KLEDUNG, KESEMEK DAN PERSIMMON
by indrihr • 10/09/2019 • Buah, Sayur, Tanaman Hias, PERTANIAN • 0 Comments
Di Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah, ada sebuah desa bernama Kledung, yang sekaligus menjadi “ibukota” Kecamatan Kledung. Desa ini terletak di “celah” Gunung Sindoro (3.136 meter dpl) dan Gunung Sumbing (3.371 meter dpl).
Desa ini dilewati jalan negara Wonosobo – Parakan. Persis di tempat tertinggi jalan raya ini, terletak Desa Kledung. Kalau kita berjalan dari arah Wonosobo, sesampai di Kledung dan cuaca sedang cerah, akan tampak Gunung Sindoro di sebelah kiri; dan Gunung Sumbing di sebelah kanan. Sejak dekade 1980an, di desa ini ada restoran dan hotel Kledung Pass. Desa ini diberi nama Kledung, karena dulunya banyak tumbuh pohon kledung, kesemek, Asian persimmon, Diospyros kaki. Kadang kledung juga disebut buah genit, karena buah yang dijual di pasar berlumur kapur warna putih seperti bedak.
Meskipun sekarang pohon kledung sudah tak bisa dijumpai, desa ini tetap bernama Kledung. Barangkali karena tahu nama Desa Kledung berasal dari buah kledung, Hotel Kledung Pass menanam satu batang kledung di tepi kiri jalan masuk ke hotel tersebut. Tanaman kledung di Hotel Kledung Pass itu masih kecil. Tapi lumayan, paling tidak nantinya para tamu hotel dan restoran akan tahu, bahwa nama Desa Kledung berasal dari nama pohon ini. Di beberapa kawasan sentra kledung, di Jawa Timur, Jawa Tengah, DIY, dan Jawa Barat; sekarang sudah sulit dijumpai tanaman ini.
Beberapa sentra kledung yang masih tersisa antara lain di Kecamatan Sela (celah Merapi dan Merbabu), di Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah. Di kampung Palutungan, Desa Cisantana, Kecamatan Cigugur, Kabupaten Kuningan, Jawa Barat; dan di Ciseureupan, Kabupaten Garut, Jawa Barat. Di tiga kawasan ini pun, kledung tumbuh di sela-sela petakan lahan sayuran. Tidak ada kebun kledung monokultur berskala komersial, karena potensi pasar buah ini di Indonesia masih tergolong sangat kecil. Juga belum ada upaya pengawetan (pengeringan), hingga selama ini kledung hanya dipasarkan segar.
Direndam Kapur
Kesemek berasal dari timur laut Tiongkok, Korea, dan Jepang. Ada kultivar dengan buah kelat (sepet, astringent); ada kultivar dengan buah tidak kelat (non-astringent). Kultivar astringent tidak bisa dikonsumsi langsung, karena kadar zat tannin dalam buah sangat tinggi. Tannin inilah yang menyebabkan rasa buah menjadi kelat. Rasa kelat buah kesemek, bisa dihilangkan dengan berbagai cara. Mulai dari penjemuran, pemberian zat etilen (ethylene, C2H4), karbon dioksida (CO2), sampai ke perendaman dengan air kapur sirih (CaOH) paling sedikit selama 24 jam. Di Indonesia umumnya kesemek direndam air kapur sirih.
Sebenarnya kultivar kesemek tidak kelat pun, masih tetap ada rasa kelatnya, hanya tidak sekuat buah dari tanaman kultivar kelat. Meskipun ada kultivar non-astringent persimmon, yang paling banyak dibudidayakan tetap astringent persimmon. Sebab kultivar non-astringent persimmon berdaging buah warna kecoklatan. Meski langsung berasa manis tanpa perlu perlakuan apa pun, buah kesemek dengan daging buah warna coklat tak terlalu disukai. Karenanya di Tiongkok, Korea, dan Jepang; yang paling banyak dibudidayakan tetap non-astringent persimmon, dengan daging buah warna kuning atau oranye.
Di tiga negeri itu, kesemek sudah dikebunkan secara massal. Dengan volume panen cukup besar, penghilangan rasa kelat dengan etilen, menjadi dimungkinkan. Selain bisa menghilangkan rasa kelat, etilen juga akan mengubah warna kulit buah dari kehijauan menjadi kuning. Hampir semua buah produksi massal, dikuningkan (degreening) dengan pemberian etilen. Pisang cavendish, jeruk keprok/manis, nanas, semua diberi etilen agar bisa berwarna kuning merata. Di Indonesia, kesemek masih menjadi buah kelas dua, dengan penanganan pasca panen ala kadarnya, hingga masih sulit dijumpai di pasar swalayan.
Andalan Wisata Agro
Sebenarnya kesemek bisa menjadi salah satu produk andalan wisata agro. Sela, Palutungan dan Ciseureupan, kawasan yang masih ditumbuhi tanaman kesemek; merupakan tempat tujuan wisata. Menjual buah kesemek ke para wisatawan, akan lebih menguntungkan dibanding membawa dan menjualnya ke kota. Bahkan, para wisatawan itu bisa diajak untuk memanen (memetik) kemudian melihat pemeraman (perendaman) buah kesemek dengan air kapur. Untuk itu diperlukan modal guna “menebus” pohon kesemek mereka. Sebab selama ini pemilik pohon sudah terikat kontrak dengan para tengkulak.
Buah kesemek juga bisa dikeringkan. Syaratnya, buah harus dibiarkan masak pohon, berwarna oranye dan empuk. Kultivar yang paling kelat sekalipun, akan hilang kekelatannya apabila buah dibiarkan sampai masak pohon, bahkan sampai jatuh. Buah-buah masak ini bisa dikeringkan dengan cara digantung di barak pengeringan. Atap barak pengeringan ini dibuat dari plastik tembus cahaya. Cukup plastik bening biasa, tak usah yang UV. Cara lain digunakan atap rumbia, dan di bawah barak pengeringan dinyalakan api, agar asapnya membantu mengeringkan, sekaligus mengawetkan kesemek.
Di situs Alibaba, harga kesemek kering antara 2 – 3 dollar AS (Rp 28.000 – Rp 42.000 per kilogram) dengan minimal order 10 kilogram. Di situs Amazon, kesemek kering bobot 2 lb (0,907 kilogram), dibanderol 24,99 dollar AS (Rp 349.860). Di situs Made-In-China.com; kesemek kering dijual antara 5.000 dollar AS (Rp 70 juta), sampai 7.000 dollar AS (Rp 98 juta) per ton. Minimal orden satu ton. Bagi RRT, Korea, dan Jepang, kesemek merupakan salah satu produk unggulan. Mereka juga membuka paket wisata agro kesemek, selama panen yang jatuh pada musim panas. # # #
Artikel pernah dimuat di Tabloid Kontan
Foto F. Rahardi
