SUWEG LIAR DI TAMAN NASIONAL BALURAN
by indrihr • 14/10/2019 • Pangan, PERTANIAN • 0 Comments
Kalau ingin melihat kerbau liar, rusa jawa dan merak hijau dari jarak dekat; datanglah ke Taman Nasional Baluran di Kabupaten Situbondo, Jawa Timur. Sebab Taman Nasional Baluran terkenal dengan sabana (padang rumput) yang sangat luas.
Luas Taman Nasional Baluran 250 km2 dan 40% berupa sabana. Di sabana itulah hidup kerbau liar (wild water buffalo, Bubalus arnee); rusa jawa (javan rusa, Rusa timorensis); dan merak hijau (green peafowl, Pavo muticus). Tiga satwa itulah yang rutin bisa dilihat di sabana Taman Nasional Baluran. Di taman nasional lain; misalnya Taman Nasional Ujung Kulon, tiga satwa ini sulit terlihat karena berada di hutan belantara yang lebat. Satwa Baluran akan terlihat jelas pada pagi dan sore hari tanpa binolular (teropong). Kamera DSLR dengan zoom 300 mm, juga sudah bisa mengabadikan satwa-satwa itu dengan cukup jelas.
Datanglah ke Taman Nasional Baluran pada bulan Mei. Sebab pada bulan itu, cuaca sudah mulai cerah, tak banyak hujan; tetapi rumput masih cukup hijau. Pada bulan-bulan selanjutnya, kemarau sudah membuat udara Baluran terasa sangat panas dan berdebu. Sebagian besar rumput juga sudah mengering. Kecuali di beberapa tempat yang terimbas genangan air. Hujan di Baluran hanya berlangsung selama tiga sampai empat bulan, antara November sampai Februari. Selebihnya kemarau. Datang ke Baluran pada musim penghujan juga tidak enak, karena sabana menjadi sangat becek, sebagian malah berubah menjadi kubangan lumpur.
Di Taman Nasional Baluran juga tumbuh aneka flora. Diantaranya asam jawa, mimba, kepuh dan gebang. Di bawah tegakan pohon dan perdu, serta di antara kerimbunan semak tampak aneka liana, terna dan rumput. Dan sejak meninggalkan gerbang Taman Nasional, sampai ke Pantai Bama; di kiri kanan jalan yang beraspal mulus itu tampak suweg liar (elephant foot yam, whitespot giant arum, Amorphophallus paeoniifolius). Populasi suweg liar di Taman Nasional Baluran cukup besar, jika dibanding dengan di taman nasional lain, termasuk di Taman Nasional Ujung Kulon di Pandeglang, Banten.
Juga Edible
Penampilan tanaman umbi suweg liar itu, sama dengan umbi suweg yang dibudidayakan petani. Baik bentuk, ukuran serta wana daun, tangkai serta pelepah, maupun umbinya. Loreng warna pelepah daun juga beragam, sama dengan umbi suweg budidaya. Semua hijau muda, dengan pola totol berwarna putih. Saya tak menjumpai pelepah daun dengan warna lain, misalnya kecoklatan, seperti pada umbi suweg budidaya. Bentuk, ukuran dan warna kulit serta daging umbi suweg liar, juga sama dengan suweg budidaya. Umbi anak maupun induk berkulit warna kecoklatan, dengan daging umbi kuning muda.
Yang membedakan umbi suweg liar dengan umbi suweg budidaya, hanya tekstur permukaan kulit pelepah daun, yang salah kaprah disebut sebagai “batang”. Kulit pelepah daun suweg liar bertekstur sangat kasar, seperti bersisik. Kulit pelepah daun suweg budidaya halus, bahkan cenderung licin. Benih suweg liar yang ditanam di lahan pertanian, lama-kelamaan juga akan seperti suweg budidaya. Spesimen suweg liar dari hutan Bengkulu, ketika sudah belasan tahun ditanam di lahan pertanian, kulit pelepah daunnya menjadi lebih halus. Meskipun masih belum sehalus suweg yang sudah ratusan atau mungkin ribuan tahun dibudidayakan.
Masyarakat setempat juga sering memanfaatkan umbi suweg liar itu sebagai bahan pangan, meskipun UU melarang mengambil apa pun dari kawasan taman nasional. Jangankan umbi suweg. Kuncup Rafflesia horsfieldii, yang dulu dikenal dengan nama Rafflesia patma; pernah dijarah dari Taman Nasional Baluran. Dibanding suweg budidaya, kandungan kalsium oksalat suweg liar lebih tinggi. Kalsium oksalat inilah yang mengakibatkan umbi suweg berasa gatal saat dikonsumsi. Cara menghilangkan kalsium oksalat, dengan kapur; atau menyimpan umbi paling sedikit selama satu minggu sebelum dikonsumsi.
Sumber Plasma Nutfah
Belakangan ini, LIPI sedang memperhatikan umbi suweg. Para peneliti senior mempertanyakan, “Mengapa suweg yang diteliti? Mau diteliti apanya karena tingkat keragamannya tak sebanyak talas (taro, Colocasia esculenta)”. Padahal secara kebijakan, perhatian terhadap suweg bisa dipertanggungjawabkan. Salah satu penelitian itu berupa pengambilan spesimen suweg budidaya, di 13 desa di Kabupaten Kuningan, Jawa Barat https://www.researchgate.net/publication/298035649_Genetic_diversity_of_cultivated_elephant_foot_yam_Amorphophallus_paeoniifolius_in_Kuningan_West_Java_as_revealed_by_microsatellite_markers.
Di India, hasil penelitian suweg budidaya, terutama menyangkut masalah teknis, sudah sangat banyak. Maklum, suweg merupakan salah satu komoditas pangan penting di India Selatan. India bahkan telah melakukan penelitian terhadap suweg liar di tenggara negeri ini https://www.researchgate.net/publication/257567000_Morphological_variability_in_17_wild_elephant_foot_yam_Amorphophallus_paeoniifolius_collections_from_southwest_India. Talas pernah diteliti oleh LIPI, termasuk upaya penyilangannya yang menghasilkan talas pratama. Potensi penyilangan suweg untuk menghasilkan kultivar unggul, juga sangat terbuka.
Suweg memang lebih sulit untuk kawin silang dengan sesama genus Amorphophallus. Lain dengan acung (Amorphophallus variabilis), walur (Amorphophallus decus-silvae), dan iles-iles/porang (Amorphophallus muelleri). Tiga spesies ini mudah sekali berbunga dan menyerbuk silang antar spesies. Iles-iles/porang dengan pelepah daun hitam yang sekarang banyak dicari petani, diduga merupakan hasil kawin silang antara Amorphophallus muelleri yang berpelepah daun hijau, dengan Amorphophallus decus-silvae yang berpelepah daun hitam. Suweg liar di Taman Nasional Baluran, merupakan sumber plasma nutfah pangan masa depan. # # #
Artikel pernah dimuat di Tabloid Kontan
Foto F. Rahardi
