SAPU RUMPUT AWIS
by indrihr • 26/12/2018 • Industri Olahan, UMKM • 0 Comments
Di situs Bukalapak, sapu ijuk ditawarkan seharga Rp 15.000 sampai dengan Rp 135.000 per tangkai. Di situs yang sama, sapu rayung, sapu ijuk rayung dan sapu ijuk padi batang bambu, ditawarkan seharga Rp 30.000 sampai dengan Rp 49.000 per tangkai.
Di situs Pusat Handicraft; sapu glagah/sapu rayung, ditawarkan seharga Rp 9.000 sampai dengan Rp 250.000 per tangkai. Di beberapa situs penjualan, sapu rumput awis ditawarkan seharga Rp 35.000 sampai dengan Rp 50.000 ber tangkai. Sapu glagah dari Desa Karangrejo, Kecamatan Karangrejo, Kabupaten Purbalingga, Jawa Tengah, bahkan telah diekspor ke Singapura, Malaysia, Thailand, Taiwan dan India. Sapu glagah kualitas ekspor inilah yang bernilai di atas Rp 100.000 per tangkai. Karena tingginya harga, hanya kalangan tertentu yang mampu membeli sapu jenis ini.
Ijuk merupakan satu-satunya produk nabati, yang bisa bertahan terhadap desakan serat plastik. Sebagus apa pun sapu plastik, kualitasnya tak akan bisa menyamai sapu ijuk. Ijuk merupakan bahan sapu lantai yang tetap paling populer sampai saat ini. Ijuk merupakan serat yang mengikat bagian pangkal pelepah daun enau (aren, kaung, sugar palm, Arenga pinnata), hingga kokoh melekat pada batang. Ijuk inilah yang dipanen pada saat batang enau masih muda, sampai dengan umur produktif sekitar delapan sampai dengan 10 tahun. Setelah panen ijuk, enau bisa ditebang untuk diambil patinya seperti sagu, atau disadap bunga jantannya sebagai bahan gula enau, dan diambil kolang-kalingnya sebagai bahan kolak.
Kalau sapu ijuk berbahan serat pangkal pelepah enau, berbahan apakah sapu rayung, sapu rumput awis dan sapu glagah? Tiga sebutan ini: rayung, awis dan glagah, mengacu ke tumbuhan yang sama; yakni rumput awis, tiger grass, Thysanolaena latifolia. Paling tidak ada tiga lokasi industri kerajinan sapu berbahan malai bunga rumput awis; yakni Desa Karangrejo, Kecamatan Karangrejo, Kabupaten Purbalingga; Desa Bojong, Kecamatan Mungkid, Kabupaten Magelang; keduanya di Provinsi Jawa Tengah. Kemudian di Desa Malasari, Kecamatan Nanggung, Kabupaten Bogor, Jawa Barat.
# # #
Di Purbalingga, Jawa Tengah; rumput awis disebut glagah. Maka sapu berbahan baku malai rumput awis juga disebut sapu glagah. Dalam Bahasa Jawa, semua rumput besar disebut glagah. Bausastra Jawa (Kamus Bahasa Jawa) menyebutkan bahwa glagah = tetuwuhan bangsane tebu (glagah = tumbuhan sebangsa tebu). Batang glagah dan rumput awis memang berbentuk seperti tebu. Keduanya masih sama-sama suku padi-padian (Poaceae), tetapi lain genus. Glagah genus Saccharum (Saccharum spontaneum); sedangkan rumput awis genus Thysanolaena (Thysanolaena latifolia). Serat malai bunga glagah tidak bisa dijadikan sapu karena pendek dan mudah rontok.
Di Kabupaten Magelang, sapu rumput awis disebut sapu rayung. Rayung adalah nama lain rumput bambu, Lophatherum gracile. Bentuk daun rumput rayung memang sama seperti rumput awis, tetapi batangnya berukuran sangat kecil. Malai bunga juga pendek dan mudah rontok. Karenanya rumput awis tak mungkin dimanfaatkan sebagai bahan sapu. Tetapi di Kabupaten Magelang, rumput awis dan rumput bambu sama-sama disebut rumput rayung. Hingga sapu dari rumput awis juga diberi nama sapu rayung. Kalau kita klik di Google sapu rayung/sapu glagah, maka yang akan keluar informasi tentang sapu rumput awis.
Nama rumput awis dalam Bahasa Indonesia memang diadopsi dari kosakata Bahasa Sunda. Ini bisa dimaklumi, mengingat Kantor Pusat Penelitian Biologi dan Kebun Raya Bogor berada di Jawa Barat. Hingga nama flora dan fauna dalam Bahasa Indonesia, banyak yang diadopsi dari kosakata Bahasa Sunda. Termasuk nama rumput awis, dengan sentra pembuatan sapunya di Desa Malasari, yang wilayahnya berbatasan langsung dengan Taman Nasional Gunung Halimun dan Gunung Salak. Tetapi kosakata rumput awis dalam Bahasa Sunda, memang jelas hanya mengacu ke tiger grass, Thysanolaena latifolia.
# # #
Seperti halnya suku padi-padian yang lain, rumput awis bisa berkembangbiak secara vegetatif dengan pemecahan rumpun, maupun stek batang. Selain itu rumput awis juga bisa dikembangbiakkan secara generatif melalui biji. Umumnya, petani membudidayakan rumput awis di tebing-tebing petakan lahan, dari benih vegetatif. Sebab benih generatif dari biji memerlukan jangka waktu lama untuk menunggu tanaman produktif menghasilkan malai bunga. Benih vegetatif hanya tumbuh secara alami di alam. Biji rumput awis yang diterbangkan angin, apabila jatuh di lingkungan yang cocok akan tumbuh secara alamiah menjadi individu tanaman baru.
Rumput awis hanya mau tumbuh baik dan berbunga pada lahan berelevasi 800 – 1200 meter di atas permukaan laut (dpl). Lebih rendah dari itu, rumput awis tak bisa tumbuh. Tetapi pada ketinggian di atas 1200 meter dpl, rumput awis juga tak mau berbunga. Semakin tinggi elevasi lahan, semakin sulit rumput awis berbunga. Di dataran tinggi Dieng yang berketinggian 2000 meter dpl, rumput awis tumbuh sangat subur bahkan cendering invasif. Rumpunnya sangat besar, dengan batang yang menjulur sepanjang lebih dari tiga meter. Tetapi tak ada satu pun yang berbunga. Rumput awis yang tumbuh di ketinggian ini, berasal dari biji dari lahan berelevasi 1000 meter dpl, yang diterbangkan angin ke atas.
Di jalur jalan raya Pemalang – Purbalingga, Jawa Tengah, kita akan menjumpai banyak rumput awis tumbuh di tepi jalan. Tepatnya, rumput awis ini akan bisa kita jumpai setelah lewat Randudongkal, dan masuk ke Desa Belik. Selain tumbuh di tepi jalan, rumput awis juga sengaja ditanam di bawah tegakan pinus. Kadang kita akan menjumpai malai rumput awis yang dijemur di tepi jalan. Selain dibudidayakan untuk dipanen malai bunganya, rumput awis juga ditanam di tebing-tebing curam untuk mencegah erosi dan longsor. Di Jawa Barat, rumput awis terdapat di jalur jalan raya Puncak, Subang-Lembang dan Garut Pameungpeuk. # # #
Artikel pernah dimuat di Tabloid Kontan
Foto F. Rahardi
Malai bunga rumput awis di tepi jalan raya Pemalang – Purbalingga.
