PELUANG BUDIDAYA MAKADAMIA
by indrihr • 23/07/2018 • Perkebunan, PERTANIAN • 0 Comments
Badan Pusat Statistik (BPS), mencatat tahun 2017 Indonesia mengekspor makadamia gelondong dan kupas 260 kilogram senilai 2.578,08 dollar AS. Dengan kurs 1 dollar AS Rp 13.781, nilai makadamia itu Rp 35.528.520,48, atau per kilogram Rp 136.648,15.
Tetapi pada tahun 2017, Indonesia juga mengimpor makadamia kupas dengan volume 6.862 kilogram, senilai 145.100 dollar AS atau Rp 1.999.623.100 (Rp 1,9 miliar), atau per kilogram Rp 291.405,29. Harga per kilogram makadamia impor, dua kali lipat lebih dibanding harga eskpor makadamia kita. Ekspor makadamia Indonesia, berasal dari Perkebunan Kopi Kalisat Jampit, PT Perkebunan Nusantara XII di Pegunungan Ijen, Jawa Timur. Perkebunan kopi arabika ini, menanam makadamia sebagai peneduh jalan, dan sudah memroduksi kacang makadamia sejak dekade 1980. Pohon induk makadamia di Kalisat Jampit, ditanam pada dekade 1920, saat pembukaan kebun pada zaman Belanda. Selain di Kalisat Jampit, pohon induk makadamia juga ada di Kebun Raya Cibodas, Balai Penelitian Tanaman Sayuran (Balitsa), dan Kebun Percobaan Manoko (Lembang), di Jawa Barat.

Meskipun masih sangat kecil, ekspor makadamia Indonesia itu menandakan adanya peluang untuk membudidayakan komoditas ini. Jangan dibandingkan dengan ekspor biji mete. Pada tahun 2017, Indonesia mengekspor biji mete kupas sebesar 5.924,9 ton, dengan nilai 58.575.274,26 dollar AS, atau Rp 807.225.854.577,06 (Rp 807,2 miliar); dan mete gelondongan sebesar 54.875,2 ton dengan nilai 112.578.087,74 dollar AS atau Rp 1.551.438.627.144,94 (Rp 1,5 triliun). Indonesia memang salah satu negara penghasil mete utama dunia. Dari 10 besar penghasil mete utama dunia, Indonesia berada pada peringkat delapan, di bawah Nigeria, India, Vietnam, Pantai Gading, Benin, Filipina, dan Guinea-Bissau. Brasil dan Burkina Faso berada pada peringkat 9 dan 10, di bawah Indonesia.
Indonesia masih belum dianggap sebagai negara penghasil makadamia. Sepuluh besar penghasil makadamia dunia adalah Australia 40.000 (ton); Afrika Selatan 34,5; AS (Hawaii, 22,2); Kenya 19,7; Guatemala 7,2; Malawi 5,2; Brasil 4,4; RRT 3 Kostarika 1,3 dan Kolumbia 1,2. Wajar Australia menjadi penghasil makadamia terbesar di dunia, sebab komoditas ini memang asli Australia. Sebenarnya, Australia pernah “kecolongan”. Makadamia baru diketemukan (diketahui) oleh Dunia Barat, tahun 1828. Seorang ahli botani Inggris bernama Allan Cunningham yang datang ke Australia untuk eksplorasi tumbuhan; telah menemukan jenis nut baru ini. Namun Australia sendiri cuek. Yang menangkap peluang budidaya makadamia justru Hawaii dan Afrika Selatan. Baru belakangan Australia menyadari kesalahan ini, dan membudidayakan makadamia secara besar-besaran.
# # #
Makadamia (genus macadamia), merupakan tumbuhan famili Proteaceae, terdiri dari lima spesies: Macadamia francii, Macadamia integrifolia, Macadamia neurophylla, Macadamia ternifolia, dan Macadamia tetraphylla. Yang dibudidayakan sebagai penghasil kacang makadamia, spesies Macadamia tetraphylla. Spesies inilah yang juga diintroduksi pemerintah Hindia Belanda ke Indonesia. Sebagai tumbuhan subtropis, Makadamia hanya tumbuh baik di dataran tinggi di Indonesia. Dataran tinggi Ijen, Cibodas, dan Lembang merupakan kawasan dataran tinggi, dengan elevasi lebih dari 1000 meter di atas permukaan laut (dpl). Dari hasil pengamatan di tiga lokasi penanaman, makadamia yang tumbuh di dataran tinggi Ijen paling produktif dengan kualitas buah paling baik. Ini disebabkan karena makin ke timur, posisi tempat di Pulau Jawa juga makin ke selatan, hingga makin menjauhi katulistiwa, yang berarti akan semakin kering.
