POTENSI PASAR ANGGREK
by indrihr • 11/03/2019 • Buah, Sayur, Tanaman Hias, PERTANIAN • 0 Comments
Saya hobiis tanaman hias, termasuk anggrek. Saya ingin mengembangkan hobi saya ini ke arah bisnis. Bagaimanakah prospek bisnis tanaman hias, khususnya anggrek? Bagaimanakah saya bisa memulai usaha ini? (Sisca, Yogyakarya).
Sdri. Sisca, komoditas apa pun; tetap punya prospek bisnis yang baik. Sebab sukses atau tidaknya sebuah bisnis, tidak hanya ditentukan oleh jenis komoditas. Banyak faktor yang menjadi penentunya. Baik faktor internal, maupun faktor eksternal. Faktor internal tentu lebih mudah dikelola dibanding faktot eksternal. Dengan landasan berpikir seperti ini komoditas tanaman hias; khususnya anggrek punya prospek baik pada tahun 2019 ini, dan juga tahun-tahun berikutnya. Kalau ada yang mengeluh bahwa pasar tanaman hias, terutama anggrek sedang lesu; itu hanya berlaku untuk diri sendiri.
Sebab pada saat yang sama, tetap ada petani dan pengusaha anggrek yang bisnisnya berjalan normal; bahkan ada cenderung membaik. Secara umum, prospek pasar bunga anggrek nasional masih baik. Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2017, dari lima besar komoditas bunga nasional; volume produksi anggrek berada pada urutan terakhir, sementara produksi krisan berada pada urutan pertama. Berikut data selengkapnya: 1. krisan 480,6 (juta tanaman); 2. mawar 184,4 (juta tangkai); 3. sedap malam 112,2 (juta tangkai); 4. melati 24,5 juta tanaman; 5. anggrek 20,0 (juta tangkai/tanaman).
Komoditas anggrek dibagi menjadi dua, yakni anggrek potong, dan tanaman pot (potplant). Anggrek potong, biasanya digunakan dalam acara yang hanya berlangsung sesaat kemudian selesai. Misalnya pesta; ucapan selamat/dukacita dan karnaval. Sedangkan bunga anggrek potplant, digunakan untuk hiasan kantor, hotel, dan bandara. Harga per tanaman potplant anggrek, terutama Phalaenopsis, lebih tinggi dari harga per tanaman krisan. Tetapi kalau dihitung daya tahan bunga, jatuhnya potplant anggrek lebih murah. Perhitungan seperti ini belum banyak diketahui oleh konsumen bunga.
Dendrobium dan Phalaenopsis merupakan dua jenis anggrek yang selama ini paling banyak dibudidayakan. Proses budidaya anggrek dimulai dari pembenihan (breeding), dilanjutkan dengan pembesaran dan pembungaan (growing). Kemudian hasilnya dipasarkan (trading). Hingga seseorang bisa memilih terjun menjadi pembenih (breeder), petani (grower), atau pedagang (trader). Sebenarnya juga ada profesi pemulia (penyilang, crosser), tetapi profesi ini umumnya dirangkap oleh pembenih. Jarang ada penganggrek yang hanya berprofesi sebagai penyilang, tanpa menjadi pembenih.
Seorang pemula, lebih baik terjun sebagai grower atau trader. Dua bidang ini relatif lebih mudah penanganannya, dibanding profesi breeder dan crosser. Selain lebih mudah, modal para grower dan trader juga relatif lebih kecil dibanding breeder dan crosser. Waktu perputaran uang para grower dan trader juga lebih cepat, dengan resiko yang lebih kecil. Di negara-negara yang sudah maju peranggrekannya, misalnya Thailand (Dendrobium), dan Taiwan (Phalaenopsis), selalu ada tiga kelompok penganggrek; yang terwadahi dalam tiga asosiasi; yakni Asosiasi Breeder; Asosiasi Grower; dan Asosiasi Trader.
Anggrek merupakan bisnis padat modal. Artinya, dibanding komoditas lain, modal yang diperlukan dalam tiap hektare lahan untuk budidaya anggrek, beberapa kali lipat dibanding komoditas lain. Start awal modal investasi dan modal kerja budidaya krisan per hektar, masih di bawah Rp 100 juta. Start awal investasi dan modal kerja budidaya anggrek dendrobium per hektar bisa sampai Rp 500 juta. Pada anggrek Phalaenopsis start awal investasi dan modal kerja bisa sampai Rp 2 miliar per hektar. Modal investasi dan modal kerja sebelum berproduksi, akan disusutkan dan dibebankan sebagai biaya untuk perhitungan laba rugi.
Ada satu lagi penentu sukses tidaknya sebuah bisnis, termasuk bisnis anggrek. Pertama, apakah Anda akan mulai dari skala kecil? Kalau ya, Anda harus terjun langsung menangani bisnis ini setiap hari (fulltimer). Usaha skala kecil yang diserahkan ke orang lain, resiko gagalnya sangat besar. Kalau Anda akan menyerahkan ke orang lain secara penuh; skala usahanya harus menengah ke atas, berbadan hukum, dan dikelola oleh tenaga profesional; baik dalam manajeman maupun teknis budidaya. Kalau dalam usaha menengah ke atas pemilik masih ikut campur tangan sehari-hari, resiko gagalnya juga tinggi. # # #
Artikel pernah dimuat di Kontan Pagi
Foto F. Rahardi
