• KENTANG DAN EMBUN BEKU

    by  • 21/10/2019 • Buah, Sayur, Tanaman Hias, PERTANIAN • 0 Comments

    Senin dinihari 24 Juni 2019 sampai dengan matahari terbit, suhu udara di Kaldera Dieng, Jawa Tengah, turun sampai minus 9° Celcius. Terbentuklah embun beku (frost). Orang Dieng menyebutnya embun upas (embun beracun). Media massa menyebutnya “salju”.

    Disebut embun beracun, karena tanaman kentang yang tertimpa embun beku ini akan mati. Sebenarnya matinya kentang bukan karena terpapar racun, tetapi karena daunnya membeku selama paling sedikit enam jam. Ibarat tanaman kentang segar dalam pot dimasukkan ke dalam freezer selama enam jam, daunnya akan membeku kemudian membusuk atau mengering. Sebelumnya, pada tanggal 17 Juni 2019, embun beku juga turun di Dieng. Waktu itu suhu udara diperkirakan hanya minus 1° Celcius. Kemudian pada tanggal 22 Juni 2019, embun beku turun lagi. Kali ini suhu udara minus 5° Celcius.

    Embun beku akan terbentuk pada musim kemarau, antara Juni sampai Agustus, ketika langit cerah dan tidak ada angin. Saat itulah udara panas di permukaan tanah yang terbentuk pada siang hari; malam harinya akan naik, digantikan oleh udara dingin dari atas. Apabila cuaca mendung atau berkabut, udara panas akan tertahan tetap berada di permukaan tanah. Demikian pula kalau ada angin, udara dingin dari atas akan tertiup angin hingga tak mengendap menjadi embun beku. Syarat lain terbentuknya embun beku, harus ada permukaan tanah berupa cekungan yang rata dan cukup luas. Kaldera Dieng memenuhi persyaratan terakhir ini.

    Di Alun-alun Suryakencana, Taman Nasional Gunung Gede dan Pangrango di Jawa Barat; serta Kaldera Ijen, di Jawa Timur juga sering terbentuk embun beku. Alun-alun Suryakencana tak berpenghuni, hingga embun beku hanya diketahui oleh para pendaki yang bermalam di sana. Di Kaldera Ijen embun beku terbentuk di Kawah Wurung yang dibiarkan kosong tak ditanami kopi oleh PT Perkebunan Nusantara XII. Di Kaldera Tengger, embun beku turun di lautan pasir yang memenuhi seluruh permukaan kaldera. Suhu dingin pulau Jawa tiap musim kemarau, juga dipengaruhi faktor angin selatan dari Antartika/Australia.

    Kerugian Petani Kentang

    Dalam budidaya kentang, modal terbesar berupa benih. Tiap hektare lahan, memerlukan 1,2 sampai dengan 2 ton benih; bergantung bobot umbi. Semakin besar bobot umbi, semakin besar keperluan benih per hektar. Harga benih kentang granola, yang paling banyak dibudidayakan petani, Rp 25.000 per kilogram. Kebutuhan benih antara Rp 30 juta sampai dengan Rp 50 juta per hektar. Ditambah biaya pembuatan guludan, penanaman, dan pupuk Rp 20 juta, total Rp 50 juta sampai dengan Rp 70 juta per hektar. Di kaldera Dieng, kentang dibudidayakan sepanjang tahun.

    Pada musim penghujan, musuh utama petani kentang penyakit layu, akibat serangan bakteri Pseudomonas. Hingga pada budidaya kentang musim penghujan, petani akan terbebani biaya pestisida. Pada budidaya kentang musim kemarau, petani akan terbebani biaya penyiraman menggunakan pompa air. Sumber air disedot dari beberapa telaga yang ada di kaldera Dieng. Umbi hasil budidaya musim kemarau, berkualitas lebih baik dibanding hasil budidaya pada musim penghujan; karena faktor intensitas fotosintesis. Itulah sebabnya para petani kentang di Dieng lebih banyak membudidayakan kentang pada musim kemarau.

    Namun budidaya kentang di kaldera Dieng pada musim kemarau akan terancam gagal panen apabila turun embun beku. Tanaman yang tumbuh sehat dan masih tampak segar pada hari ini, akan hancur pada hari berikutnya akibat embun beku. Itulah sebabnya budidaya kentang di Dieng sering disebut sebagai “berjudi”, dengan hasil akhir menang atau kalah. Di negara-negara maju, kerugian para petani akan ditutup oleh perusahaan asuransi pertanian. Di Indonesia, asuransi pertanian masih belum lazim. Jangankan asuransi, kredit investasi dan modal kerja pertanian pun masih belum terpikirkan.

    Perluasan Sentra Kentang

    Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, sampai dengan tahun 2017 produksi kentang nasional masih didominasi oleh tiga sentra utama: Pangalengan di Jawa Barat 277.187 (ton); Dieng Jawa Tengah 269.476; dan Tengger Jawa Timur 241.180. Total produksi kentang di tiga sentra ini 787.843, atau 67,6% dari total produksi kentang nasional kita sebesar 1.164.738. Selebihnya yang 32,4% tersebar di Aceh 47.960; Sumut 96.893; Sumbar 40.398; Jambi 82.252; Bengkulu 6.226; Sumsel 324; Lampung 336; Bali 424; NTB 1.804; NTT 827; Sulut 65.574; Sulteng 1.943; Sulsel 31.831; Sulbar 30; Papua Barat 33; Papua 41.

    Sampai sekarang kentang Dieng masih yang terbaik di Indonesia. Ini disebabkan karena elevasi lahan kentang di Pangalengan dan Tengger rata-rata hanya 1.200 meter dpl, sedangkan di Dieng 2.000 meter dpl. Faktor elevasi sangat berpengaruh ke kualitas kentang. Maklum komoditas ini berasal dari pegunungan Andes. Masyarakat Indian kuno membudidayakan komoditas ini di lahan dengan elevasi rata-rata 3.000 meter dpl. Di Indonesia, lahan berelevasi 3.000 meter dpl yang dihuni manusia hanya ada di Papua. Perluasan sentra budidaya di provinsi ini akan menghasilkan kentang dengan kualitas lebih baik dari kentang Dieng.

    Peningkatan produksi kentang melalui intensifikasi di tiga sentra kentang utama: Pangalengan, Dieng dan Tengger sudah hampir tidak mungkin. Hingga pengembangan sentra kentang di lahan dengan elevasi 3.000 meter dpl di Papua menjadi sangat mendesak. Itu kalau Indonesia ingin menjawab kebutuhan pangan masa depan. Sebab di dunia, kentang bukan sayuran melainkan bahan pangan. Sampai sekarang RRT masih menjadi produsen kentang utama dunia. Inilah lima besar penghasil kentang dunia 2017 yang dicatat FAO: RRT 99.205.580 (ton); India 48.605.000; Russia 29.589.976; Ukraina 22.208.220; AS 20.017.350. # # #

    Artikel pernah dimuat di Tabloid Kontan
    Foto F. Rahardi

    About

    Leave a Reply

    Your email address will not be published. Required fields are marked *