Sebagai tumbuhan sub tropis, makadamia bukan hanya menghendaki suhu udara dingin kawasan pegunungan, melainkan juga yang kering (kelembapan udara rendah). Maka dugaan saya, kawasan dataran tinggi NTT paling potensial untuk mengembangkan makadamia. Sebab tingkat kekeringan kawasan NTT pasti lebih tinggi dibanding Pulau Jawa. Ruteng, Bajawa, Ende, Maumere, Timor Tengah Selatan (TTS), dan kawasan pegunungan di Pulau Sumba paling berpeluang untuk membudidayakan makadamia. Pada waktu Ben Boi menjadi Gunernur NTT, TTS pernah mencoba mengembangkan buah-buahan subtropis, termasuk apel. Hasilnya cukup baik. Tetapi waktu itu terkendala masalah pemasaran. Makadamia pun akan berhasil cukup baik dikembangkan di TTS dan kawasan pegunungan lain di NTT. Di kawasan kering ini, makadamia agak toleran dengan faktor ketinggian, hingga masih cukup baik dibudidayakan pada elevasi antara 800 dan 900 meter dpl.
Pada waktu dibangun tahun 1992, Taman Buah Mekarsari juga mencoba menanam makadamia dan kesemek (kledung, buah genit, persimmon, Diospyros kaki). Agak aneh juga bahwa dua jenis tanaman pegunungan ini bisa berbuah pada elevasi 100 meter dpl. Makadamianya berukuran normal, tapi dalam satu pohon hanya terdapat kurang dari lima butir buah. Persimonnya berbuah cukup banyak, lebih dari 10 buah per pohon, tapi ukuran buahnya mengecil. Ukuran tanaman makadamia normal, sedangkan persimonnya menjadi kerdil. Fenomena makadamia dan persimon di Taman Buah Mekarsari ini, memberi inspirasi bahwa dua komoditas ini berpeluang dikembangkan di dataran menengah (400 – 800 meter dpl), di kawasan kering, terutama di NTT. Kalau di dataran rendah basah pun mau berbuah, di dataran menengah kering hasilnya pasti lebih baik.
# # #
Belakangan ini benih makadamia mulai ditawarkan melalui media digital (online). Beberapa di antara mereka memberi kesan bahwa benih yang mereka jual berasal dari Australia. Mereka mengklaim, benih yang mereka pasarkan merupakan benih okulasi (sambung mata tempal), yang akan bisa berbuah pada umur lebih pendek. Informasi yang disampaikan oleh para penjual benih makadamia online ini ada yang menyesatkan. Misalnya, disebutkan bahwa makadamia cocok dibudidayakan di dataran rendah sampai menengah. Padahal yang benar makadamia hanya bisa berproduksi baik di dataran tinggi, elevasi di atas 1000 meter dpl, di kawasan kering. Sampai sekarang belum ada perkebunan makadamia skala komersial, yang terletak di dataran menengah, apalagi di dataran rendah. Makadamia Kalisat Jampit, juga hanya berupa tanaman peneduh di perkebunan kopi arabika.
Dalam situs penjual benih itu juga disebutkan makadamia Bondowoso. Perkebunan Kopi Arabika Kalisat Jampit yang membudidayakan makadamia, memang terletak di Kabupaten Bondowoso. Sebutan makadamia Bondowoso, mengesankan bahwa makadamia berasal dari kota Bondowoso yang dengan elevasi 258 meter dpl. Padahal lokasi penanaman makadamia Kalisat Jampit di Pegunungan Ijen, berelevasi di atas 1000 meter dpl. Informasi ini akan menjebak konsumen, bahwa makadamia bisa dibudidayakan di dataran menengah sampai rendah. Sumber benih makadamia yang mereka tawarkan juga tak pernah disebutkan dengan jelas. Agar tak mendapatkan benih dan informasi keliru, pada calon pekebun disarankan untuk menghubungi Perkebunan Kalisat Jampit, PT Perkebunan Nusantara, di Kabupaten Bondowoso, Jatim; atau Kebun Percobaan Manoko, Lembang, Bandung, Jawa Barat.
Meski baru diketemukan tahun 1828, makadamia bisa cepat merebut hati konsumen kacang-kacangan (nuts) yang sudah lebih dahulu dibudidayakan. Antara lain almond, mete,
chestnut, hazelnut, pistachio, dan walnut. Makadamia dianggap lebih umggul dari mete, karena proses pengupasannya mudah, dan bentuk kacangnya benar-benar bulat. Di Perkebunan Kalisat Jampit, makadamia sudah diproduksi menjadi jajanan dan dipasarkan sebagai produk oleh-oleh khas dari pegunungan Ijen dengan merek Rolas. Rolas merupakan kosakata Bahasa Jawa, yang berarti 12. Ini merupakan nomor PT Perkebunan Nusantara yang membawahi Perkebunan Kalisat Jampit di Pegunungan Ijen, Jawa Timur. Kalau Anda berkeinginan untuk investasi membudidayakan makadamia, ada baiknya sekali-sekali datang berkunjung ke Perkebunan Kalisat Jampit di Pegunungan Ijen. Sekalian mencicipi kopi arabika Ijen, dan nonton api biru di Kawah Ijen. # # #
Artikel pernah dimuat di Tabloid Kontan
Foto : F. Rahardi
