• UPAYA PENANGGULANGAN LALAT BUAH

    by  • 06/03/2018 • Buah, Sayur, Tanaman Hias, PERTANIAN • 0 Comments

    Dinas Pertanian Kabupaten Karo, Sumatera Utara, memperkirakan ada 12.000 hektar lahan jeruk di kabupaten ini. Di Kecamatan Tigapanah dan Barusjahe, rata-rata seluas 60% dari areal tanaman jeruk gagal panen akibat serangan lalat buah.

    Di Kecamatan Simpang Empat gagal panen akibat lalat buah mencapai 30% dari luas areal. Tanpa penanggulangan lalat buah, dari produksi jeruk rata-rata sebesar 350.000 ton sebanyak  150.000 ton (42,8%) mengalami kerusakan. Dengan harga rata-rata Rp. 3.300 per kilogram, kerugian akibat hama lalat buah per tahun mencapai Rp 0,5 triliun. Ini baru di sebuah kabupaten sentra jeruk di Indonesia. Belum kerugian yang dialami para petani buah-buahan dan sayuran. Lalat buah genus Bactrocera, terutama Bactrocera dorsalis memang merupakan hama buah dan sayuran nomor satu di dunia.

    lalat-buah
    Buah-buahan yang menjadi sasaran antara lain belimbing, jambu biji, jambu air, mangga, jeruk, bahkan juga durian. Sayuran yang diserangnya antara lain cabai, tomat, timun, gambas. Masyarakat mengenal lalat buah ini sebagai “ulat”. Belimbing dan jambu air yang terserang lalat buah, akan busuk dan jatuh. Kalau kita buka, bagian yang  busuk itu tampak “berulat”. Yang disebut “ulat” sebenarnya merupakan larva lalat buah. Larva inilah yang sebenarnya menjadi hama utama komoditas buah dan sayuran. Asia Tenggara termasuk Indonesia merupakan habitat asli lalat buah Bactrocera. Kerugian petani akibat serangan Bactrocera sangat besar.

    Selama ini serangan lalat buah dikendalikan dengan pembungkusan buah menggunakan berbagai bahan. Ini tidak hanya dilakukan di Indonesia, melainkan juga di Malaysia dan Thailand. Di Pingtung County, Taiwan, seluruh areal kebun belimbing dan jambu air ditutup dengan net. Meskipun masih dibungkus kertas, tujuannya untuk mencegah buah kena hujan dan sinar matahari. Sebab dengan pemasangan net 100%, lalat buah memang tidak bisa masuk. Di Taman Buah Mekarsari pernah diujicoba penggunaan net terhadap beberapa pohon belimbing. Dampaknya tanaman tidak bisa berbuah, karena serangga penyerbuk juga tidak bisa masuk.

    # # #

    Pengendalian lalat buah dengan insektisida, terlebih insektisida sistemik, tidak mungkin diaplikasikan karena akan membahayakan kesehatan konsumen. Sebab buah dan sayuran merupakan produk yang akan dikonsumsi manusia. Penggunaan insektisida untuk membasmi lalat buah, beresiko meninggalkan residu dalam buah-buahan dan sayuran yang akan dikonsumsi manusia. Maka selama ini lalat buah Bactrocera dorsalis lebih banyak dikendalikan dengan perangkap menggunakan gabungan methyl eugenol dan amoniak. Dulu perangkap demikian menggunakan botol air kemasan, yang ujungnya dipotong dan dipasang kembali secara terbalik.

    Ke dalam botol itu ditaruh kapas dengan cairan methyl eugenol serta amoniak. Gabungan aroma ini akan menarik lalat jantan untuk masuk ke dalam botol. Karena ujung botol sudah dipasang terbalik seperti bubu, maka lalat buah jantan yang masuk tak bisa keluar. Dalam botol itu ditaruh air dengan pestisida kontak. Maka lalat buah akan terjatuh ke dalam air berpestisida dan mati. Cara ini tidak praktis hingga kemudian jarang digunakan. Sekarang lebih banyak digunakan methyl eugenol dan amoniak, yang dicampurkan ke dalam lem berpestisida, dan dioleskan di lembaran plastik, triplek, atau di atas permukaan botol.

