“SEDAP MALAM” UNTUK SUP KIMLO
by indrihr • 01/08/2019 • Buah, Sayur, Tanaman Hias, PERTANIAN • 0 Comments
Di situs Tokopedia bunga sedap malam kering untuk sup kimlo ditawarkan seharga Rp 10.000 per 50 gram (Rp 200.000 per kilo). Di situs Bukalapak, harga produk serupa Rp 6.000 per 30 gram (Rp 200.000 per kilo). Harga di pasar tradisional kurang lebih sama.
Selain disebut “sedap malam”. Produk ini juga dikenal sebagai bunga pisang, kinca, bahkan ada yang menamakannya bunga kenanga. Bahan sup kimlo yang diikat (dibundel) itu memang benar kuncup bunga kering. Akan tetapi bukan bunga sedap malam (Polianthes tuberosa), juga bukan bunga pisang (Musa acuminata), apalagi kenanga (Cananga odorata). Sedap malam kimlo terbuat dari kuncup bunga lily kuning. Jenis lily ini lain dengan lily asli, true lily, genus Lilium, yang terdiri dari 110 spesies, dengan spesies paling terkenal lily putih, lily paskah, easter lily, Lilium longiflorum.
Lily bahan kimlo ini di pasar dunia dikenal dengan nama dried golden needles, yang merupakan kuncup bunga daylily, Hemerocallis fulva. Genus Hemerocallis terdiri dari 40 spesies dan 450 kultivar. Kultivar-kultivar itu dibudidayakan di RRC, Taiwan, Korea, dan Jepang. Di negara-negara ini, kuncup bunga daylily, dikeringkan untuk disayur pada musim dingin. Selain itu, daylily juga dipasarkan segar sebagai sayuran, “goreng tepung” untuk cemilan. Di Indonesia, dried golden needles bukan sekadar bahan sup kimlo, melainkan untuk berbagai masakan China, Jepang, dan Korea.
Satu-satunya masakan Indonesia yang menggunakan dried golden needles hanyalah kimlo. Itupun dengan disertai salah sebut. Di kios penjual bahan kimlo dan Chinese Food, si penjual akan bingung apabila kita meminta bunga lily kuning kering. Sebab sebutan yang umum memang “sedap malam” kering. Padahal kuncup bunya sedap malam, lebih kecil dan lebih pendek dibanding kuncup lily kuning. “Sedap malam” kering yang dipasarkan di Indonesia, 100% produk impor, terutama dari RRT. Impor “sedap malam” kering Indonesia relatif kecil, hingga tak terdaftar sebagai produk impor oleh Badan Pusat Statistik (BPS).
Ada di Indonesia
Tanaman daylily sebenarnya banyak tumbuh di kawasan dataran tinggi di Indonesia. Di sekitar Berastagi, Parapat, Bukit Tinggi (Sumatera); Puncak, Selabintana, Lembang, Ciwidey, Baturaden, Bandungan, Kopeng, Tawangmangu, Batu (Jawa); Bedugul dan Kintamani (Bali); Malino, Tomohon (Sulawesi); banyak tumbuh daylily warna kuning. Masyarakat setempat juga menyebutnya sebagai lily kuning. Namun masyarakat setempat tidak tahu, bahwa kuncup bunga ini merupakan komoditas sayuran penting di RRC, Taiwan, Korea, dan Jepang. Mereka hanya tahu bahwa bunga lily kuning itu tanaman hias.
Dalam sebuah acara seminar di Puncak, salah satu menu makan siangnya sup kimlo. Ketika saya bertanya ke pengelola wisma, apakah ia tahu dari bunga apa bahan sup kimlo itu terbuat, ia menjawab “bunga sedap malam”. Ia kaget dan tak percaya ketika saya beritahu bahwa “sedap malam” itu merupakan kuncup bunga lily kuning yang banyak tumbuh di halaman wisma sebagai elemen taman, bahkan sebagian tumbuh liar. Bunga daylily memang mudah sekali tumbuh di dataran tinggi, dengan elevasi di atas 700 m. dpl. Tanpa perawatan pun tanaman ini akan rajin berbunga. Perbanyakan tanaman melalui pemisahan anakan.
Produk yang dipanen hanya kuncup bunga menjelang mekar. Diperlukan keahlian tersendiri untuk memilih kuncup yang siap mekar. Sebab terlalu muda kualitas dried golden needles akan rendah, sementara terlambat sedikit, kuncup akan terlanjur mekar. Selain dikeringkan, kuncup bunga segar itu bisa langsung disayur, dikukus sebagai bahan pecel atau urap; atau dicelup tepung dan digoreng untuk menjadi bahan snack. Ketika pengelola wisma di Puncak itu mencoba memanen kuncup bunga lily kuning, menggoreng dan menyajikannya ke peserta seminar, tak ada yang tahu bahwa snack itu kuncup bunga di halaman wisma.
Sebagai Obyek Wisata
Pegunungan Liushidan, Hualin; dan Sixty Rock, Taitung berketinggian di atas 1.000 meter dpl. Dua pegunungan itu, tiap bulan Juli dan Agustus akan penuh dengan wisatawan. Tiap Juli dan Agustus, dua pegunungan di Taiwan itu akan berwarna kuning karena bunga lily kuning tengah bermekaran. Hualien dan Taitung County di Taiwan; telah menjadikan hamparan lily kuning di dua pegunungan itu sebagai obyek wisata. https://www.foodiebaker.com/daylily-flowers-at-sixty-stone-mountain-liushidan-mountain-taiwan/ Kita bisa berjalan-jalan menikmati cuaca cerah musim panas, bisa duduk-duduk mencicipi kuncup bungalily kuning goreng tepung; atau sup segarnya.
Tak jarang kita lihat pasangan calon pengantin yang sedang berpose untuk prewedding photo. Yang paling banyak tentu mereka yang akan foto selfie, atau mengambil gambar para petani yang sedang memanen kuncup lily kuning. Bahkan para wisatawan juga bisa ikut memanen kuncup lily kuning, bersama para petani itu. Obyek wisata“Taman Lily Kuning” di dua pegunungan di Taiwan itu sebenarnya memang lahan lily kuning milik para petani. Taiwan memang serius mengembangkan lily kuning sebagai komoditas sayuran. Di seluruh negeri pulau ini ada 650 hektar lahan bunga lily kuning.
Kawasan pegunungan di Indonesia, bisa mencoba mengembangkan budidaya lily kuning sebagai penghasil “sedap malam kering”; sekaligus untuk dijadikan obyek wisata. Orang Indonesia itu kekurangan obyek wisata. Karenanya kebun kembang torong, Barbados lily, Hippeastrum puniceum di Patuk, Gunung Kidul, DIY; tiap bulan September/Oktober menjadi ajang wisata selfie. Media massa mainstreem Indonesia, termasuk Kompas; keliru menyebut kembang torong ini sebagai amarilis. Lily kuning akan berbunga sepanjang tahun; beda dengan kembang torong dan amarilis yang musiman. # # #
Artikel pernah dimuat di Tabloid Kontan
Foto F. Rahardi
