JERUK SUKADE DAN TANGAN BUDDHA
by indrihr • 28/05/2018 • Buah, Sayur, Tanaman Hias, PERTANIAN • 0 Comments
Di Indonesia, jeruk sukade, sitrun (citron, Citrus medica); dan varietasnya yang disebut jeruk tangan Buddha, jari Buddha (Buddha’s hand citron); hanya dikenal sebagai tanaman hias. Sebagian masyarakat malah menganggapnya sebagai jeruk aneh.
Oleh sebagian masyarakat, sukade malahan dianggap sebagai hasil persilangan antara jeruk dengan pepaya, hingga disebut sebagai jerpaya (jeruk pepaya). Bentuk Citrus medica memang bervariasi dari bulat, lonjong seperti pepaya, sampai menjadi pada jeruk tangan Buddha. Sukade berbentuk lonjong inilah yang disebut jerpaya. Sejak dekade 1980 beberapa media cetak, radio dan televisi; telah memberitakan keberadaan jerpaya sebagai jeruk ajaib, hasil persilangan jeruk dengan pepaya. Akibat publikasi, orang berbondong-bondong datang untuk melihat tanaman ajaib ini. Pemilik jerpaya memagari tanaman mereka, kemudian memungut biaya dari pengunjung.

Genus Citrus, selama ini lebih dikenal sebagai buah. Misalnya jeruk keprok (mandarin, Citrus nobilis, Citrus reticulata); jeruk manis (orange, Citrus sinensis); jeruk bali (pomelo, Citrus maxima); jeruk grapefruits (Citrus paradisi). Selain sebagai buah, genus Citrus juga dikenal sebagai jeruk masam (lime) untuk minuman dan bumbu. Misalnya jeruk lemon (Citrus limon), jeruk nipis (Citrus aurantiaca). Ada pula yang dimanfaatkan daunnya sebagai bumbu dan penghasil minyak asiri. Misalnya jeruk purut (kaffir lime, Citrus hystrix). Sukade, termasuk variannya jeruk tangan Buddha; justru dimanfaatkan kulitnya yang tebal. Daging buahnya yang berada di bagian tengah dengan volume sangat kecil, justru tak dimanfaatkan.
Meskipun ada varian Citrus medica yang berbentuk bulat, berukuran lebih kecil, dengan kulit buah relatif tipis. Varian citron seperti ini dibudidayakan untuk dimanfaatkan air buahnya sebagai minuman dengan aroma segar khas citron. Aroma citron lain dengan aroma lemon dan jeruk nipis. Tingkat kemasaman citron juga tak setinggi lemon dan jeruk nipis. Pada zaman Hindia Belanda, citron dengan buah bulat dan kulit tak terlalu tebal, dibudidayakan sebagai batang bawah untuk disambung dengan entres jeruk keprok atau jeruk manis. Kadang varian citron ini juga ditanam di halaman rumah Belanda. Pada zaman itu minuman citron cukup populer di kalangan Bangsa Belanda.
# # #
Peran citron sebagai penghasil buah, baik untuk dimanfaatkan kulit tebalnya maupun air dalam daging buah; tak seberapa penting dibanding perannya sebagai spesies induk. Lemon (Citrus limon), Key lime (Citrus aurantiifolia), dan bitter orange (Citrus × aurantium); merupakan spesies hasil hibrida alami antara jeruk masam dengan citron. Para ahli jeruk, bahkan memperkirakan pada awalnya hanya ada tiga spesies jeruk, yakni keprok asli (true mandarins Citrus reticulata), jeruk bali (pomelo, Citrus maxima) dan sukade (citron, Citrus medica). Dari tiga spesies “tua” ini terciptalah hibrida alami, yang pada akhirnya menjadi spesies-spesies baru. Lemon misalnya merupakan silangan antara bitter orange, Citrus × aurantium dengan citron. Padahal bitter orange sendiri juga merupakan hibrida alami antara salah satu jeruk masam dengan citron.
Hasil studi Deoxyribonucleic acid (DNA), ketahuan bahwa leluhur genus Citrus, pertamakali tumbuh di pegunungan Himalaya. Penyimpangan dari kerabat terdekatnya sesama suku jeruk-jerukan (Rutaceae), hingga membentuk genus Citrus; terjadi sekitar 15 juta tahun yang lalu. Sekitar tujuh juta tahun yang lalu, leluhur genus Citrus terpecah menjadi dua kelompok, yakni kelompok utama sebagai induk, dan pecahannya yang menjadi leluhur trifoliate orange, Citrus trifoliata. Dari sinilah kemudian tercipta hibrida-hibrida baru yang menghasilkan tiga spesies utama jeruk: keprok, bali dan sukade. Keprok dan bali menyebar ke tenggara, termasuk ke Indonesia, dan timur (daratan Tiongkok). Sukade menyebar ke barat (Timur Tengah) dan timur (daratan Tiongkok).