    Lalat jantan yang tertarik dengan aroma methyl eugenol dan amoniak, akan menempel ke lem berpestisida tadi lalu mati. Cara inilah yang sekarang umum diaplikasikan di banyak kebun buah, selain dengan pembungkusan. Sebenarnya lalat buah juga sangat tertarik terhadap aroma resin, yang keluar dari permukaan bunga gardenia Samoa (Samoan Gardenia, Tabernaemontana africana). Tabernaemontana merupakan genus tanaman hias famili Apocynaceae, yang terdiri dari 118 spesies, dengan habitat asli tersebar di Afrika terutama Madagaskar, Asia, dan Amerika. Lazimnya, genus Tabernaemontana disebut sebagai tanaman “kayu susu”, karena kayunya bergetah putih mirip susu.

    Bunga mondokaki (Tabernaemontana divaricata), merupakan salah satu genus Tabernaemontana yang sudah sangat dikenal oleh masyarakat Indonesia. Mondokaki sangat dikenal di Indonesia, karena tanaman ini berhabitat asli India Utara, Bangladesh, Myanmar, sampai ke Thailand. Tak diketahui dengan jelas, kapan tanaman Mondokaki masuk Indonesia, tetapi sebarannya sudah sangat merata, dengan populasi yang cukup besar. Umumnya mondokaki ditanam sebagai pagar hidup, atau (pembatas) border di taman-taman. Meskipun mondokaki  masih satu genus dengan gardenia Samoa, tetapi lalat buah tak tertarik pada bunganya.

    # # #

    Sesuai dengan namanya, Tabernaemontana africana, gardenia Samoa berasal dari Afrika. Dibanding mondokaki, sosok tanaman gardenia Samoa lebih tinggi. Daunnya juga lebih lebar, dan lebih kaku. Bunga gardenia Samoa juga berukuran lebih besar dibanding bunga mondokaki. Warna bunga gardenia Samoa juga putih seperti halnya bunga mondokaki. Bedanya, bunga gardenia Samoa akan sering dikerubuti lalat buah. Apabila tanaman hias ini dibudidayakan secara massal sebagai pagar di areal kebun buah atau sayuran, maka tanpa harus mengeluarkan biaya perangkap methyl eugenol, lalat buah sudah akan terkumpul.

    Tanaman gardenia Samoa, bisa diperbanyak secara vegetatif melalui cangkokan, maupun biji. Melalui stek juga bisa, tetapi persentase hidupnya tidak sebaik cangkok. Biji gardenia Samoa berasal dari sepasang buah yang berbentuk bulat, berdiameter enam sentimeter. Buah gardenia Samoa berwarna hijau saat muda, dan menjadi kuning ketika masak. Dalam buah inilah terdapat biji, yang harus dihilangkan pulpnya sebelum disemaikan. Perkecambahan biji memerlukan waktu sekitar dua minggu sampai satu bulan, dalam pot berisi pasir. Setelah berkecambah, biji bisa dipindahkan ke pot persemaian.

    Di kawasan yang basah sekitar Bogor dan Jakarta, gardenia Samoa sangat jarang berbuah, hingga perbanyakan dengan cangkokan lebih memungkinkan. Bunga gardenia Samoa juga tak selebat mondokaki. Terlebih, mondokaki yang sekarang banyak menghiasi taman, umumnya sudah merupakan hibrida, yang diciptakan agar berbunga lebat. Untuk memperlebat buah, tanaman gardenia Samoa perlu pemupukan fosfat (P) secara rutin. Unsur ini bisa diperoleh dari pupuk NPK, SP, atau fosfat alam. Pupuk organik yang mengandung banyak P hanyalah kotoran ayam petelur, kotoran walet, dan guano.

    Mengingat lalat buah sudah merupakan “hama nasional” yang sangat merugikan petani, penanggulangannya tidak bisa hanya dengan menggunakan satu cara. Pembungkusan buah, merupakan cara paling efektif, tetapi sekaligus berbiaya paling tinggi. Perangkap lem dengan pestisida, methyl eugenol dan amoniak, juga merupakan salah satu cara penanggulangan. Gardenia Samoa menjadi alternatif mengumpulkan lalat buah secara murah dalam jangka panjang. Setelah lalat mengerumuni bunga, tinggal membasmi dengan cara menyemrot, atau memerangkapnya. # # #

    Artikel pernah dimuat di Tabloid Kontan

    About

    Leave a Reply

    Your email address will not be published. Required fields are marked *