ESSENTIAL OIL
by indrihr • 03/12/2019 • Buah, Sayur, Tanaman Hias, PERTANIAN • 0 Comments
Saya seorang petani dan produsen essential oil. Saya mendengar kabar bahwa essential oil mulai banyak yang dibuat dari bahan sintetis hingga bisa berharga lebih murah. Essential oil apa sajakah yang sudah dibuat sintetisnya? (Nirwan, Garut)
Sdr. Nirwan, dalam Bahasa Indonesia, essential oil disebut minyak asiri, atau minyak terbang. Dari dulu, minyak asiri sudah dibuat sintetisnya. Biasanya minyak asiri dengan harga tinggi yang dibuat sintetisnya. Misalnya minyak mawar, melati, wintergreen, dan vanili. Yang perlu Anda ketahui, minyak mawar sintetis misalnya; juga dibuat dari minyak asiri dengan harga lebih murah. Misalnya minyak daun cengkih, terpentin, juga minyak sereh wangi. Jadi minyak asiri tetap akan punya pasar yang pasti, dan tak tergantikan oleh bahan lain.
Minyak asiri merupakan bahan baku industri parfum, esense (pemberi aroma), industri kosmetik, dan farmasi. Minyak mawar, melati, cendana, gaharu; sudah bisa langsung digunakan sebagai parfum bernilai sangat tinggi. Terlebih minyak yang disebut absolute (berkadar sampai 99%), merupakan “biang parfum” yang per kilonya bisa berharga sampai Rp 20 juta. Sebaliknya, minyak asiri berharga murah, misalnya minyak daun cengkih dan sereh wangi; merupakan bahan baku parfum sintetis, essense, kosmetik, dan obat-obatan. Industri essense paling banyak menyerap minyak asiri.
Minuman jeruk dengan harga murah, berbahan baku karbohidrat, yang difermentasi hingga menjadi gula dan asam sitrat. Material ini diberi pewarna dan aroma sintetis. Aroma sintetis inilah yang terbuat dari minyak asiri murah, termasuk sereh wangi. Hampir semua minuman menggunakan aroma sintetis. Sebab harga minuman (konsentrat) jeruk 100%, tidak akan terjangkau oleh mayoritas konsumen. Makanan, terutama kue-kue, selalu menggunakan aroma sintetis. Dengan peluang pasar yang sangat besar, minyak asiri selalu akan diperlukan oleh berbagai industri.
Minyak nilam lain lagi. Pada awal dekade 2000, minyak nilam hampir disintetis, karena harganya melambung sampai Rp 3 juta per kg. Padahal normalnya waktu itu hanya sekitar Rp 100.000 sampai 200.000 per kg. Niat untuk mensintetis minyak nilam tak terlaksana, karena beberapa saat kemudian harga minyak nilam kembali turun. Biaya untuk mensintetis minyak nilam sangat tinggi, karena susunan rantai karbonnya panjang dan rumit. Minyak nilam tetap akan diperlukan, karena fungsinya sebagai pengikat parfum. Parfum apa pun, selalu akan menggunakan minyak nilam, agar bisa lebih lama menempel di kulit pemakainya.
Selain sereh wangi (citroonella oil), daun cengkih (clove leave oil), dan nilam (patchouli oil); minyak asiri yang dihasilkan Indonesia antara lain kayu putih (cajuput oil), akar wangi (vetiver oil), sintok (Cinnamomum sintok oil), kayu lawang (Cinnamomum culilawan oil), masoyi, (Cryptocarya massoia), pala (nutmeg oil), jahe (gingger oil), kenanga (cananga oil), ylang-ylang (ylang-ylang oil), jeringau (calamus oil), cendana (sandalwood oil), dan gaharu (agar oil). Sebanarnya masih banyak tumbuhan penghasil minyak asiri di Indonesia, tetapi belum ada yang mengusahakannya.
Bagian tumbuhan yang bisa diolah menjadi minyak asiri, terdiri dari bunga (kenanga), buah (pala), daun (nilam, sereh wangi), kulit batang (kayu lawang), kayu (sintok, masoyi), akar (akar wangi), dan rimpang (jeringau). Bagian tumbuhan itu diolah menjadi minyak asiri melalui proses destilasi (penyulingan), ekstraksi, dan kompresi. Proses ekstraksi diperlukan apabila bahan baku berrendemen sangat rendah. Misalnya bunga mawar dan melati. Kompresi digunakan terhadap material tertentu, misalnya minyak asiri dari biji avokad. Destilasi paling umum digunakan, baik dengan teknik rebus maupun kukus.
Rendemen minyak asiri rata-rata sekitar dua sampai lima persen dari bahan baku. Artinya, dari tiap kuintal bahan baku setengah kering, bisa dihasilkan antara dua sampai dengan lima kilogram minyak asiri. Lempuyang wangi (Zingiber aromaticum), dan kemukus (Piper cubeba), merupakan komoditas minyak asiri dengan rendemen di atas 5%. Rendemen bunga melati gambir (Jasminum officinale), hanya 0,002 (dua permil). Dari 1 kuintal bunga melati gambir, hanya dihasilkan 2 ons minyak. Karena rendemennya yang sangat rendah, bunga melati, mawar, lavender, dll, tidak disuling secara langsung dengan uap air, melainkan diekstrak.
Caranya, bunga melati segar yang belum mekar, dimasukkan ke dalam palarut, misalnya eter, sampai seluruh parfum terserap. Kemudian eter yang jenuh parfum ini didestilasi dengan suhu sangat rendah. Dulu, ekstraksi dilakukan dengan lemak hewan dan faselin sebagai penangkap parfum, dalam laci-laci kecil. Kemudian vaselin atau lemak hewan dilarutkan, lalu pelarut dengan kandungan minyak asiri itu diuapkan. Meskipun pengerjaannya lebih rumit dibanding destilasi, proses ekstraksi tetap bisa dilakukan dalam skala rumah tangga. Biaya ekstraksi juga tak terpaut banyak dibanding dengan destilasi biasa. # # #
Artikel pernah dimuat di Kontan Pagi
Foto F. Rahardi
