sebenarnya merupakan resep Ayurvedic (Ayurveda), ilmu pengobatan India yang sudah berkembang paling tidak tahun 500 SM. Minuman kayu secang dan bahan-bahan lain ini kemudian dibawa oleh orang-orang India ke Jawa dan pernah sangat populer pada zaman Kerajaan-kerajaan Hindu. Kemudian ketika Islam dan budaya Eropa masuk Pulau Jawa, minuman kayu secang ini dilupakan. Baru belakangan minuman ini muncul lagi dengan nama wedang uwuh.

    Minuman wedang uwuh berwarna kemerahan, karena dalam kayu secang terkandung zat Brazilin (C16H14O5) yang merupakan pigmen warna merah. Dalam perdagangan internasional Brazilin dikenal sebagai Natural Red 24. Awalnya Brazilin hanya dimanfaatkan sebagai pewarna minuman. Kemudian pada tahun 1600an, diketemukan cara mengekstraksi Brazilin, dengan merendam serbuk kayu secang dalam larutan sodium hidroksida (NaOH) atau potasium hidroksida (KOH). Bersamaan dengan itu, di Brasilia, juga diketemukan kayu Brasil, Brazilwood, Caesalpinia echinata, yang masih satu genus dengan kayu secang.

    Sejak itulah Brazilin diproduksi massal dari kayu Brasil. Hasilnya digunakan sebagai pewarna kain. Waktu itu industri kain di Eropa sedang mencapai puncak kejayaannya, dan zat warna sintetis belum diketemukan. Akibat eksplorasi kayu Brasil secara besar-besaran, populasi tumbuhan ini di hutan tropis Brasilia terancam. Untunglah kemudian zat warna sintetis diketemukan, hingga eksplorasi kayu Brasil lebih terkendali. Trend penggunaan Brazilin sebagai pewarna makanan dan minuman, tak akan sampai memunahkan kayu Brasil. Sekarang pasokan Brazilin ke Eropa lebih mengandalkan kayu secang dari India, Srilanka, dan Thailand.

    # # #

    Zat warna merah untuk pangan, minuman dan kosmetik, terutama lipstick, memang harus dari bahan baku tumbuhan atau hewan. Kayu secang dan kayu Brasil hanya salah satu sumber warna merah, kuning, dan oranye. Selain itu zat warna merah alami juga diproduksi dari  rimpang kunyit (Curcuma longa), kayu mengkudu (Morinda citrifolia), biji galinggem (Bixa orellana), dan kutu cochineal (Dactylopius coccus) yang hidup pada kaktus pear Opuntia ficus-indica. Brazilin dari kayu secang dan kayu Brasil, punya kelebihan dibanding zat warna merah dari beberapa bahan tadi, karena adanya kasiat farmakologis.

    Nilesh P. Nirmal; Mithun S. Rajput; Rangabhatla G.S.V. Prasad; dan Mehraj Ahmad; merupakan pakar nutrisi, farmasi, dan pengobatan dari India. Mereka berempat telah meneliti khasiat Brazilin dari kayu secang. Hasil penelitian ini mereka tulis dengan judul Brazilin from Caesalpinia sappan heartwood and its pharmacological activities: A review, kemudian mereka muat dalam Asian Pacific Journal of Tropical Medicine; Volume 8, Issue 6, bulan Juni 2015. Empat pakar ini bukan hanya meneliti khasiat Brazilin dalam kayu secang, melainkan juga cara mengekstrak dan mengisolasi zat-zat aktifnya.

    Hasil penelitian tentang Brazilin dari kayu secang ini bisa diakses dari situs http://www.sciencedirect.com/science/article/pii/S1995764515000541. Produk Brasilin sebagai salah satu sumber zat warna merah, selama ini kurang begitu dikenal, karena kalah populer dari kunyit dan galinggem. Harga zat warna alami ini, termasuk Brazilin, berkisar antara 30 sampai dengan 50 dollar AS (Rp 390.000 sampai dengan Rp 650.000 per kemasan 500 gram (0,5 kilogram). Cukup tinggi, sebab secara kuantitas zat warna alami dari bahan tumbuhan dan hewan ini memang masih sangat langka keberadaannya di pasaran.

    Belakangan ini memang mulai ada minat untuk membudidayakan kayu secang, guna memenuhi permintaan kebutuhan pasar wedang uwuh. Namun kebutuhan tersebut masih belum memerlukan budi daya kayu secang secara massal. Padahal di India, Srilanka dan Thailand, kayu secang telah dibudidayakan secara massal, untuk diolah menjadi Brazilin. Setelah kayu Brasil di Amerika Latin terancam keberadaannya, kebutuhan Brazilin untuk pasar Uni Eropa lebih mengandalkan kayu secang dari India, Srilanka dan Thailand. Indonesia, semestinya bisa menangkap peluang seperti ini. # # #

    Artikel pernah dimuat di Tabloid Kontan
    Foto : F. Rahardi

    About

    Leave a Reply

    Your email address will not be published. Required fields are marked *