• GULMA OTOK OWOK

    by  • 17/07/2019 • Buah, Sayur, Tanaman Hias, PERTANIAN • 0 Comments

    Di Bogotá, ibukota Kolombia, Amerika Selatan; jangan lupa menyantap sup Ajiaco. Dalam Bahasa Spanyol dibacanya a’xjako. Sup Ajiaco terbuat dari tiga jenis kentang, daging ayam, dan pucuk guasca sebagai bumbunya.

    Guasca itu berupa terna semusim, yang tumbuh sampai setinggi maksimal 75 sentimeter. Di Indonesia, terutama di Jawa, guasca dikenal sebagai gulma dataran tinggi, dengan nama antara lain loseh, otok owok, balakaciut, joletos, jukut loseh dan jangkung. Masing-masing daerah, bahkan desa, menyebut gulma otok owok dengan berbagai nama. Dalam Bahasa Inggris, gulma otok owok disebut gallant soldier, quickweed, potato weed. Nama botaninya Galinsoga parviflora. Gulma otok owok memang berasal dari Amerika Latin, tetapi sekarang sudah menyebar ke seluruh kawasan tropis dan sub tropis di seluruh dunia.

    Nama genus Galinsoga digunakan sebagai penghormatan terhadap ahli botani Spanyol, Ignacio Mariano Martinez de Galinsoga (1756 – 1797). Nama spesies parviflora, berarti “berbunga kecil”. Otok owok memang berbunga kecil, bagian tengah kuning dengan tiga sampai 8 mahkota bunga yang berukuran kurang dari satu milimeter. Bunga otok owok edible. Berikut daun muda, bunga kecil-kecil ini ikut dipetik dan dikonsumsi. Di kawasan pegunungan di Jawa, masyarakat biasa mengonsumsi gulma otok owok, dengan gulma edible lainnya. Misalnya krokot (resereyan, gelang biasa, common purslane, Portulaca oleracea).

    Di desa-desa di kawasan pegunungan di Jawa Tengah, gulma otok owok biasa dikonsumsi sebagai urap. Tekstur otok owok dan krokot demikian lembut, hingga memasaknya cukup hanya dicelupkan ke air mendidih beberapa menit, kemudian diangkat dan ditiriskan. Kadang masyarakat juga mengukus sayuran otok owok, agar tidak terlalu lunak. Di Kecamatan Selo, Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah, gulma otok owok cukup populer dikonsumsi dengan sambel orek, ikan asin dan nasi jagung. Di Kolombia, selain untuk penyedap Sup Ajiaco, otok owok juga biasa dikonsumsi mentah sebagai salad.

    Kew Weed

    Tahun 1976, untuk pertamakalinya otok owok dibawa dari Peru ke Kew Garden di London, Inggris. Di Kew Garden, otok owok ditaruh di dalam rumah kaca, yang terisolasi dari dunia luar. Tetapi biji otok owok yang sangat kecil itu mudah sekali menyebar dan menempel di baju, celana dan sepatu. Dalam waktu sangat singkat otok owok lepas dari rumah kaca Kew Garden, dan menjadi gulma liar di seluruh Inggris. Maka di Inggris, otok owok juga disebut sebagai gulma Kew (Kew Weed). Otok owok tak hanya “lepas” dan menjadi liar di Inggris, tetapi juga ke seluruh Eropa dan menjadi gulma di ladang kentang.

    Otok owok masuk ke Indonesia, terutama Jawa dan Sumatera, bersamaan dengan diintroduksinya komoditas kentang. Benih kentang yang berupa umbi dan kadang masih terikut tanahnya, juga membawa biji-biji gulma, termasuk biji otok owok. Kentang merupakan komoditas dataran tinggi, sama dengan habitat asli otok owok. Di Pulau Jawa kentang hanya bisa dibudidayakan di lahan berketinggian di atas 1.000 meter dpl. Otok owok yang salah satu nama Inggrisnya potato weed, sudah mulai bisa dijumpai di lahan berketinggian 700 meter dpl. Di lahan berketinggian di atas 1.000 meter dpl, gulma otok owok akan tumbuh semakin subur.

    Karena perkembangannya sangat mudah dan cepat, otok owok juga menyebar di luar kawasan penghasil kentang. Sama dengan kerokot, sintrong dan tempuh wiyang; otok owok juga hanya akan tumbuh subur di lahan budidaya, bersamaan dengan komoditas utama. Selain tumbuh di sela-sela tanaman kentang, otok owok juga merupakan gulma sayuran dataran tinggi seperti kol, daun bawang, seledri, dan wortel. Otok owok sulit untuk tumbuh di lahan nganggur bersama rumput liar di antara belukar. Di luar lahan budidaya, otok owok akan tumbuh di lahan yang baru saja dibuka atau diurug. Misalnya untuk pembangunan jalan.

    Nilai Ekonomis

    Di Kota Kecamatan Sela, Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah; otok owok, daun adas, pucuk labu siam, sambel korek, nasi jagung dan ikan asin merupakan menu yang ditawarkan ke wisatawan. Sela (se dibaca seperti pada selat, selir, selam); berarti celah. Kota kecamatan yang berketinggian 1.100 meter dpl ini berada di celah gunung Merapi dan Merbabu, di jalur jalan raya Boyolali – Blabag (Magelang). Kota kecamatan ini banyak didatangi wisatawan asing untuk naik Merapi, atau wisatawan lokal yang ingin menikmati udara dingin dan pemandangan indah. Mereka inilah yang ditawari menu sayur otok owok.

    Belakangan ini banyak terbentuk desa wisata dengan pengelola masyarakat setempat di bawah Balai Ekonomi Desa (Balkondes); yang didukung oleh Kementerian BUMN. Sayangnya, desa-desa wisata ini hanya sekadar menjual tempat selfie, dan sekarang juga kopi yang sedang booming. Di sebuah obyek wisata agro, para pengunjung dijamu dengan sayuran modern seperti caisim dan kol. Padahal di lahan-lahan pertanian obyek wisata agro itu, banyak tumbuh gulma yang edible. Karena obyek wisata agro itu masih berada di elevasi 400 meter dpl, otok owok masih belum tumbuh. Tetapi ada tempuh wiyang, krokot, sintrong, dan lain-lain.

    Dengan memanfaatkan gulma sebagai sayuran sehari-hari; dan juga untuk menjamu para wisatawan; dua keuntungan bisa diraih. Pertama, gulma itu memang harus dibuang. Biaya untuk membuang gulma tidak perlu keluar karena pemetik gulma akan memanfaatkannya sebagai sayuran. Bagi konsumen gulma, tak perlu keluar biaya transpor ke pasar dan biaya membeli sayuran. Keuntungan kedua, wisatawan yang datang akan mendapatkan pengalaman eksotis dengan mengonsumsi gulma. Di Sela, sehabis yang menyantap sayur otok owok, wisatawan akan bertanya, “Sayur apa tadi kok enak sekali?” # # #

    Artikel pernah dimuat di Tabloid Kontan
    Foto F. Rahardi

    About

    Leave a Reply

    Your email address will not be published. Required fields are marked *