• BURAHOL SEBAGAI DEODORAN ALAMI

    by  • 24/01/2018 • Buah, Sayur, Tanaman Hias, PERTANIAN • 0 Comments

    Ketika seseorang menyantap petai atau jengkol, urine akan beraroma petai dan jengkol. Ketika banyak mengonsumsi bawang putih, keringat akan beraroma bawang. Nah, ketika kita menyantap buah burahol, urine dan keringat sekaligus akan beraroma harum burahol.

    Burahol, kepel, Stelechocarpus burahol, merupakan buah endemik Asia Tenggara. Tetapi buah ini hanya populer di Pulau Jawa, khususnya di Jawa Tengah dan DIY. Di luar kawasan itu, buah burahol tak terlalu dikenal, dan juga tak terperhatikan. Sebagai buah identitas Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta, burahol bisa dijumpai di lingkungan keraton Kasultanan, dan di beberapa halaman bangunan di Kota Yogyakarta. Di Jakarta dan sekitarnya, burahol antara lain bisa dijumpai di Taman Monumen Nasional (Monas), Taman Mini Indonesia Indah, Taman Buah Mekarsari, dan Kebun Raya Bogor. Habitat asli burahol mulai dari elevasi 0 meter (m) di atas permukaan laut (dpl), sampai 600 m dpl.

    Pohon burahol tumbuh tegak sampai ketinggian 25 meter, dengan diameter batang mencapai 40 sentimeter. Warna kulit batang coklat tua dan dipenuhi tonjolan tempat tumbuh bunga dan buah. Meskipun ada yang tumbuh di cabang, buah burahol paling banyak tumbuh di permukaan kulit batang. Pada saat berbuah, batang dan cabang utama burahol akan dipenuhi oleh bulatan-bulatan buah berwarna coklat muda. Ketika buah sudah habis, di batang yang penuh dengan tonjolan itu akan tertinggal tangkai buah burahol yang mengering. Tangkai buah ini akan mengering dan kemudian lapuk menjelang saat berbuah pada musim berikutnya.

    burahol-a
    Daun burahol berbentuk jorong sampai lanset, panjang 12-27 sentimeter dan lebar 5-9 sentimeter, berpermukaan licin berwarna hijau gelap. Bunganya burahol berkelamin tunggal, muncul pada tonjolan kulit batang dan cabang. Bunga jantan berkelompok sebanyak 8-16 kuntum, dengan diameter 1 sentimeter. Bunga betina yang berukuran lebih besar tetapi berjumlah lebih sedikit, berada di antara kelompok bunga jantan. Diameter bunga jantan mencapai 3 cm. Keunikan burahol, pertama-tama pada biji buahnya. Biji buah burahol bukannya terletak membujur searah dari  pangkal ke ujung buah, melainkan melintang. Biji buah juga berukuran cukup besar, berjumlah tiga biji hingga porsi daging buah yang bisa dikonsumsi relatif kecil.

    # # #

    Pengelola gedung perkantoran, dan sarana umum, belakangan mulai tertarik menanam burahol sebagai pohon pelindung maupun elemen taman. Sebagai pohon pelindung, para pemilik bangunan ini tertarik pada kerapatan dan bentuk tajuk burahol. Daun-daun burahol tumbuh pada ranting dan cabang yang sangat rapat, hingga efektif meredam panas matahari. Kerapatan tajuk burahol ini hanya bisa ditandingi oleh pohon biola cantik, fiddle-leaf fig, Ficus lyrata. Bila ditanam di tempat terbuka, bentuk tajuk burahol akan meruncing simetris. Bentuk runcing tajuk burahol relatif proporsional, tidak seperti bentuk tajuk cemara yang cenderung ramping dan meninggi.

    Secara periodik setahun sekali burahol akan menumbuhkan daun-daun  mudanya berwarna pink; tanpa merontokkan daun tuanya. Pada saat itu, daun-daun tua yang berwarna hijau gelap akan “tenggelam” oleh warna pink daun-daun muda di pucuk burahol. Inilah puncak keindahan burahol sebagai elemen taman. Bunga dan buah burahol bukan menjadi pertimbangan utama pada perancang taman dan pemilik bangunan. Selain faktor estetika, burahol juga digemari sebagai elemen taman dan pohon pelindung karena berumur panjang sampai ratusan tahun. Pohon ini baru mulai berbuah pada umur antara tujuh sampai dengan 10 tahun sejak tanam di lapangan.

