• BISNIS BUAYA MUARA

    by  • 26/11/2018 • PETERNAKAN • 0 Comments

    Bulan Juli 2018, sebanyak 292 ekor buaya di sebuah penangkaran buaya, di Kelurahan Klamalu, Kecamatan Mariat, Kabupaten Sorong, Papua Barat, dibantai warga. Penyebabnya, beberapa hari sebelumnya ada seorang warga tewas digigit buaya di penangkaran tersebut.

    Peristiwa itu mengingatkan saya saat berkunjung ke Merauke akhir tahun 2016. Di kota ini, ada puluhan perajin kulit buaya, dengan produk akhir berupa tas, dompet, dan ikat pinggang. Harga tas kulit buaya di situs-situs penjualan online berkisar antara Rp 2,5 sampai Rp 3 juta per buah. Di kios-kios perajin di Merauke, harganya sekitar Rp 1,5 juta; separo dari harga online. Tetapi, ada juga tas sama yang harganya hanya Rp 800 ribu. Ternyata, itu tas dari kulit sapi, yang telah dipress hingga di permukaannya terbentuk tekstur kulit buaya. Setelah saya amati, ternyata memang berbeda.

    Buaya yang ditangkarkan di Papua, merupakan buaya Papua yang endemik (berhabitat asli) di pulau Papua (Papua Indonesia dan Papua Nugini). Setelah membaca berita tentang pembantaian buaya di Sorong itu, saya lalu ingat di Tanjung Pasir, Teluk Naga, Tangerang, Banten, baru saja dibuka penangkaran buaya, yang juga dijadikan tempat wisata. Buaya yang ditangkarkan di sini buaya muara, saltwater crocodile, Crocodylus porosus. Habitat asli buaya muara tersebar dari Asia Selatan, Asia Tenggara, dan Utara Australia. Kamis, 21 September 2018, saya sempatkan untuk menengok tempat ini, ternyata tutup. Menurut pedagang di sana, tempat penangkaran buaya itu hanya buka tak seberapa lama lalu tutup.

    Saya lalu ingat di Blanakan, Subang, Jawa Barat (Pantura, dekat Sukamandi); juga ada tempat penangkaran buaya yang dikelola Perum Perhutani. Mestinya tempat ini masih buka dan terurus dengan baik. Sabtu, 29 September saya sempatkan untuk melihat ke Blanakan. Memang masih buka, tetapi juga merana. Kondisinya malah lebih buruk dari penangkaran Tanjung Pasir yang baru buka dan langsung tutup. Apakah kendala utama penangkaran buaya? Mestinya, dengan harga tas kulit buaya di atas Rp 1 juta per buah; ditambah dari tiket masuk untuk para pengunjung, bisnis penangkaran buaya akan menguntungkan.

    # # #

    Di sekitar DKI Jakarta, penangkaran buaya yang relatif masih terjaga dengan baik terdapat di Desa Sukaragam, Kecamatan Serang Baru, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat. Pakan merupakan kendala utama penangkaran buaya. Buaya merupakan hewan karnifora (pemakan daging), hingga biaya pakan buaya sangat tinggi. Seekor buaya remaja memerlukan pakan bobot kotor (berikut kulit, bulu, jeroan, dan tulang); minimal 3% dari bobot hidup, per hari. Buaya remaja bobot 100 kilogram, memerlukan pakan sebanyak 3 kilogram sehari. Kalau diberi pakan seminggu sekali diperlukan bobot pakan 21 kilogram.

    Buaya anak dan remaja, memerlukan pakan dengan persentasi lebih tinggi. Anak buaya misalnya memerlukan pakan antara 6 – 10% dari bobot hidup per hari. Andaikan diberi pakan ayam pedaging, atau ikan termurah dengan harga Rp 20.000 per kilogram, seekor buaya remaja memerlukan pakan Rp 420.000 per minggu, atau Rp 21.840.000 per tahun. Jelas tidak akan masuk, sebab harga anak buaya muara (panjang kurang dari 1 meter), di pasaran hanya Rp 200.000 – Rp 400.000. Di penangkar Rp 100.000 – 150.000. Harga buaya dewasa, di atas tiga meter Rp 3,5 – 4,5 juta per ekor.

    Harga kulit buaya anak (mentah) Rp 200.000 – Rp 250.000 per lembar. Dewasa Rp 750.000 per lembar. Harga per inci Rp 20.000. Di Samarinda, Kalimantan Timur, harga sate buaya Rp 5.000 per tusuk. Di Jakarta menu daging buaya rata-rata Rp 60.000 sampai Rp 75.000 per porsi. Di Indonesia, daging buaya belum lazim dijual di pasar umum. Lain halnya dengan di Australia dan Amerika Serikat. Di Sydney harga daging buaya Rp 600.000 per kilogram. Di Kalifornia AS, Rp 450.000 per kilogram. Jadi harap maklum kalau Taman Buaya di Tanjung Pasir segera tutup setelah dibuka, dan di Blanakan tak terurus dengan baik.

    # # #

    Waktu saya datang ke Taman Buaya Indonesia Jaya, tampak Sang Pawang sedang melempar-lemparkan potongan daging yang sudah mulai rusak ke kandang buaya. Penangkaran buaya memang baru akan feasible apabila diberi pakan limbah peternakan (ayam/bebek mati) atau limbah pemotongan hewan (jeroan). Di Pulau Bulan, Kepulauan Riau, penangkaran buaya sukses karena diberi pakan limbah peternakan dan pemotongan ayam serta babi. Pulau bulan merupakan pemasok daging ayam dan babi ke pasar Singapura. Di Australia, peternakan buaya juga sukses karena ada kanguru, kelinci, dan domba wool afkir.

    Selain di Pulau Bulan, penangkaran buaya yang cukup sukses juga terdapat di Medan Sumatera Utara, dan Samarinda, Kalimantan Timur. Di dua kota ini, buaya muara juga diberi pakan limbah peternakan dan pemotongan ayam, babi serta ikan. Tanpa didukung limbah peternakan dan pemotongan hewan, upaya penangkaran buaya akan gagal, atau hidup segan mati tak mau. Andaikan seseorang berniat menangkarkan buaya tetapi kesulitan mendapat pasokan limbah peternakan, solusinya bisa digabung dengan peternakan kelinci. Kulit kelinci diambil karena nilai ekonomisnya tinggi, dagingnya untuk pakan buaya.

    Nilai ekonomis buaya tak hanya berasal dari kulit dan daging buaya dewasa serta remaja. Anak buaya juga ngetren menjadi hewan piaraan (pet). Telur buaya juga ada yang mengonsumsi dengan keyakinan sebagai obat kuat. Tetapi yang selama ini populer sebagai obat kuat justru tangkur (penis) buaya. Penis buaya yang banyak ditawarkan di pasaran, sebenarnya ikan kili-kili buaya, alligator pipefish, Syngnathoides biaculeatus. Harganya Rp 100.000 per kemasan isi empat buah. Kalau penis buaya asli Rp 250.000 per kemasan isi empat potong. Memelihara buaya sebagai pet, terlebih penangkaran, tetap memerlukan izin Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA). # # #

    Artikel pernah dimuat di Tabloid Kontan
    Teks Foto
    Sosok buaya muara di Taman Buaya Indonesia Jaya, Bekasi. (Foto F. Rahardi)

    About

    Leave a Reply

    Your email address will not be published. Required fields are marked *