LEBAH SEBAGAI POLINATOR
by indrihr • 06/08/2018 • PETERNAKAN • 0 Comments
Orang Jawa menyebut serangga terbang berpenyengat dengan nama tawon. Kemudian ada embel-embelnya; tawon madu, tawon endas (tawon ndas), dan tawon klanceng. Setelah orang Jawa berBahasa Indonesia, kebiasaan ini masih terbawa.
Dalam Bahasa Indonesia pun kemudian ada kosakata lebah madu, lebah tabuhan, lebah klanceng. Lama-lama anak muda sekarang maunya singkat. “Pokoknya semua serangga yang ada sengatnya bernama lebah, titik!” Padahal lebah madu, honey bee, genus Apis, beda famili dengan tabuhan, hornet, genus Vespa. Meskipun mereka masih sama-sama ordo Hymenoptera. Wasp, tawon kemit yang bertubuh kecil, masih satu famili Vespidae dengan Hornet. Sementara kumbang kayu, carpenter bees, genus Xylocopa, justru masih satu famili Apidae dengan lebah madu. Klanceng, stingles bee, Trigona sp, juga masih satu famili dengan lebah madu.

Kecuali wasp yang makan larva serangga, lebah-lebah ini, umumnya pemakan madu (nektar) dan polen (serbuk sari). Hingga lebah, khususnya lebah madu, merupakan serangga polinator utama hampir semua komoditas agro. Tanaman serealia dan buah-buahan, memerlukan lebah madu sebagai polinator. Itulah sebabnya di negara-negara maju, para petani memelihara lebah madu, agar produksi pertanian mereka terus stabil. Tanpa dibantu polinasi oleh lebah madu, produksi serealia dan buah-buahan akan turun tajam. Para petani berskala besar, umumnya menyewa (membayar) peternak lebah polinator.
Selain menerima fee dari pemilik tanaman, para peternak lebah masih bisa menikmati hasil madu dan polen yang mereka peroleh dari usaha jasa polinator. Di Indonesia terbalik. Para peternak lebah madu yang ingin menggembalakan lebah mereka di kebun lengkeng, atau kebun kapuk yang sedang berbunga, justru harus membayar ke pemilik kebun. Hingga nilai madu maupun polen yang mereka peroleh menjadi terlalu tinggi untuk dijual ke konsumen, karena harus ditambahi biaya sewa kebun. Padahal kadar air madu di kawasan tropis seperti Indonesia, umumnya di atas 20%. Idealnya paling tinggi 18%.
# # #
Madu yang dipasarkan di Indonesia, berasal dari tiga jenis lebah madu. Pertama lebah madu hutan, tawon gung, odeng, giant honey bee, Apis dorsata. Lebah madu hutan hidup liar di hutan dan kebun. Membangun sarang di dahan yang tinggi. Bentuk sarang hanya satu lapis, yang terus melebar atau memanjang. Ukuran tubuh lebah madu hutan paling besar di antara lebah madu lain. Madu Kalimantan dan madu Sumbawa berasal dari lebah madu hutan. Sampai sekarang, lebah madu hutan belum bisa diternakkan. Hingga para pencari madu, hanya berburu ke hutan atau kebun, kemudian pas musim madu mereka akan memanennya.
Kedua lebah madu Asia, Apis cerana var. indica. Hidup liar dalam lubang batang kayu, celah tebing batu, dan tempat-tempat lain yang terlindung. Tubuh lebah madu Asia berukuran lebih kecil dari lebah madu hutan. Sarang dibangun sampai beberapa lapis, dan akan terus bertambah banyak. Lebah madu Asia sudah bisa dibudidayakan dalam batang kayu yang dibelah dua, diberi rongga, dan kembali ditangkupkan lalu diikat. Sarang lebah madu Asia disebut glodok. Para petani memelihara lebah madu Asia untuk meningkatkan produktivitas hasil panen, dan juga untuk diambil madu serta anak lebahnya.
Ketiga lebah madu Eropa, Apis mellifera. Lebah madu inilah yang sekarang paling banyak dibudidayakan sebagai polinator maupun penghasil madu dan polen. Spesies liarnya sudah sulit dilacak. Tubuh lebah madu Eropa berukuran sedang. Lebih besar dari lebah madu Asia, tetapi lebih kecil dari lebah madu hutan. Lebah madu Eropa dipelihara dalam kotak yang disebut stup. Dalam kotak terdapat kerangka sarang, yang di bagian atasnya diberi fondasi sarang. Sebab saking lamanya dipelihara manusia, lebah madu Eropa sudah lupa membangun sarang, apabila tidak terdapat fondasi sarang.
Lebah madu Eropa efektif mengambil madu maupun polen, hingga paling cocok sebagai polinator. Di Indonesia, komoditas lebah merupakan anak tiri; karena budidayanya tak memerlukan pakan, peralatan, atau biaya perawatan yang bernilai tinggi hingga bisa dikorupsi. Karenanya Kementerian Pertanian juga tak mau mengurus. Kementerian Kehutanan juga tak peduli. Maka sejak zaman Belanda dulu, lebah madu ditangani oleh Pramuka (dulu bernama Pandu). Sampai sekarang, budidaya lebah madu masih diurus oleh Pusat Apiari Pramuka di Cibubur, Jakarta Timur.
# # #
Selain lebah madu genus Apis, masih ada lagi tawon klanceng, genus Trigona yang juga berfungsi sebagai polinator dan penghasil madu serta polen. Sekarang, para petani juga sudah mulai membudidayakan lebah klanceng, karena tanaman tertentu, misalnya mangga; lebih efektif dipolinasi lebah klanceng dibanding lebah madu. Tubuh lebah klanceng berukuran paling kecil, berwarna hitam. Klanceng juga disebut stingles bee, karena tidak berpenyengat. Di alam liar, klanceng membangun sarang dalam lubang pohon, atau celah-celah batu seperti lebah madu Asia. Harga madu klanceng lebih tinggi dari lebah madu hutan, Asia maupun Eropa.
Tingginya harga lebah madu klanceng, disebabkan oleh volume produksi yang masih sangat rendah. Bukan oleh kualitas madunya. Sebab kualitas madu ditentukan oleh jenis bunga, bukan oleh jenis lebah. Yang memroduksi madu bunganya, bukan lebahnya. Lebah hanya mengumpulkan madu yang dihasilkan oleh bunga. Madu yang dihasilkan oleh Pusat Apiari Pramuka, terdiri dari banyak jenis. Ada madu kapuk randu, madu lengkeng, madu super (campuran). Paling murah madu kapuk randu, paling tinggi harganya madu super. Kadar air madu Pramuka, sudah lebih rendah dari madu yang dihasilkan oleh petani.
Tidak semua komoditas memerlukan lebah sebagai polinator. Durian misalnya, tidak dipolinasi oleh lebah, sebab bunganya mekar pada malam hari. Bunga durian dipolinasi oleh kelelawar madu. Di Thailand, polinasi durian malahan dibantu tenaga manusia, menggunakan kuas dan galah. Beberapa jenis bunga juga tidak dipolinasi oleh lebah, melainkan burung madu. Sebab posisi madu berada pada bagian bunga paling dalam, yang hanya bisa dijangkau oleh paruh burung madu. Masih ada beberapa serangga polinator, tetapi dalam pertanian modern, hanya lebah yang paling efektif membantu polinasi. # # #
Artikel pernah dimuat di Tabloid Kontan
Foto oleh F. Rahardi.
