• MDF-BOARD DARI LIMBAH BATANG SAWIT

    by  • 30/07/2018 • Perkebunan, PERTANIAN • 0 Comments

    Saat ini diperkirakan Indonesia memiliki 13 juta hektar kebun kelapa sawit. Kebun ini terdiri dari BUMN (PTPN), swasta besar, dan kebun rakyat. Tahun 2018 ini, akan merupakan “puncak”penanaman ulang (replanting) PTPN dan perkebunan swasta besar.

    Beberapa perkebunan besar, mulai tahun 2018 ini sampai 10 tahun ke depan, akan mereplanting sekitar 10% dari total tanaman mereka. Dengan tingkat kepadatan rata-rata 140 tanaman per hektare, diperkirakan akan ada 182.000.000 limbah batang sawit hasil replanting. Limbah batang sawit akan menjadi permasalahan tersendiri bagi para pekebun. Batang dan pelepah sawit hasil replanting ini umumnya dibiarkan membusuk di lahan. Pemerintah melarang pekebun membakar limbah apa pun di kebun, sebab dikhawatirkan akan menimbulkan kebakaran lahan yang belakangan ini sudah bisa dikendalikan.

    sawit-a
    Untuk menghemat anggaran, para pekebun biasa mematikan titik tumbuh (pucuk batang sawit) dan membiarkan batang itu tetap tegak berdiri. Benih sawit segera ditanam di sela-sela tegakan tanaman tua yang telah dimatikan titik tumbuhnya. Umumnya, tanaman baru yang hasil replanting seperti ini tumbuh kerdil dan potensial terserang kumbang Oryctes rhinoceros dan jamur Ganoderma yang berkembang-biak di limbah batang sawit tua yang masih berdiri tegak itu. Untuk mengatasi hal ini, Jamal Balfas, peneliti di Pusat Penelitian dan Pengembangan Keteknikan Kehutanan dan Pengolahan Hasil Hutan (Pustekolah) Balitbang Kehutanan Kementerian Kehutanan, telah meneliti kemungkinan  mengolah batang sawit menjadi kayu solid dan kayu lapis.

    Jamal memulai penelitian batang sawit menjadi kayu solid tahun 1997. Dua tahun kemudian ia mendaftarkan paten, dan baru keluar tahun 2004. Tahun 2009, ia meneliti peluang batang sawit menjadi kayu lapis dan hasil penelitiannya dipatenkan pada tahun 2011. Sampai sekarang dua paten yang dihasilkan Jamal, masih belum bisa ditindaklanjuti sebagai peluang usaha. Kendala utamanya, biaya pengangkutan limbah batang sawit dari kebun sawit ke lokasi pabrik menjadi terlalu tinggi, hingga harga batang sawit itu menjadi sama dengan batang sengon. Mahalnya biaya angkut, disebabkan oleh tingginya kandungan air dalam limbah batang sawit tersebut. Bobot air dalam batang sawit bisa mencapai lima kali lipat bobot bagian padatnya.

    # # #

    Sayangnya, Jamal tidak meneliti peluang batang sawit menjadi Medium-density fibreboard (MDF). Dalam produksi MDF, batang sawit digiling di lokasi, dengan mesin giling portable. Hasil gilingan langsung dipress, untuk diambil airnya. Air dari batang sawit ini masih bisa diambil methanolnya, dengan bantuan enzim. Rendemen methanol (kadang disebut bioethanol) dalam air batang sawit sebesar 1,5% dan masih layak untuk diusahakan di lokasi penebangan. Air dalam batang sawit yang selama ini menjadi kendala pengangkutan, bisa teratasi bahkan bisa menghasilkan methanol. Alat penggilingan batang kelapa sawit, dan pembuatan methanol, digunakan yang portable, hingga bisa dioperasikan di lahan sawit yang akan direplanting.

    Selulosa yang telah dibebaskan dari kandungan airnya, bisa diangkut dengan biaya seperlima dari biaya angkut batang sawit utuh. Artinya, nilai selulosa batang sawit ini, menjadi seperlima dari harga balok batang sengon. Dengan nilai bahan baku semurah ini, harga MDF batang sawit akan sangat bersaing dengan bare core dari batang sengon. Selama ini, Indonesia merupakan pemasok bare core sengon utama dunia, dengan pasar terbesar RRT. Kendala utama produksi MDF adalah bahan baku yang murah. Selama ini kayu merupakan komoditas yang semakin hari semakin bernilai tinggi. Sampai dengan dekade 1970, sengon masih merupakan produk kayu paling murah. Baru pada tahun 1980, mulai ada pabrik bare core di Jawa Tengah, hingga nilai kayu sengon berangsur naik.

