ILES-ILES DI BAWAH TEGAKAN KOPI DAN SENGON
by indrihr • 25/11/2019 • Pangan, PERTANIAN • 0 Comments
Lahan kopi robusta, arabika dan liberika di Pulau Jawa, umumnya dinaungi sengon (jeungjing, Moluccan albizia, Falcataria moluccana). Di sela-sela kopi dan sengon itu, masih bisa dibudidayakan iles-iles (porang, Amorphophallus mueleri).
Sampai dengan dekade 1970, sebagian besar lahan kering di Jawa ditanami jagung dan singkong sebagai bahan pangan. Pada dekade 1980, tenaga kerja kasar untuk mencangkul makin langka di pedesaan. Generasi muda pedesaan lebih senang pergi ke kota untuk bekerja di luar sektor pertanian. Lahan kering di Jawa makin banyak yang nganggur. Petani menanami lahan nganggur itu dengan sengon. Bersamaan dengan itu, pasar berecore dari kayu sengon ke RRT juga semakin membesar. Pabrik barecore didirikan di beberapa titik di Jawa. Pada dekade 1990, budidaya sengon di lahan kering Pulau Jawa semakin intensif.
Pada dekade 2000, tingkat konsumsi kopi Indonesia masih sekitar 0,5 kilogram per kapita per tahun. Awal dekade 2010, pelan-pelan tingkat konsumsi kopi Indonesia merayap naik. Tahun 2018, konsumsi kopi kita sudah mencapai 1,9 kilogram per kapita. Sejalan dengan meningkatnya konsumsi kopi nasional, minat petani untuk membudidayakan komoditas ini juga ikut naik. Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan, areal tanaman kopi Indonesia tahun 2018 seluas 1.241,50 hektar. Sebagian besar tanaman kopi itu dibudidayakan secara tumpangsari, di bawah tegakan tanaman keras, terutama sengon.
Setelah ternaungi sengon dan kopi, lahan kering itu tak mungkin ditanami jagung dan singkong. Sebab dua komoditas ini memerlukan sinar matahari intensif sepanjang hari (12 jam). Beberapa komoditas umbi-umbian dan empon-empon, masih bisa dibudidayakan di bawah tegakan sengon di sela-sela tanaman kopi. Biasanya para petani masih bisa menanam keladi, garut, ganyong, suweg, jahe, kunyit dan temulawak. Nilai komoditas umbi-umbian dan empon-empon itu, tak terlalu tinggi. Keladi, garut, ganyong dan suweg malah hanya dikonsumsi sendiri oleh para petani, karena bernilai sangat rendah di pasar setempat.
Iles-iles
Iles-iles merupakan komoditas umbi-umbian yang tahan dibudidayakan di bawah naungan; tetapi dengan nilai ekonomis yang relatif masih cukup baik. Saat tulisan ini dibuat, harga umbi iles-iles segar ukuran konsumsi berkisar antara Rp 3.000 sampai Rp 8.000 per kilogram, bergantung lokasi budidaya/pengambilan hasil panen. Dengan harga itu, dengan biaya perawatan hampir nol, iles-iles merupakan komoditas yang layak dikembangkan di bawah tegakan sengon dan kopi. Tetapi untuk apakah sebenarnya umbi iles-iles? Mengapa harga di tingkat petani bisa lebih tinggi dari singkong dan ubi jalar?
Umbi iles-iles, merupakan salah satu bahan penghasil glukomanan; selain umbi konjac, devil’s tongue, Amorphophallus konjac. Dari glukomanan akan dihasilkan bahan pangan berupa jelly dengan kandungan kalori hampir nol, rasa enak dan bisa mengenyangkan. Di Jepang bahan pangan ini disebut konyaku, di Korea gonyak, dan di China jǔ ruò. Populasi penduduk China saat ini 1,4 milyar jiwa. Meskipun RRT merupakan penghasil beras, gandum, kentang dan ubi jalar utama dunia; mereka tetap memerlukan bahan pangan alternatif jǔ ruò yang lezat, mengenyangkan tetapi rendah kalori.
Belum lagi ditambah penduduk Korea Selatan sebanyak 50 juta, dan Jepang 126 juta. Mereka semua doyan konyaku. Masyarakat elite Indonesia pun, terutama yang mengidap diabetes, memerlukan konyaku sebagai salah satu alternatif menu mereka. Itu semua merupakan pasar yang sangat luas. Meskipun tiga negara itu juga membudidayakan konjac dalam skala besar, mereka tetap memerlukan tambahan pasokan produk glukomanan impor, yang dihasilkan dari umbi iles-iles. Belakangan ini, para petani Indonesia mulai tahu bahwa komoditas iles-iles berharga baik, dan bisa dibudidayakan di bawah tegakan tanaman keras.
Benih
Iles-iles dibudidayakan dengan benih dari biji, umbi, dan umbi atas (bulbil, katak). Iles-iles masih satu genus dengan suweg, Amorphophallus paeoniifolius; bunga bangkai raksasa Amorphophallus titanum; walur Amorphophallus decus-silvae; dan acung, Amorphophallus variabilis. Genus Amorphophallus akan berbunga dan kemudian menjadi buah pada musim kemarau. Dalam tongkol ini terdapat butiran buah. Untuk digunakan sebagai benih, butiran buah yang telah masak berwarna merah dirontokkan dari tongkol, dimasukkan ke dalam plastik dan diremas-remas hingga pulpnya hancur.
Setelah itu biji dicuci bersih, ditiriskan, dihamparkan di atas nyiru dan ditaruh di tempat teduh. Dalam waktu tiga bulan, biji iles-iles ini akan bertunas. Biji yang telah bertunas itu disemai pada awal musim penghujan, untuk dipanen pada musim kemarau sebagai benih umbi. Benih berupa umbi inilah yang lazim dipasarkan dengan harga antara Rp 25.000 – Rp 35.000 per kilogram isi 10 – 20 butir butir. Petani umumnya tidak bersedia membeli benih iles-iles berupa biji, dengan alasan memerlukan jangka waktu dua sampai tiga tahun baru bisa panen. Sedangkan benih berupa umbi, atau katak sudah bisa dipanen dalam waktu satu tahun.
Umbi iles-iles tidak mengeluarkan anakan seperti halnya suweg. Tetapi tanaman iles-iles punya umbi atas, yang tumbuh di ketiak tangkai daun. Umbi atas ini disebut bulbil atau katak. Dalam satu tanaman akan muncul beberapa katak, dengan katak utama tumbuh pada ketiak daun pertama. Katak utama ini berharga paling tinggi. Saat ini harga benih katak berkisar antara Rp 100.000 sampai dengan Rp 125.000 per kilogram; dengan isi sekitar 200 butir. Di antara tiga bentuk benih iles-iles, katak paling favorit. Sebab umbi hasil panen dari tanaman yang berasal dari benih katak; berukuran lebih besar dibanding tanaman dari benih umbi. # # #
Artikel pernah dimuat di Tabloid Kontan
Foto F. Rahardi