Sukade yang menyebar ke kawasan gurun di barat, menghasilkan kultivar dengan kulit tebal dan daging buah mengecil di bagian tengah. Ini merupakan upaya tanaman untuk bisa menyimpan lebih banyak air. Tanaman sukade yang berkembang di kawasan gurun juga cenderung memendek, dengan percabangan menyebar. Sukade yang menyebar ke daratan Tiongkok, kemudian menghasilkan kultivar dengan buah yang terpecah di bagian ujungnya. Kultivar inilah yang disebut sebagai jeruk tangan Buddha. Sukade yang menyebar ke kawasan tropis di Asia Tenggara, termasuk Indonesia, cenderung berbatang meninggi, karena harus bersaing dengan tanaman lain untuk memperebutkan cahaya matahari. Ukuran buah juga mengecil, dengan kulit lebih tipis.
Kultivar sukade tropis inilah yang disukai oleh Bangsa Belanda sebagai bahan minuman dan mereka sebut citron. Orang-orang Indonesia menyebutnya dengan nama “jeruk sitrun”.Selain untuk minuman, jeruk sitrun yang sebenarnya merupakan sukade tropis ini juga dibudidayakan untuk dipanen bijinya. Biji jeruk sitrun ini kemudian disemai sebagai batang bawah, untuk disambung dengan entres jeruk keprok dan jeruk manis. Baru belakangan batang bawah untuk jeruk keprok dan jeruk manis menggunakan rough lemon (RL) dan Japanese citrus (JC). Sukade dan jeruk tangan Buddha yang dibudidayakan secara terbatas di kawasan dataran tinggi di Indonesia, baru didatangkan Bangsa Belanda belakangan ini.
# # #
Potensi bisnis sukade sebagai penghasil manisan, marmalade, atau untuk garnish; secara ekonomis tak terlalu menjanjikan. Meskipun di RRT, banyak petani yang membudidayakan jeruk tangan Buddha untuk dikonsumsi sebagai manisan, marmalade, garnish, sayuran dan terutama untuk bahan pengobatan tradisional. Di India sukade juga merupakan bahan obat tradisional Ayurveda. Nilai ekonomis sukade berkulit tebal, yang lebih populer sebagai jerpaya, dan jeruk tangan Buddha; justru sebagai penghasil minyak asiri. Selama ini beberapa jenis jeruk memang dibudidayakan sebagai penghasil minyak asiri. Misalnya jeruk purut, bergamot, jeruk nipis, lemon, bahkan juga jeruk keprok.
Yang menjadi kendala, jenis-jenis jeruk itu juga diperebutkan untuk keperluan lain. Jeruk purut dan jeruk nipis, di negeri kita lebih banyak diserap untuk bumbu dapur. Sampai sekarang kita masih kekurangan jeruk purut dan jeruk nipis, hingga pada akhir musim kemarau dan awal musim penghujan harga komoditas ini bisa melambung tinggi. Kulit jeruk keprok memang berpotensi untuk didestilasi menjadi minyak asiri. Tetapi jeruk keprok merupakan buah konsumsi yang akan dipasarkan segar berikut kulitnya. Dalam industri konsentrat jeruk, kulit jeruk keprok dan jeruk manis, akan lebih ekonomis apabila diolah menjadi marmalade, bukan menjadi minyak asiri.
Karenanya, satu-satunya spesies Citrus yang berpotensi diolah menjadi minyak asiri hanyalah sukade berkulit tebal dan jeruk tangan Buddha. Tetapi, produksi minyak asiri tidak mungkin hanya mengandalkan satu jenis bahan. Paling sedikit, agroindustri minyak asiri punya lima tanaman sebagai bahan baku. Semakin banyak jenis tanaman, akan semakin kuat agroindustri ini. Lima tanaman itu misalnya nilam, sereh wangi, akar wangi, kenanga dan ylang-ylang, dan jeruk sukade. Kalau seorang pekebun hanya akan menanam sukade atau jeruk tangan Buddha, maka produk yang akan dihasilkan bisa berupa manisan, marmalade, herbal (simplisia) sebagai bahan obat tradisional, dan terakhir minyak asiri, yang akan diolah lebih lanjut menjadi parfum. # # #
Artikel pernah dimuat di Tabloid Kontan
Foto : F. Rahardi