    Selama ini masyarakat awam memang sulit membedakan produk MDF, kayu lapis dan bare core. MDF adalah serbuk kayu (kayu apa pun) yang dicampur dengan wax dan resin, lalu dipres dalam keadaan panas. Panjang, lebar dan ketebalan MDF bisa diatur sesuai kebutuhan. Kayu lapis adalah batang kayu yang diserut tipis melingkar, dengan lebar serutan seukuran panjang batang kayu, dan panjang serutan bergantung pada tebal tipisnya serutan, serta diameter kayu yang diserut. Lembaran serutan kayu ini dipotong sesuai ukuran yang dikehendaki, diberi lem, lalu direkatkan beberapa lapis sesuai dengan kebutuhan, lalu dipres dalam keadaan panas. Bare core merupakan potongan kayu yang ditata rapat dan dilem, lalu dipres dalam keadaan panas hingga membentuk lembaran yang solid.

    Dari tiga produk berbahan baku kayu ini, MDF paling fleksibel batasan jenis kayunya. Kayu apa pun, keras, sedang atau sangat lunak, bisa dihancurkan untuk dibuat MDF. Bahkan serasah hasil penebangan kayu, yakni ranting dan daun, bisa dichooper dan dibuat MDF. Serbuk kayu limbah gergajian juga bisa dibuat MDF. Namun kendala utama industri MDF justru adanya bahan baku yang murah dalam volume cukup. Sebab kayu apa pun, termasuk kayu kemiri dan kapuk randu yang lunak, sekarang sudah terlalu tinggi nilainya, untuk dihancurkan sebagai bahan baku MDF. Kayu sengon, dulunya tidak laku dijual, karena hanya setingkat lebih tinggi dari kayu kemiri dan kapuk. Itu pun sekarang di produksi massal untuk bahan baku bare core.

    # # #

    Batang sawit tua hasil replanting, selama ini lebih dilihat sebagai masalah. Bukan berkah. Penelitian yang pernah dilakukan, hanya sebatas melihatnya sebagai bahan produksi kayu solid dan kayu lapis. Bukan untuk MDF. Volume limbah batang sawit tua hasil replanting cukup besar. Satu batang sawit tua yang direplanting, bervolume 2 meter kubik. Sebanyak 182.000.000 batang sawit tua yang direplanting dalam satu tahun, akan menghasilkan 364.000.000 meter kubik kayu basah. Setelah diperas airnya dan dipres jadi MDF, volumenya akan susut menjadi seperlimanya, atau 72.800.000 meter kubik. Angka potensi MDF limbah batang sawit sebesar 72.800.000 meter kubik luar biasa besar dibanding ekspor bare core kita ke RRT selama ini.

    Volume ekspor bare core kita ke RRT tahun 2016, sebanyak 74.829  kontainer ukuran 20 kaki, dengan isi maksimum per kontainer 33 meter kubik. Total volume ekspor bare core kita tahun 2016 hanya sebesar 2.469.357 meter kubik. Di sinilah tampak potensi pengolahan limbah batang sawit menjadi MDF dengan perkiraan kapasitas nasional per tahun sebesar 72.800.000 meter kubik. Produk-produk setengah jadi berbahan kayu, sekarang ini laris manis di pasar internasional. Meskipun demikian, tetap diperlukan pembicaraan dengan negara-negara calon pembeli, sebelum limbah batang sawit itu diproduksi massal menjadi MDF. Negara-negara Uni Eropa dan AS, kemungkinan besar akan memboikot MDF batang sawit. Sebab selama ini mereka juga mencari-cari kelemahan minyak sawit mentah (crude palm oil, CPO); karena industri minyak nabati mereka berbahan kacang tanah, biji bunga matahari, biji kapas, jagung dan kedelai tersaingi oleh CPO.

    Tetapi Jepang, Korea, dan terutama RRT pasti akan menerima MDF berbahan baku sawit tersebut. Selama ini CPO dan bare core kita juga diserap RRT. Awal dekade 2000an, sebenarnya juga pernah ada ide untuk mengolah tandan buah kosong (TBK) menjadi MDF setelah diperas airnya. Upaya ini tak pernah terwujud, karena mengumpulkan TBK dan mengangkutnya ke pabrik MDF berbiaya tinggi. Selain itu juga tak pernah ada penghitungan berapa potensi volume TBK yang bisa dikumpulkan dalam setahun. Kali ini, volume batang sawit itu bisa dihitung kasar. Bahkan secara rinci bisa dihitung per perusahaan besar. Kendala pengangkutan bisa diatasi dengan menghancurkan dan memerasnya dengan mesin-mesin portable. Air perasan diolah menjadi methanol, dan serbuk kayunya dengan bobot tinggal seperlima, diangkut ke pabrik MDF. # # #

    Artikel pernah dimuat di Tabloid Kontan
    Foto : F. Rahardi

    About

    Leave a Reply

    Your email address will not be published. Required fields are marked *