• TRAGEDI KEPUNAHAN AREN

    by  • 25/07/2019 • Perkebunan, PERTANIAN • 0 Comments

    Dekade 1950, populasi aren di Pulau Jawa masih aman. Masyarakat percaya, bahwa kolang-kaling biji aren; hanya bisa ditumbuhkan oleh luwak. Masyarakat pedesaan yakin 100% bahwa selain luwak, tak ada yang bisa menumbuhkan kolang-kaling.

    Dekade 1950, Indonesia, terutama Pulau Jawa dilanda krisis pangan. Batang aren menjelang produktif, ditebang untuk diambil patinya. Pati aren pada dekade itu merupakan bahan pangan pengganti beras, jagung dan singkong yang harganya melangit. Populasi aren di Jawa turun drastis. Belakangan penebangan aren untuk diambil patinya terus berlangsung. Sekarang pati aren bukan dikonsumsi langsung sebagai pengganti beras, jagung dan singkong; melainkan untuk bahan soun. Jadi sampai sekarang, tanaman aren yang ditumbuhkan luwak, tak pernah bisa mengimbangi batang aren dewasa yang ditebang untuk diambil patinya.

    Dulu, aren juga tetap diambil kolang-kalingnya. Tetapi konsumen kolang-kaling sangat terbatas. Waktu itu bulan Ramadan berlangsung dengan biasa. Belum ada tradisi mengonsumsi kolak, yang salah satu bahannya biji kolang-kaling. Sekarang tiap menjelang bulan Ramadan, para perajin kolang-kaling akan mengambil buah kolang-kaling muda, merebus atau membakarnya, mengambil biji mudanya, memipihkannya, lalu merendamnya di air kapur; untuk dipasarkan secara bertahap selama bulan Ramadan. Kolang-kaling menjadi komoditas penting tiap bulan Ramadan. Ini juga ikut berperan memperkecil peluang regenerasi aren.

    Dampak konsumsi kolang-kaling secara massal selama Ramadan, jumlah tandan yang akan menjadi tua dan dimakan luwak juga menurun drastis. Ditambah lagi, populasi luwak di alam juga ikut menurun, karena rusaknya lingkungan. Apabila tak ada upaya secara massal untuk membenihkan aren, suatu saat tanaman multi guna ini akan benar-benar punah dari Indonesia, paling tidak akan sulit dijumpai di Pulau Jawa. Selain menghasilkan pati dan kolang-kaling, bunga jantan aren juga disadap air niranya sebagai bahan gula merah, gula palma dengan kualitas dan kuantitas lebih tinggi dari gula kelapa.

    Aren Sebagai Obyek Wisata Agro

    Selain penghasil pati, kolang-kaling dan gula merah; sebelum produktif aren akan menghasilkan ijuk, yakni serat pelindung pelepah daun berwarna hitam yang kuat dan awet. Meskipun sekarang sudah diproduksi massal serat sintetis yang juga kuat dan awet, tetapi tak bisa menggantikan peran ijuk. Batang aren tua juga merupakan penghasil ruyung (kayu keras dan awet). Di Pulau Jawa, ruyung biasa digunakan sebagai tangkai cangkul, dan papan penutup jembatan. Penyangga jembatan biasanya kayu johar yang keras, hitam, kuat dan awet. Tulang daun aren menghasilkan bahan sapu lidi yang lebih kuat dari lidi daun kelapa.

    Serat pelepah daun aren yang berwarna putih, dan juga sangat kuat; dulu digunakan oleh masyarakat tradisional untuk penjerat burung. Sekarang, serat itu bisa digunakan sebagai bahan kerajinan. Misalnya gelang, kalung, dan gantungan kunci. Bulu-bulu halus dan tebal pada bagian luar pelepah daun dalam Bahasa Jawa disebut kawul. Sebelum ada korek api, masyarakat di Jawa memanfaatkan kawul untuk membuat api. Baja (thithikan), dipukulkan ke batu api (watu thithikan). Percikan bunga api yang timbul, ditangkap dengan kawul hingga terbakar. Api kawul diperbesar dengan serutan kayu hingga menyala.

    Rangkaian kegiatan pengambilan ijuk, penyadapan nira dan pengolahannya menjadi gula merah, pengambilan dan pengolahan kolang-kaling, pengambilan serat pelepah daun, dan atraksi membuat api dengan kawul; potensial untuk dijual sebagai obyek wisata agro. Penebangan aren pra produktif untuk diambil patinya, sebaiknya hanya diceritakan ke wisatawan; dan bukan dilakukan. Sebab penebangan aren pra produktif inilah yang menjadi penyebab punahnya tumbuhan serbaguna ini. Daya tarik aren sebagai obyek wisata agro, akan lebih tinggi lagi apabila disertai cerita rakyat/legenda tentang tanaman ini.

    Upaya Penyelamatan

    Keyakinan masyarakat bahwa aren hanya bisa ditanam oleh musang, sebenarnya tidak benar. Biji semua jenis buah, baru akan berkecambah (bukan busuk), apabila semua daging buah itu dibersihkan. Biji dikeringkan, baru kemudian dikecambahkan. Musang memang hewan istimewa. Sebab ia doyan makan buah kolang-kaling yang sangat gatal karena kandungan kalsium oksalatnya sangat tinggi. Rongga mulut dan lambung luwak mampu memroduksi asam yang bisa menetralkan kalsium oksalat. Dalam lambung dan usus luwak, buah kolang-kaling dilumat dan difermentasi, hingga bijinya benar-benar bersih.

    Luwak biasanya bersarang di rumpun bambu. Fases luwak dengan biji kolang-kaling utuh yang telah bersih itu jatuh di sekitar rumpun bambu, lalu mengering. Nanti, waktu hujan turun, biji kolang-kaling ini akan tumbuh. Itulah sebabnya aren banyak tumbuh di sekitar rumpun bambu. Proses pembersihan, fermentasi, dormansi dan pengecambahan biji kolang-kaling ini, bisa dibuat oleh manusia. Saat memanen kolang-kaling untuk diolah dan dipasarkan sekitar Ramadan, sebaiknya disisakan barang satu sampai dua tandan. Biarkan buah kolang-kaling ini masak di pohonnya dan berjatuhan.

    Buah kolang-kaling masak ini dikupas. Tangan pengupas harus pakai sarung tangan, dan baju lengan panjang, agar tak kena kalsium oksalat. Biji kolang-kaling yang masih berlapis daging buah dikumpulkan dalam wadah, lalu diberi ragi tapai. Biarkan antara dua sampai tiga hari. Setelah itu biji dicuci bersih, dikeringkan dan disimpan antara satu sampai dua bulan. Biji yang telah mengalami dormansi itu kemudian disemaikan dalam wadah berisi pasir dan humus bambu. Perkecambahan akan terjadi setelah paling sedikit tiga bulan. Kecambah kolang-kaling dipindahkan ke polybag, dan dirawat sampai siap ditanam di lapangan. # # #

    Artikel pernah dimuat di Tabloid Kontan
    Foto F. Rahardi

    About

    Leave a Reply

    Your email address will not be published. Required fields are marked *