    Meskipun disebut kepel (kepalan tangan), ukuran buah kepel tidak pernah mencapai ukuran sekepalan tangan orang dewasa. Diameter buah hanya sekitar 7 cm. Pada bagian pangkal buah ada tonjolan yang menghubungkan kulit buah dengan tangkai. Ketika buah masak, bagian ini akan lepas, hingga buah berjatuhan. Sementara tangkai buah tetap melekat pada tonjolan kulit batang pohon. Kepel termasuk buah non klimatorik yang tidak bisa diperam, hingga harus ditunggu sampai buah itu benar-benar masak pohon. Tanda kemasakan burahol, apabila ukuran buah sudah cukup besar, kulit mulai mengkilap dan berwarna cerah, dan buah mudah sekali lepas dari tangkainya. Buah yang masih kuat melekat pada tangkai buah, tidak bisa dipetik paksa. Sebab meskipun sudah cukup tua, buah yang dipetik paksa ini tidak akan pernah bisa masak dan bisa dikonsumsi.

    Meskipun volume daging buah relatif kecil, karena besarnya ukuran biji yang cukup besar, burahol cukup banyak penggemarnya. Di Taman Wisata Mekarsari, buah burahol tidak pernah masuk sampai ke counter buah, dan selalu habis karena sudah dipesan jauh hari sebelum panen. Ini disebabkan karena rasa daging buah yang manis, dengan aroma khas, gabungan antara aroma bunga mawar, dengan aroma buah sawo manila. Aroma ini sedemikian kuatnya hingga akan tetap tercium apabila si pemakan burahol berkeringat dan buang air kecil. Karena kelebihan inilah maka burahol dijadikan “deodorant alami” oleh para puteri keraton pada zaman dahulu. Siapa pun yang mengonsumsi buah burahol, bau keringat dan urinenya akan beraroma harum khas aroma buah burahol.

    # # #

    Khasiat burahol sebagai dedorant alami, bukan hanya disebabkan oleh aroma daging buah itu sendiri, melainkan juga oleh kandungan zat dalam daging buah yang berkhasiat mengaktifkan bakteri Bifidobacter dalam organ pencernaan. Bakteri Bifidobacter bersifat probiotik, yang mencegah pertumbuhan bakteri lain, terutama yang bersifat patogen dan menimbulkan bau busuk. Selain sebagai deodorant alami, burahol juga berkhasiat diuretik (melancarkan air seni), dan meredakan radang ginjal. Apabila dikonsumsi rutin selama musim buah, burahol juga berkhasiat mencegah kehamilan. Karenanya, di lingkungan Keraton Yogyakarta, burahol juga dijadikan sarana KB. Belakangan daging buah burahol juga diketahui berkhasiat antihyperuricemic, yakni membantu menurunkan kadar asam urat dalam tubuh.

    Meskipun mampu menimbulkan aroma harum pada urine dan keringat, buah burahol sendiri malah tidak beraroma harum. Meskipun buah sudah dibuka kulitnya, tetap tak tercium aroma menyengat seperti halnya mangga bacang, pakel, Mangifera odorata; atau malah durian. Sebaliknya, apabila kita mengonsumsi mangga bacang atau durian, urine dan keringat juga tak akan menjadi harum seperti halnya saat kita mengonsumsi burahol. Yang bisa menandingi khasiat burahol sebagai deodorant alami malah aneka sayuran sebagai lalap khas Sunda. Misalnya poh-pohan, Pilea melastomoides; tespong, Oenanthe javanica; dan putat, Planchonia valida. Dengan catatan, lalap khas Sunda itu tidak dikonsumsi tunggal, melainkan bersama-sama, dalam porsi seimbang.

    Sayangnya, fenomena burahol ini baru disikapi oleh pemerintah, dengan menjadikan burahol sebagai buah identitas DIY, dan bukan dengan membudidayakannya secara luas, minimal sebagai tumbuhan peneduh. Di DIY sendiri, tumbuhan peneduh lebih banyak didominasi oleh trembesi (ki hujan, Albizia saman, Samanea saman) yang sebenarnya bukan tumbuhan asli Indonesia, melainkan berasal dari Amerika Tropis. Burahol sebagai identitas DIY, baru sebatas slogan, dan belum diaplikasikan di lapangan. Pengembangan burahol secara massal, antara lain juga disebabkan oleh sulitnya perkembangbiakan. Selama ini biji burahol termasuk yang sulit dikecambahkan. Buah ini juga hanya bisa dikembangbiakkan secara generatif melalui biji. Sampai sekarang belum pernah ada upaya sambung pucuk dan okulasi benih burahol. # # #

    Artikel pernah dimuat di Tabloid Kontan
    Foto : F. Rahardi

    About

    Leave a Reply

    Your email address will not be published. Required fields are marked *