• MENGANGKAT NILAI EKONOMIS DIOSCOREA

    by  • 08/10/2018 • Pangan, PERTANIAN • 0 Comments

    Genera umbi-umbian Dioscorea terdiri dari 613 spesies, tersebar di lima benua; di kawasan tropis maupun subtropis. Sebanyak 35 spesies diantaranya ada di Indonesia dan beberapa spesies bernilai ekonomis.

    Gadung, Dioscorea hispida salah satu spesies Dioscorea yang bisa menembus pasar swalayan setelah diolah menjadi keripik. Gembili, Dioscorea esculenta, salah satu spesies Dioscorea yang masih dibudidayakan dan dipasarkan secara terbatas; karena rasa umbinya yang enak. Selebihnya umbi Dioscorea telah dilupakan, tergerus oleh produk pangan impor, terutama yang terbuat dari bahan tepung terigu. Tetapi belakangan ini, ada kecendererungan Dioscorea yang di Jawa Barat disebut huwi dan di Jawa Tengah uwi, kembali naik daun. Kalangan berduit mulai mencari-cari sumber karbohidrat sehat sekaligus eksklusif.

    Sampai dengan abad 17, masyarakat Jepang juga pernah melupakan umbi Dioscorea yang mereka sebut yamaimo, Chinese yam, Korean yam, Dioscorea oppositifolia. Meskipun rasa umbi ini enak seperti gembili/gembolo kita, masyarakat Jepang waktu itu menganggapnya sebagai makanan rakyat miskin. Yang mau makan Yamaimo benar-benar mereka yang tak mampu membeli bahan pangan lain. Sampai pada abad 17 itu, ada isu bahwa Yamaimo bisa meningkatkan gairah seks, bersamaan dengan dibangunnya kompleks PSK terbesar. Sejak itulah Yamaimo berubah dari makanan rakyat miskin menjadi komoditas bermartabat.

    Posisi Yamaimo sebagai makanan bermartabat itu tetap terus bertahan sampai sekarang, meskipun kompleks PSK itu telah ditutup pada dekade 1950. Gembili, dan terutama forma besar yang disebut gembolo berpotensi dikembangkan sebagai substitusi yamaimo. Sama dengan iles-iles, porang, Amorphophallus mueleri; yang telah menjadi substitusi konjac, Amorphophallus konjac, sebagai bahan konyaku, menu elite di restoran Jepang papan atas. Selain gadung dan gembili/gembolo, masih ada beberapa spesies Dioscorea yang potensial dikembangkan sebagai bahan pangan sumber karbohidrat.

    # # #

    Spesies dalam genus Dioscorea unggul sebagai penghasil bahan pangan dibanding genus lain, karena tak memerlukan biaya besar dalam memroduksinya. Selama ini masyarakat pedesaan membudidayakan spesies-spesies Dioscorea di pembatas lahan, dengan dirambatkan ke tegakan tanaman lain. Secara alamiah spesies-spesies Dioscorea ini memang tumbuh liar dan merambat ke tegakan tanaman lain. Petani tinggal menggali umbi ini pada musim kemarau. Para petani yang cerdik, membudidayakan spesies-spesies Dioscorea tanpa membuat lubang; tetapi hanya dengan menaruhnya di pangkal pohon.

    Benih umbi Dioscorea, juga berupa umbi yang sudah bertunas. Bisa berupa potongan umbi dalam tanah, bisa pula umbi gantung utuh yang tumbuh di ketiak daun. Di atas benih umbi yang ditaruh di atas tanah ini, kemudian mereka taruh serasah, sampah dan material organik lainnya, sampai membentuk guludan. Dalam budidaya massal, lahan diolah dengan membentuk guludan seperti pada budidaya kentang dan ubi jalar. Dengan membentuk guludan, panen akan dimudahkan sebab tak perlu menggali umbi di kedalaman tanah. Di Jepang, umbi yamaimo malahan dibentuk menggunakan pipa sebagai cetakan, hingga umbi tumbuh lurus.

    Tingkat produktivitas komoditas apa pun pertama-tama ditentukan oleh benih sebagai sumber genetik tanaman. Dari 35 spesies umbi Dioscorea kita, yang sudah cukup jelas dikenal dan dibudidayakan oleh masyarakat barulah gadung, gembili/gembolo. Umbi jebubug, jebug, ubi Singapura, air potato, Dioscorea bulbifera, masih mudah ditemui di lahan penduduk. Tetapi tambaresa, Dioscorea pentaphylla, sudah sulit diperoleh spesimennya. Hanya empat spesies Dioscorea itulah yang cukup jelas deskripsi dan keberadaannya di masyarakat. Selebihnya, yang 31 spesies masih gelap gulita.

    # # #

    Satu-satunya ahli Dioscorea Indonesia ada di Kebun Raya Purwodadi, Jawa Timur. Seberapa besar perhatian LIPI dan ahli Dioscorea tersebut, publik tak pernah tahu. Bahkan Dioscorea alata yang sebarannya di seluruh Asia Tropis, Australia, Pasifik dan Amerika Tengah pun, peta genetiknya belum terlalu jelas. Varian Dioscorea alata yang sangat banyak itu belum pernah terpetakan dengan akurat. Terlebih lagi 30 spesies yang keberadaannya di alam sebagian sudah sangat terancam, karena endemik di satu kawasan yang sangat sempit. Misalnya Dioscorea bancana di Pulau Bangka.

    Di masing-masih daerah sebenarnya ada spesies Dioscorea spesifik setempat. Di Jawa Barat ada Dioscorea blumei; di Jawa Tengah ada Dioscorea keduensis; Jawa Timur punya Dioscorea madiunensis; Sulawesi Tengah Dioscorea kjellbergii; Sulawesi Tenggara Dioscorea sexrimata; Sulawesi Utara punya dua Dioscorea sarasinii dan Dioscorea warburgiana. Di Pulau Jawa ada dua spesies endemik Dioscorea platycarpa dan Dioscorea vilis. Pendataan kembali spesies Dioscorea ini bukan sekadar untuk upaya pelestarian, melainkan sudah aplikatif ke upaya pembudidayaan secara komersial.

    Masyarakat, atau lebih spesifiknya “pasar”, punya mekanisme tersendiri untuk mengatur diri mereka. Dekade 1980, umbi “huwi” hanya bisa diperoleh di penjual oleh-oleh di tepi jalan raya Padalarang, Jawa Barat; dan Serang, Banten. Sekarang di pasar dan penjual buah di DKI Jakarta sudah mulai ada yang menjual umbi Dioscorea, dengan varian ukuran, bentuk, warna daging umbi, terkstur serta rasa sangat beragam. Maklum, di luar empat yang sudah sangat jelas, kita punya 30 spesies Dioscorea, dengan varian masing-masing spesies sangat besar. Bahkan varian spesies Dioscorea alata pun sangat besar. # # #

    Artikel pernah dimuat di Tabloid Kontan
    Teks Foto: Umbi Dioscorea seberat 16,5 kilogram yang dipanen tanggal 13 Agustus 2018 di Cimanggis, Depok, Jawa Barat.

    About

    Leave a Reply

    Your email address will not be published. Required fields are marked *