• POTENSI EKONOMIS POHON LONTAR

    by  • 18/02/2019 • Perkebunan, PERTANIAN • 0 Comments

    Setelah pensiun tahun depan, saya berniat pulang kampung dan menekuni bisnis gula lontar. Di kampung saya di NTT sana, banyak pohon lontar dan belum semua diambil air niranya. Bagaimanakah potensi bisnis gula lontar? (Xafer, Yogyakarta).

    Sdr. Xafer, lontar, siwalan, palmyra palm, Borassus flabellifer; memang salah satu penghasil gula palma (gula merah, brown sugar). Penghasil gula palma lainnya adalah kelapa, coconut tree, Cocos nucifera; aren, enau, sugar palm, Arenga pinnata; dan nipah, nipa palm, Nypa fruticans. Aren terus terkikis karena penebangan. Batang aren merupakan penghasil karbohidrat seperti sagu. Lontar banyak tumbuh di kawasan kering, seperti pantai utara dan timur pulau Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara. Nipah hanya tumbuh di kawasan mangrove, dan belum banyak dieksplorasi sebagai penghasil gula palma.

    Hingga sampai sekarang, penghasil gula palma dalam volume besar hanyalah kelapa. Perusahaan kecap merupakan penyerap utama gula kelapa. Baik kecap bermerek, misalnya Cap Bangau (Unilever), dan ABC (Heinz ABC Indonesia); maupun kecap sebagai pelengkap mi instan (Indofood). Perusahaan-perusahaan ini punya langganan para penyadap nira kelapa (perajin gula kelapa), dari Kabupaten Ciamis dan Pangandaran (Jawa Barat), Cilacap, Banyumas, Kebumen, Purworejo (Jawa Tengah); Kulon Progo (DIY); Jember dan Banyuwangi (Jawa Timur).

    Perusahaan kecap skala kecil, tidak menggunakan gula palma, melainkan gula merah dari tebu. Para perajin gula merah dari tebu tersebar terutama di Pantai Utara Jawa, mulai dari Kabupaten Subang di Jawa Barat, sampai ke Kabupaten Grobogan di Jawa Tengah. Tebu rakyat hasil panen petani, sebagian besar diserap oleh kilang gula merah tebu, yang digiling menggunakan tenaga kerbau atau sapi, dengan cara berjalan memutar. Air tebu ini kemudian direbus dan dicetak seperti nira palma. Gula merah dari tebu berharga paling murah, hingga bisa masuk ke pasar tradisional.

    Karena faktor habitat kawasan mangrove yang sulit dijangkau dari pemukiman, baru sebagian kecil tanaman nipah yang bisa dieksplorasi sebagai penghasil gula palma. Sementara populasi tanaman aren juga terus menurun karena faktor penebangan. Dari fakta-fakta di atas, yang masih berpotensi untuk dieksplorasi sebagai penghasil gula palma tinggal tanaman lontar. Tanaman ini tak terlalu terganggu seperti aren, karena batangnya tidak menghasilkan karbohidrat. Juga tidak seperti kelapa yang batangnya merupakan kayu komersial dengan nilai cukup bagus.

    Pohon lontar juga cukup kuat bertahan di kawasan kering berbatu-batu. Populasi tanaman lontar tetap stabil, karena manusia tidak pernah mengusiknya. Koloni tanaman lontar juga mudah dijangkau dari kawasan pemukiman, hingga selama ini daun, buah, dan air niranya sudah dimanfaatkan olah masyarakat sekitar, meskipun belum sampai ke tingkat optimum. Padahal dibanding gula merah kelapa, aren, nipah dan tebu; gula lontar berkualitas paling baik. Tingginya kualitas gula lontar, disebabkan oleh habitatnya yang menerima sinar matahari penuh, hingga fotosintesis bisa berlangsung secara optimum.

    Kita bisa tahu sejarah masa lalu Tarumanagara, Medang, Kahuripan dan lain-lain; karena adanya naskah-naskah kuno yang ditulis di atas bilah-bilah daun lontar yang diawetkan. Daun lontar juga merupakan bahan untuk alat musik sasando, dinding dan atap rumah di kawasan kering di NTT. Di DKI Jakarta, tepatnya di dekat gerbang masuk Taman Impian Jaya Ancol; selalu ada penjual buah lontar muda. Kadang kita juga menjumpai para penjual nira lontar yang ditampung dalam wadah berupa buluh (bumbung) bambu. Sama dengan kelapa, lontar merupakan bagian dari kehidupan masyarakat Indonesia.

    Tanaman lontar berumah dua. Bunga jantan dan bunga betina terdapat pada tanaman yang berbeda. Yang disadap, selalu bunga jantan. Selain lebih memudahkan kerja, nira dari bunga jantan juga lebih banyak dibanding nira dari bunga betina. Masyarakat juga tahu, meskipun bisa disadap, pohon lontar betina lebih baik dibiarkan berbuah, hingga bisa menghasilkan biji untuk regenerasi. Sama dengan gula aren, gula merah lontar sulit untuk diproduksi massal seperti halnya gula kelapa dan gula merah tebu. Aren dan lontar idealnya dieksplorasi sebagai penghasil gula eksklusif, yang dipasarkan secara terbatas dengan nilai tinggi. # # #

    Artikel pernah dimuat di Kontan Pagi
    Kredit foto, F. Rahardi
    Menyadap nira lontar di Desa Pamuteran, Kecamatan Garokgak, Kabupaten Buleleng, Bali.

    About

    Leave a Reply

    Your email address will not be published. Required fields are marked *