KAKAO COKELAT PUTIH
by indrihr • 11/11/2019 • Perkebunan, PERTANIAN • 0 Comments
Di situs Amazon, cokelat putih kemasan 1,25 ounce (35,43 gram), ditawarkan seharga 6,48 dolar AS (Rp 90.532). Saat artikel ini ditulis, kurs 1 dolar AS Rp 13.971. Berarti di situs Amazon, harga 1 kilogram kakao putih Rp 2.555.237 (Rp 2,5 juta).
Kakao putih yang dikenal dengan nama mocambo, Theobroma bicolor memang masih sangat langka. Di situs Trade Winds Fruit (TWF), benih kakao putih ditawarkan 7 dolar AS (Rp 97.797) per kemasan isi satu butir biji. Hampir Rp 100.000 per butir. Di situs Seeds Del Mundo (SDM), ditawarkan satu butir biji kakao putih dan satu buah utuh dengan harga 1,75 dan 25 dolar AS (Rp 24.449,25 dan Rp 349.275), jauh lebih rendah dari harga yang ditawarkan TWF. Tetapi TWF menyebutkan bahwa biji mocambo yang mereka tawarkan sudah mulai berkecambah. Sementara situs SDM tak menyebutkan apa pun.
Belakangan ini kakao putih “naik daun” di kalangan kolektor tanaman, investor agro dan konsumen. Dalam biji kakao putih terkandung serat, protein, kalori, Omega 9 dan Theobromine (alkaloid dengan efek stimulan) sama dengan kakao biasa (Theobroma cocoa dan kopi (Coffea sp)). Tidak hanya bijinya, pulp kakao putih juga kaya nutrisi. Dalam tiap 100 gram (g) pulp buah kakao putih terkandung energi air 88 g, kalori 44 cal, 2,1 g protein, 0,8 g Lipids, 8,3 g karbohidrat, 0,7 g serat, 0,8 g Ceniza, 44 mg fosfor, 0,5 mg fe, 28 mg Vit A (Retinol), 0,08 thiamine, 0,09 mg Riboflavin, 3,1 mg niacin, dan 22,8 mg asam askorbik.
Kakao putih sudah dibudidayakan masyarakat Aztec Maya dan Inca, jauh sebelum kedatangan Bangsa Kulit Putih. Ketika Bangsa Spanyol datang, mereka lebih tertarik dengan kakao biasa, sebab mengira kualitas kakao putih tak sebaik kakao biasa. Itulah sebabnya kakao biasa sudah dideskripsi oleh Linnaeus pada tahun 1753. Sedangkan kakao putih baru dideskripsi oleh Alexander von Humboldt dan Aimé Bonpland pada tahun 1808. Kakao putih diperkirakan baru masuk Indonesia pada dekade 2000. Tahun 2014, dua tanaman kakao putih yang dibawa Greg Hambali di Taman Buah Mekarsari sudah mulai berbuah.
Santapan Para Dewa
Nama botani kakao Theobroma, berasal dari dua kata Yunani; theos (dewa) dan broma (makanan). Jadi secara harafiah, Theobroma berarti makanan (santapan) para dewa. Nama ini disematkan untuk genus Theobroma karena kelezatan rasa biji tumbuhan ini. Bangsa Indian Aztec Maya dan Inca memetik buah kakao, membuka kulitnya, lalu membungkus bijinya dengan daun kakao, lalu menaruhnya di bawah pohon agar terfermentasi. Baru setelah itu mereka menjemur dan menggerusnya untuk diseduh menjadi minuman lezat. Tradisi inilah yang diperkenalkan Bangsa Indian ke Bangsa Kulit Putih.
Genus Theobroma suku kapas-kapasan (Malvaceae), terdiri dari 22 spesies. Dari 22 spesies Theobroma itu hanya ada empat spesies yang bijinya bisa dikonsumsi manusia (edible). Yang paling banyak dibudidayakan Theobroma cacao. Tiga lainnya Theobroma bicolor, Theobroma grandiflorum (cupuaçu), dan Theobroma speciosum. Dari empat spesies Theobroma itu, buah Theobroma grandiflorum berukuran paling besar. Buah Theobroma cacao dan Theobroma bicolor berukuran sama, kemudian buah Theobroma speciosum berukuran paling kecil di antara empat spesies kakao yang edible.
Meskipun ada empat spesies kakao edible, volume produksi spesies bicolor, grandiflorum dan speciosum, masih sangat kecil jika dibandingkan dengan produksi kakao biasa, spesies cocoa. Meskipun kakao putih diakui yang terlezat dibanding tiga spesies kakao lainnya, tetapi produktivitas per satuan hektar lahan, kalah dari kakao biasa. Itulah salah satu penyebab, mengapa harga kakao putih tetap tinggi dibandingkan dengan kakao biasa. Tetapi bagi petani, produktivitas yang rendah tidak menjadi masalah, karena akan diimbangi dengan harga biji yang lebih tinggi dibanding harga kakao biasa.
Disalip Ghana
Sampai dengan tahun 2011, produksi kakao biasa Indonesia sebesar 712.200 ton, masih lebih tinggi dari Ghana yang hanya 700.020 ton. Tahun 2011 posisi Indonesia sebagai penghasil kakao dunia berada pada peringkat 2 setelah Pantai Gading, dengan produksi 1.511.255 ton. Produksi kakao Indonesia 2011 sebesar 712.200 ton, turun dibanding produksi 2010 sebesar 844.626. Tahun 2010 produksi kakao Ghana 632.037 ton dan Pantai Gading 1.301.347 ton. Tahun 2012, produksi kakao Indonesia sebesar 740.500 ton; disalip Ghana dengan produksi 879.348 ton.
Sejak 2012, Indonesia tak pernah bisa menggeser Ghana. Data Food and Agricultur Organization 2017, produksi kakao Indonesia hanya 659.776 ton, Ghana 883.652 ton dan Pantai Gading 2.034.000 ton. Dibanding tahun 2010, produksi kakao kita turun sebesar 21,8%. Ghana naik sebesar 39,8%. Pantai gading naik 56,2%. Posisi Indonesia pada peringkat tiga sebagai penghasil kakao dunia, sebenarnya memalukan. Sebab luas Pantai Gading 322.463 km2, dan Ghana 239.567 km2. Kalah dibanding dengan Pulau Sumatera seluas 473.481 km2. Dan tampaknya sulit bagi Indonesia untuk mengejar dua negeri di Afrika Barat ini.
Dengan kondisi produksi kakao nasional yang hanya berada pada peringkat tiga dunia, kehadiran kakao putih memberikan harapan. Meskipun produksi kakao nasional sulit untuk didongkrak naik, tetapi dengan kakao putih secara kualitas bisa dinaikkan. Yang dampaknya akan memberikan kenaikan pendapatan bagi petani, dan kenaikan nilai ekspor bagi para eksportir kita. Secara teknis budidaya, panen dan pasca panen, hampir tak ada perbedaan antara kakao biasa dengan kakao putih. Yanag diperlukan hanya perbanyakan benih secara massal. Hingga harga benih antara Rp 24.000 sampai Rp 100.000 per butir bisa diturunkan. # # #
Artikel pernah dimuat di Tabloid Kontan
Foto F. Rahardi
