DIENG DAN BUAH PERSIK
by indrihr • 09/07/2019 • Buah, Sayur, Tanaman Hias, PERTANIAN • 0 Comments
Di samping kanan Losmen Bu Djono, Kaldera Dieng, Wonosobo, Jawa Tengah; ada dua pohon persik. Dua pohon persik itu berbuah tanpa mengenal musim, meskipun buahnya kecil-kecil; hanya sekitar separo dari buah persik yang ada di pasaran.
Di Dieng, pohon persik tak hanya tumbuh di samping Losmen Bu Djono, tetapi juga di beberapa tempat. Masyarakat Dieng menyebut persik sebagai “kemiri buah”. Sebab bentuk buah persik memang mirip kemiri, candlenut, Aleurites moluccanus. Buah persik yang telah masak, akan dikonsumsi burung. Kadang anak-anak mengambilnya dengan galah, atau dengan memanjatnya. Rasa daging buah yang telah masak manis. Tak diketahui dengan pasti, kapan buah persik diintroduksi dari daratan Tiongkok, dan tumbuh liar di dataran tinggi Dieng. Kemungkinan besar persik sudah masuk ke pulau Jawa semenjak zaman Hindu.
Melihat bentuknya, yang tumbuh di Dieng ini memang buah persik, peach, Prunus persica; bukan nektarin (nectarine, Prunus persica var. nucipersica). Persik dan nektarik itu buah mahal. Semahal-mahalnya apel, kisaran harganya hanya Rp 25.000 sampai Rp 50.000 per kilogram. Pir lebih murah dari apel. Kisaran harga pir per kilogram antara Rp 20.000 sampai Rp 40.000. Di situs Tokopedia, buah persik kemasan 950 gram (isi lima buah), ditawarkan seharga Rp 129.500. Persik yang berasal dari daratan Tiongkok itu, memang tak sepopuler apel dan pir, hingga jarang dijumpai di toko-toko buah di Indonesia.
Padahal persik termasuk buah populer yang dibudidayakan di hampir semua negeri beriklim empat musim. Di daratan Tiongkok sendiri, persik sudah dibudidayakan sejak 8.000 tahun yang lalu. Sekarang buah ini sudah menyebar ke seluruh dunia, termasuk yang tumbuh liar di Kaldera Dieng. Organisasi Pangan dan Pertanian Dunia (Food and Agriculture Organization/ FAO), mencatat 10 besar negeri penghasil persik dan nektarin dunia tahun 2017 adalah: (dalam ton) RRT 14.294.973; Spanyol 1.799.685; Italia 1.250.721; Yunani 938.000; AS 775.189; Turki 771.459; Iran 422.365; Mesir 360.723; Chile 332.824; Korea Selatan 295.281.
Peluang Pengembangan
RRT merupakan penghasil persik utama dunia. Hasil persik RRT 2017 sebesar 14,2 juta ton itu masih relatif kecil dibanding dengan hasil apel RRT tahun yang sama sebesar 41,3 juta ton. Saat ini RRT merupakan penghasil apel terbesar dunia. Produksi jeruk keprok RRT 2017 sebesar 18,1 juta ton; masih lebih tinggi dari persik. Tetapi produksi persik RRT 2017 sebesar 14,2 juta ton itu, masih lebih tinggi dari anggur (sebagai buah meja) sebesar 13,1 juta ton. Berarti persik bukan buah murahan, yang di Dieng dibiarkan tumbuh liar dan buahnya dimakan burung. Di negara-negara beriklim empat musim, persik merupakan komoditas penting.
Di Dieng, sudah terbukti buah ini bisa tumbuh liar dan produktif berbuah. Ini sudah merupakan modal yang cukup baik. Buah yang berasal dari pohon persik liar itu berbiji fertil, yang mudah sekali tumbuh di dataran tinggi Dieng. Semaian persik liar ini bisa dijadikan batang bawah, yang disambung dengan persik kultivar unggul sebagai batang atas. Hingga hasil buahnya akan lebih baik dibanding persik liar itu. Di Kebun Percobaan Tlekung, Balai Penelitian Tanaman Jeruk dan Buah Subtropika (Balitjestro); Batu, Jawa Timur; masih dikoleksi klon-klon persik yang bisa diambil entresnya sebagai batang atas.
Dieng merupakan kawasan yang paling cocok untuk pengembangan persik, karena ketinggiannya mencapai 1.900 meter dpl (kaldera), dan di atas 2.000 meter dpl (Patak Banteng dan sekitarnya). Kelemahan dataran tinggi Dieng, kelembapan udaranya terlalu tinggi; hingga tak terlalu cocok untuk pengembangan buah-buahan sub tropis, dibanding Jawa Timur, terlebih Provinsi NTT yang relatif kering. Selain Jawa Tengah dengan dataran tinggi Diengnya; Provinsi Papua juga berpotensi mengembangkan produk pertanian sub tropis. Sebab hanya di Papualah ada kawasan hunian berelevasi di atas 3.000 meter dpl.
Melengkapi Carica
Dataran tinggi Dieng memang istimewa. Sampai sekarang kawasan ini merupakan penghasil kentang dengan kualitas terbaik di Indonesia. Sebab kawasan penghasil kentang lain, misalnya Pangalengan; hanya berelevasi antara 1.000 sampai 1.200 meter dpl. Sidikalang di Sumatera Utara hanya berelevasi 1.700 meter dpl. Kawasan kentang di Dieng berelevasi antara 1.900 sampai 2.400 meter dpl. Sampai sekarang, kentang merupakan komoditas unggulan dataran tinggi Dieng; yang berada di dua kabupaten: Wonosobo dan Banjarnegara. Di lain pihak, kentang juga merupakan penyebab kerusakan lingkungan yang cukup serius.
Selain kentang; Dieng juga dikenal dengan komoditas uniknya. Misalnya kacang Dieng, atau kacang babi (broad bean, Vacia faba); cabe gendot (habanero, Capsicum sinense); Purwoceng (Pimpinella pruatjan); dan carica (mountain papaya, Vasconcellea pubescens). Komoditas-komoditas ini memang hanya dibudidayakan sebagai produk samping. Sebab komoditas utama para petani Dieng tetap kentang. Meskipun hanya sebagai produk samping, carica papaya sudah diolah dan dipasarkan sebagai oleh-oleh khas Dieng. Pasar carica papaya sudah merambah sampai ke Jakarta.
Sebagai kawasan wisata, Dieng relatif lengkap. Ada wisata budaya berupa kompleks candi Hindu, dan tradisi meruwat anak-anak rambut gimbal. Dieng juga merupakan kaldera dengan beberapa kawah yang masih aktif. Produk pertanian negeri sub tropis yang hanya ada di Dieng, sayangnya belum menjadi andalan wisata pertanian. Bahkan kentang terbaik dari Dieng justru ada di DKI Jakarta. Apabila bisa dikembangkan, buah persik akan bisa melengkapi carica yang sekarang sudah menjadi merk dagang wisata Dieng. Upaya pengembangan persik seyogyanya diambil oleh Dinas Pertanian Provinsi, agar tak disengketakan oleh Kabupaten Wonosobo dan Banjarnegara. # # #
Artikel pernah dimuat di Tabloid Kontan
Foto F. Rahardi
