• BUAH SAWO DAN PERMEN KARET

    by  • 10/09/2018 • Buah, Sayur, Tanaman Hias, PERTANIAN • 0 Comments

    Kalau kita berkendaraan dari Yogyakarta menuju Kabupaten Gunung Kidul, sesampai di Patuk, tepatnya di Desa Sambipitu, Kecamatan Nglipar; akan tampak deretan kios di sisi kanan jalan. Hampir semua kios itu menjajakan buah sawo manila.

    Buah sawo dalam kios itu sudah dikemas dalam net benang plastik, dengan bobot @ 1 kilogram per kemasan. Konsumen bebas memilih buah sawo siap konsumsi, atau yang masih keras untuk oleh-oleh. Yang masih mentah maupun yang sudah masak sama-sama berharga Rp 20.000 per kemasan. Harga ini sedikit lebih murah dibanding harga sawo di kios dan toko buah DKI Jakarta yang mencapai Rp 25.000 sampai Rp 30.000 per kilogram. Di Thailand, harga sawo manila justru lebih murah. Di Bangkok, harga sawo manila hanya 20 sampai 35 bath.

    Dengan kurs satu bath Rp 435,30; harga sawo manila di Thailand hanya Rp 8.706 sampai Rp 15.235,50 per kilogram. Di Indonesia, sawo manila tak pernah dibudidayakan secara monokultur dalam skala komersial, untuk dipanen buahnya. Di Thailand, buah sawo manila sudah dibudidayakan secara massal sebagai penghasil buah. Di Negeri Gajah Putih ini, sawo manila bukan hanya dipasarkan sebagai buah meja ke konsumen secara individual, tetapi terutama ke hotel dan restoran, untuk disajikan ke konsumen.

    Buah yang dipasarkan di kios buah Sambipitu, berasal dari satu dua pohon milik penduduk; yang dibeli secara borongan oleh tengkulak, atau dipanen sendiri oleh sang pemilik. Oleh tengkulak, buah sawo ini disetorkan ke pedagang pengumpul untuk dicuci atau disikat kulitnya sampai bersih, lalu dikemas dan dipasarkan. Sawo termasuk buah klimaterik, yang bisa dipanen saat sudah tua tetapi masih mentah, kemudian ditunggu sampai masak. Lain dengan sawo durian, yang merupakan buah non klimaterik hingga harus dipanen saat sudah masak pohon.

    # # #

    Di Indonesia yang laris manis justru benih sawo manila sebagai tabulampot (tanaman buah dalam pot). Kalau kita klik Google dengan kata kunci sawo manila; yang pertama muncul justru tanaman sawo dalam pot. Masyarakat perkotaan menyenangi tabulampot sawo karena mudah berbuah dan bandel. Jeruk, belimbing, jambu air, mangga dan jambu biji juga mudah berbuah dalam pot, tetapi kalah bandel dibanding sawo. Sawo terkenal karena tahan kekeringan dan hampir tak ada hama dan penyakit yang akan mengganggunya.

    Buah sawo merupakan kesukaan codot dan kalong, dua kelelawar pemakan buah. Buah sawo tabulampot pun juga sering didatangi codot. Gangguan dua hama ini bisa diatasi dengan jaring yang dipasang mengerudungi seluruh tajuk tanaman. Hama lalat buah yang biasa menyerang belimbing manis, jambu air dan jambu biji, tak pernah menyerang sawo. Yang kadang menyerang buah sawo justru ulat penggerek, larva dari moth. Serangan ulat penggerek ini tak seganas serangan lalat buah.

    Tabulampot sawo manila, berasal dari benih cangkokan. Dengan benih ini, para penangkar mampu memperolah tanaman dalam ukuran sudah cukup besar untuk dibuahkan. Tanaman sawo manila dari biji memerlukan waktu lebih dari lima tahun untuk berbuah. Sementara benih asal cangkokan sudah bisa langsung berbuah begitu dipindahkan ke dalam pot. Yang lama justru mencangkoknya. Cangkokan jambu air dan jambu biji sudah bisa berakar hanya dalam waktu satu bulan. Cangkokan sawo manila memerlukan waktu enam bulan sampai satu tahun untuk berakar, meskipun sudah menggunakan zat perangsang tumbuh.

    Selain buah, sawo manila juga menghasilkan kayu keras bertekstur halus, dengan warna cokelat terang. Kelemahan kayu sawo mudah retak dan pecah. Meski mudah retak dan pecah, para perajin tangkai pisau/parang, peralatan rumah tangga dan patung menyenangi kayu sawo karena kekerasan, kekuatan, keawetan dan kehalusan teksturnya. Meskipun keras dan kuat, kayu sawo renyah hingga mudah dipotong, dibelah dan diserut untuk dibentuk sesuai tujuan pemanfaatan. Saat ini suplai kayu sawo masih berasal dari tumbuhan liar yang ada di lahan penduduk.

    # # #

    Yang tak banyak diketahui publik, pohon sawo manila, Manilkara zapota; merupakan sumber lateks, untuk bahan permen karet. Bahan utama permen karet terdiri dari gum alam, dan pemanis. Gum alam ini berasal dari beberapa jenis pohon, tetapi yang terbanyak dari pohon sawo manila. Meskipun di Amerika Tengah, bahan perman karet juga berasal dari getah pohon sawo Manilkara huberi. Sawo Manilkara zapota dan Manilkara huberi berasal dari Amerika Tengah dan Laut Karibia. Dari sinilah permen karet berasal.

    Masyarakat Indian Maya dan Aztec kunolah yang pertama menemukan budaya mengunyah-ngunyah permen karet. Mereka menyadap getah sawo, merebusnya sampai mengental, kemudian membuatnya menjadi potongan-potongan kecil untuk dikunyah-kunyah. Tahun 1886 Presiden Meksiko Antonio López de Santa Anna; membawa contoh permen karet kuno ini ke Thomas Adams, seorang pengusaha di New York. Thomas Adams kemudian menambahkan gula ke dalam getah sawo itu, dan memproduksinya menjadi permen karet modern secara massal.

    Sawo manila pertama-tama dibawa Bangsa Spanyol ke Filipina. Bangsa Belanda kemudian membawanya ke Jawa. Karena dibawa dari Kota Manila, sampai sekarang sawo yang berasal dari Amerika Tengah itu di Indonesia disebut sebagai sawo manila, sampai sekarang. Kalau di Jakarta ada lapak buah kakilima yang menjual sawo manila dalam jumlah sangat banyak, itu bukan sawo Gunung Kidul, tetapi sawo impor dari Thailand. Di sana, sawo yang sudah dibudidayakan secara massal itu memang berharga lebih murah.

    Artikel pernah dimuat di Tabloid Kontan
    Foto:
    Gerai sawo manila di Sambipitu, Nglipar, Gunung Kidul, DIY. (Foto F. Rahardi)

    About

    Leave a Reply

    Your email address will not be published. Required fields are marked *