ANTARA ECENG GONDOK DAN AKAR WANGI
by indrihr • 18/03/2019 • Perkebunan, PERTANIAN • 0 Comments
Pemprov DKI, berniat mengatasi pencemaran air di sungai-sungai DKI dengan eceng gondok. Bermunculan pro dan kontra. Sebab selama ini eceng gondok dikenal sangat invasif dan menutup kemudian mendangkalkan rawa, danau dan waduk.
Rawa Pening di Kabupaten Semarang, Jawa Tengah (luas 2.670 hektare); merupakan salah satu perairan yang terganggu oleh keberadaan eceng gondok. Sebagian besar permukaan Rawa Pening tertutup oleh gulma ini selama ratusan tahun. Di Rawa Pening, koloni eceng gondok telah membentuk pulau terapung. Oleh masyarakat setempat, pulau terapung ini dimanfaatkan untuk budidaya padi. Sejak dekade 1960 pemerintah mengerahkan tenaga untuk menggergaji pulau-pulau terapung ini secara manual, ditarik ke pinggir, kemudian diangkat. Sampai tahun 2018 ini, masalah eceng gondok di Rawa Pening masih belum bisa diatasi.
Betapa merepotkan eceng gondok setelah membentuk koloni dan pulau terapung. Danau Kerinci di Provinsi Jambi (4.200 hektare) juga pernah dipenuhi eceng gondok. Tetapi karena belum sempat membentuk pulau terapung, gulma invasif ini bisa diatasi dengan penebaran ikan koan, grass carp, Ctenopharyngodon idella. Ikan koan memang terkenal sebagai herbifora yang sangat rakus dan cepat sekali berkembangbiak. Akhirnya, Danau Kerinci bisa dibebaskan dari eceng gondok. Meskipun luas Rawa Pening hanya 63,5% dari Danau Kerinci, tetapi lebih sulit dibebaskan dari eceng gondok karena kondisinya sudah sangat parah.
Gulma ini tak hanya menjadi masalah besar di Indonesia, tetapi juga di hampir semua negara di dunia termasuk Amerika Serikat (AS). Gulma yang masuk AS tahun 1884 kemudian menjadi menutup sungai dan perairan di beberapa negara bagian, terutama di Louisiana. Isu eceng gondok ini menjadi perdebatan politik di Louisiana, karena adanya rencana untuk mendatangkan kuda nil untuk mengatasinya. Danau Victoria (luas 68.800 km²); yang terletak di perbatasan Uganda, Tanzania dan Kenya; di Afrika, juga terancam kelestariannya oleh gulma eceng gondok. Sampai sekarang eceng gondok di Danau Victoria juga belum bisa diatasi.
Dari Amazon
Eceng gondok, water hyacinth, Eichhornia crassipes; berasal dari lembah sungai Amazon, di Amerika Selatan. Tahun 1824 saat mengadakan ekspedisi di lembah Sungai Amazon, ahli botani Jerman Friedrich Philipp von Martius (1794 –1868), tertarik dengan tumbuhan ini karena bunganya yang sangat indah. Martius mengira tumbuhan ini genus Pontederia, suku Pontederiaceae. Maka ia memberi nama tumbuhan baru ini Pontederia crassipes. Tahun 1883, ahli botani Jerman Hermann zu Solms-Laubach (1842 – 1915); melihat bahwa tumbuhan ini benar suku Pontederiaceae, tetapi genusnya Eichhornia.
Maka Solms-Laubach mengubah nama eceng gondok dari Pontederia crassipes Mart. menjadi Eichhornia crassipes (Mart.) Solms. Nama Martius (Mart.) tetap dicantumkan oleh Solms-Laubach, untuk menghormati penemunya. Sampai sekarang, nama botani Eichhornia crassipes inilah yang resmi digunakan untuk menyebut eceng gondok. Diperkirakan, eceng gondok pertama datang ke pulau Jawa dibawa oleh Bangsa Belanda pada akhir abad 19 sebagai tanaman hias. Di Pulau Jawa sudah ada gulma air (gulma sawah) yang disebut eceng, eceng padi, atau wewehan, Monochoria vaginalis; yang juga masih suku Pontederiaceae.
Ketika masyarakat Jawa dan Sunda melihat tumbuhan seperti eceng tetapi berukuran lebih besar, mereka pun menyebutnya eceng gondok. Di Jawa Tengah lebih sering disebut sebagai enceng gondok, atau bengok. Bedanya, pucuk dan bunga eceng padi enak disayur, terutama ditumis, pucuk dan bunga eceng gondok gatal karena kandungan kalsium oksalatnya yang tinggi. Ketika tahun 1978 terjadi kekeringan di pulau Jawa, seorang nenek di Karawang, Jawa Barat, mengambil pucuk dan bunga eceng padi; pers Indonesia memberitakannya, “sampai-sampai seorang nenek-nenek makan eceng gondok”.
Vetiver Lebih Tepat
Sebenarnya, untuk menyerap polutan dalam air, lebih tepat digunakan akar wangi, vetiver, Chrysopogon zizanioides. Selama ini akar wangi lebih dikenal sebagai penghasil minyak asiri (vetiver oil). Indonesia pernah dikenal sebagai penghasil minyak akar wangi dunia, dengan sentranya di Kecamatan Samarang, Kabupaten Garut, Jawa Barat. Sekarang penghasil minyak akar wangi dunia beralih ke Haiti (Kepulauan Karibia), Reunion dan Mauritius (Samudera Hindia). Kecamatan Samarang masih menghasilkan minyak akar wangi, tetapi volumenya sudah sangat kecil dibanding pada dekade 1960 dan 1970.
Sebagai penyerap polutan, akar wangi lebih unggul, karena akarnya bisa memanjang sampai lebih dari dua meter. Panjang dan kuatnya akar tanaman ini kemudian dimanfaatkan sebagai pencegah erosi di lahan dengan tingkat erosi tinggi. http://savethehills.blogspot.com/2016/01/vetiver-grass-for-soil-erosion-control.html;
http://www.vetivergrass.com/. Belakangan akar wangi juga dimanfaatkan sebagai penyaring polutan dalam perairan yang tercemar limbah berbahaya. https://vetivernetinternational.blogspot.com/2010/04/vetiver-system-and-pollution-control.html;
http://www.vetivergrassuk.com/applications.html; https://www.asla.org/2011studentawards/376.html. Selain akarnya yang bisa panjang dan tumbuh lebat hingga berpotensi menyerap polutan; akar wangi juga menarik karena tidak akan berkembang menjadi invasif.
DKI Jakarta punya banyak setu, rawa dan waduk; yang berpotensi tertulari oleh gulma eceng gondok. Hingga penggunaan tumbuhan ini untuk pengendali pencemaran air perlu dikaji ulang. Di banyak metropolitan dunia, pencemaran air dilakukan dengan menangani air tercemar yang akan masuk ke perairan tersebut. Pertama air limbah rumahtangga, kantor, pabrik dll; tidak boleh langsung masuk ke sungai sebelum ada treatment hingga menjadi jernih. Cara itu paling tepat, sebab biaya penanggulangan pencemaran ditanggung bersama oleh para pembuang air limbah ke perairan umum. # # #
Artikel pernah dimuat di Tabloid Kontan
Foto F. Rahardi
