• POTENSI EKONOMI ASAM JAWA

    by  • 07/10/2019 • Buah, Sayur, Tanaman Hias, PERTANIAN • 0 Comments

    Badan Pusat Statistik mencatat, tahun 2018 Indonesia mengekspor produk asam jawa kering dan segar sebesar 15.982,5 ton dengan nilai Rp 110 miliar. Tetapi pada tahun 2018, kita juga mengimpor produk asam jawa 454,5 ton senilai Rp 33,4 miliar.

    Dalam perdagangan asam jawa, Indonesia surplus sebesar Rp 76,6 miliar. Untuk apa kita mengimpor asam jawa? Indonesia mengimpor asam manis (sweet tamarind) dari Thailand, dan ekstrak biji asam dari India. Asam manis dari Thailand merupakan produk buah asam, yang bisa dikonsumsi langsung karena rasanya manis. Ekstrak biji asam dari India diimpor oleh industri pencetakan kain. Ekstrak biji asam merupakan salah satu zat pewarna coklat pada pencetakan kain, terutama kain dengan motif batik. Indonesia mengekspor produk asam jawa kering, sebagai bahan bumbu dan asam jawa segar sebagai bahan sayur asam.

    Ekspor produk asam jawa Indonesia senilai Rp 110 miliar; belum termasuk produk olahan dengan bahan baku asam jawa. Misalnya permen dan minuman asam jawa. Serbat, sharbat, merupakan minuman khas Timur Tengah dan India, yang salah satu bahan bakunya asam jawa. Saat ini ABC, Ultra Jaya dan Injoy; merupakan tiga dari beberapa merk yang sudah memroduksi minuman asam jawa dalam kemasan di Indonesia. Belakangan minum asam jawa menjadi trend karena produk ini dipercaya bisa membantu penurunan berat badan, juga mengatasi peningkatan kadar kolesterol dan gula darah.

    India merupakan produsen sekaligus eksportir produk asam jawa utama dunia. Enam negara bagian India penghasil asam jawa adalah Karnataka, Tamil Nadu, Kerala, Telangana, Maharashtra dan Andhra Pradesh. Keenam negara bagian India itu terletak di selatan India yang beriklim tropis. Asam jawa dari India, digunakan oleh produsen saus terkenal dunia seperti HP Foods Limited (saus HP) di Birmingham, Inggris; dan Lea & Perrins (saus Worcestershire) di Worcestershire, juga di Inggris. Dari sejak zaman pra sejarah; India memang terkenal sebagai penghasil bumbu dan rempah.

    Bukan dari Jawa

    Meskipun bernama asam jawa, tumbuhan ini bukan berasal dari pulau Jawa. Dalam Bahasa Inggris asam jawa disebut tamarind. Nama botaninya Tamarindus indica. Meskipun menyandang nama indica, asam jawa juga bukan tumbuhan asli India. Tanaman ini berasal dari Afrika tropis: Sudan, Kamerun, Nigeria, Zambia dan Tanzania. Dari sini asam jawa menyeberang ke Jazirah Arab, dan kemudian ke India, Indochina, Tiongkok, dan Indonesia, terutama Pulau Jawa. Penyebaran asam jawa ke Jawa, bersamaan dengan era perdagangan rempah-rempah, terutama cengkih; yang hanya terdapat di lima pulau kecil di Kepulauan Maluku.

    Pada abad 17, asam jawa menyebar ke kawasan tropis di Australia dan Amerika. Ketika Daendels membangun jalan raya dari Anyer sampai Panarukan di pulau Jawa, asam jawa menjadi pohon peneduh utama. Asam jawa dipilih karena tajuknya yang rindang (teduh tetapi tidak gelap). Percabangan tanaman ini kuat, ranting-rantingnya liat hingga tidak mudah patah, batangnya kokoh dengan perakaran yang dalam hingga tak mudah roboh. Asam Jawa bisa tahan hidup sampai ratusan tahun. Sisa-sisa asam jawa peninggalan Daendels ini sekarang sudah berumur 200 tahun lebih, dan bisa dijumpai di Asembagus, Situbondo, Jawa Timur.

    Asam jawa juga terkenal karena tahan kekeringan. Di kawasan kering seperti Pasuruan, Probolinggo, dan Situbondo; Jawa Timur; asam jawa merupakan pohon peneduh yang tahan banting. Bahkan di pulau Komodo, NTT; asam jawa juga tumbuh liar bersamaan dengan kayu jaran dan tumbuhan dataran rendah kering lainnya. Asam manis dari Thailand; merupakan produk kawasan kering di Thailand Tenggara, yang berbatasan dengan Kamboja. Negara bagian Karnataka, penghasil utama asam jawa di India; merupakan daerah dengan iklim yang juga ekstrim kering. Ini bisa dimaklumi karena asam jawa berasal dari Afrika tropis yang juga beriklim sangat kering.

    Sayur Asam

    Menu andalan kita dengan bahan baku asam jawa; barulah sayur asam. Menu ini sudah diterima secara nasional, bahkan dunia. Orang-orang asing yang masuk restoran Indonesia, umumnya bisa menikmari sayur asam sebagai “Indonesian Soup”. Bagi masyarakat Indonesia, asam jawa memang identik dengan sayur asam. Paling jauh dengan minuman kunyit asam. Produk asam segar untuk bahan sayur asam, selama ini masih “diburu” dari alam. Para pedagang sayur mendapatkan pasokan asam jawa segar (masih keras) dari para pengumpul (pencari), yang memanen buah ini dari pohon peneduh jalan.

    Buah asam jawa masak sebagai bumbu; juga masih dipungut dari pohon asam yang ditanam sebagai peneduh, atau yang tumbuh liar. Sebab sampai sekarang belum ada yang berminat membudidayakan asam jawa secara serius. Perusahaan permen dan minuman asam, juga masih mengandalkan pasokan buah asam tua, yang diambil dari pohon-pohon liar di kawasan kering. Hukum pasar menunjukkan, masih terjadi keseimbangan antara permintaan dengan pasokan, yang hanya mengandalkan dari pohon asam liar, atau pohon asam sebagai peneduh jalan. Karenanya budidaya asam secara monokultur dalam sebuah kebun masih belum diperlukan.

    Lain halnya dengan asam jawa di India dan asam manis di Thailand. Bagi India, asam jawa merupakan salah satu komoditas bumbu dan bahan pewarna penting. Bahkan buah mudanya juga sudah diolah menjadi asinan (pickle). Bagi Thailand, asam manis merupakan komoditas khas oleh-oleh dari negeri tersebut. Asosiasi orang mendengar nama buah asam, selalu rasa masam. Thailand bisa menunjukkan bahwa buah asam yang selama ini berasa masam itu, ternyata manis hingga bisa dikonsumsi langsung. Indonesia, sebenarnya juga berpotensi membudidayakan asam manis seperti halnya Thailand, kalau mau. # # #

    Artikel pernah dimuat di Tabloid Kontan
    Foto F. Rahardi
    .

    About

    Leave a Reply

    Your email address will not be published. Required fields are marked *