• VIRAL DURIAN “TERMAHAL”

    by  • 04/07/2019 • Uncategory • 0 Comments

    Sabtu 26 Januari 2019, Durian J-Queen di Tasikmalaya laku terjual Rp 14 Juta Per Butir. Informasi ini segera viral di dunia digital.

    Kita memang bangsa kagetan, dan kurang piknik. Tanggal 6 Desember 2018, di Thailand durian Kan Yao laku seharga 800.000 Baht. Dengan kurs 1 Baht Rp 445,61 (saat tulisan ini dibuat), harga durian Kan Yao itu Rp 356,4 juta satu butir. Bedanya, harga Rp 356,4 juta durian Kan Yao itu hanya berlaku untuk buah yang dilelang dalam acara “Nonthaburi: The King of Durian”-expo.

    Durian Kan Yao lainnya tetap tersedia dalam volume cukup, dan dijual dengan harga biasa, sekitar 2,5 dollar AS per kg (Rp 35.000 per kg). Dengan berat rata-rata 2,5 kg per butir, rata-rata harga durian Thailand Desember 2018 Rp 87.500. Dan durian Kan Yao bisa didapat di mana saja, meskipun tidak sebanyak Chanee, terlebih Mon Thong. Kultivar Kan Yao juga jelas. Kalau orang mau mencari benih Kan Yao untuk dibudidayakan juga banyak, termasuk di Indonesia. Lain halnya dengan durian J-Queen di Tasikmalaya. Durian itu hanya ada empat butir. Silsilahnya juga tidak jelas.

    Konon J-Queen berasal dari Banjarnegara, Jawa Tengah. Tetapi para “maniak” durian di Banjarnegara juga tak tahu-menahu. Tahun lalu, saya menikmati dua butir durian Bawor seharga Rp 450.000. Itu masih seharga durian-durian lain yang memang enak. Bahkan harga Musang King di Tokopedia, paling tinggi Rp 800.000 per kemasan 450 gram frozen. Durian di Indonesia saat ini masih seperti “benda seni”, bukan produk massal dengan SOP baku seperti di Thailand. Maka harga menjadi suka-suka. Hukum pasar berdasarkan permintaan dan pasokan, masih belum berlaku. Ini juga pernah terjadi pada durian-durian top masa lalu.

     

    Durian Merah

    Tahun 2010, Trubus menurunkan cover story durian merah dari Banyuwangi. Kemudian tahun 2012 majalah ini kembali menampilkan durian pelangi dari Papua Barat. Meski sempat menghubungi Greg Hambali, waktu menulis tentang durian merah Banyuwangi, Trubus seakan menggiring pembaca, bahwa yang mereka tulis itu spesies baru, yang tak ada kaitan dengan durian merah Durio graviolens dari Kalimantan.

    Ketika menampilkan durian pelangi Papua Barat, Trubus sudah lebih obyektif, dengan menampilkan sebanyak mungkin nara sumber. Selain Greg Hambali, juga dihubungi Moh. Reza Tirtawinata. Sumber genetik warna merah pada daging buah durian budidaya (kultivar Durio zibethinus), pasti berasal dari spesies Durio graveolens, yang endemik Kalimantan. Meskipun endemik Kalimantan dan tak ditemukan spesies liarnya di luar Kalimantan, bukan berarti spesies ini tak ada di pulau Jawa. Kontak dagang antara masyarakat Jawa dengan Kalimantan Timur, sudah terjadi sejak zaman Kutai Martadipura (350 – 1605).

    Hingga spesies Durio graveolens bisa saja ada di hutan Banyuwangi. Mengingat di ujung Pulau Jawa ini ada Taman Nasional Baluran, dan Alas Purwo. Bisa pula, gen Durio graveolens ini ada di buah durian Durio zibethinus, yang telah terserbuki bunga jantan Durio graveolens di Kalimantan, lalu buahnya dibawa ke Pulau Jawa. Otomatis biji buah durian Kalimantan ini, ketika tumbuh di Pulau Jawa akan menghasilkan buah durian dengan daging buah merah muda, karena membawa gen Durio graveolens. Dua kultivar durian berdaging buah kemerahan ini, kemudian memang menjadi incaran penggemar durian.

     

    Semangat “Wah”

    Masyarakat Indonesia memang lebih senang sesuatu yang hebat, sesuatu yang “wah”, termasuk komoditas durian. Musang King menarik perhatian masyarakat Indonesia, karena hebat dan wah, dari sisi harga. Bukan produktivitas, bukan ketahanan terhadap hama penyakit, bukan ketahanan buah selama dalam pemasaran. Maka sampai sekarang, Indonesia tak punya kebun durian berskala besar, yang dikelola secara profesional. Beberapa kali para pakar durian di Thailand mempertanyakan, “Mengapa Anda tak mau membangun agroindustri durian dari Aceh sampai Papua, agar bisa panen sepanjang tahun?”

    Kalau saran itu dilaksanakan, Indonesia memang bisa panen durian sepanjang tahun. Sebab bulan Mei panen di Aceh, Juni merambat ke Sumut, terus Juli, Agustus ke selatan terus sampai Desember Januari di Banten, Jawa Barat, Kalimantan. Februari, Maret, April ke Jateng dan Jatim, Bali, NTB, Sulawesi, Maluku dan Papua. Mei kembali lagi ke Aceh. Tak adanya kebun durian besar berskala komersial, tentu bukan hanya kesalahan petani dan investor. Pemerintah tak pernah menginisiasi embrio perkebunan durian skala besar, dalam satu kawasan. Perbankan juga malas menyalurkan kredit karena lamanya pengembalian dan tingginya resiko.

    Di Indonesia, yang selalu menarik perhatian hanyalah kehebatan dan “wah” kultivar durian, terutama dari sisi harga. Sebenarnya pemerintah sudah membatasi impor durian dari Thailand, bersama dengan 12 komoditas horti lainnya. Tapi produksi durian Indonesia hampir tidak berkembang secara signifikan, terutama dari sisi kualitas. Padahal heboh tentang durian yang hebat dan wah, sudah dimulai sejak dekade 1980. Waktu itulah durian Mon Thong jadi bintang. Waktu itu kebun durian yang dibuka tak pernah di satu kawasan seperti di Thailand, dan skalanya di bawah 100 hektare. # # #

     

    Artikel pernah dimuat di Tabloid Kontan
    Foto www.flickr.com

    About

    Leave a Reply

    Your email address will not be published. Required fields are marked *