KERANTUNGAN, DURIAN RASA KARAMEL
by indrihr • 09/12/2019 • Buah, Sayur, Tanaman Hias, PERTANIAN • 0 Comments
Di situs Trade Winds Fruit http://www.tradewindsfruit.com/durio-oxleyanus-durian-isu-seeds satu biji (benih) durian kerantungan dibanderol 8 dollar AS. Dengan kurs Rp 14.000 per 1 dollar AS, satu biji durian kerantungan berharga Rp 112.000.
Padahal di pedalaman Kalimantan, durian kerantungan dijual dengan harga antara Rp 10.000 sampai Rp 15.000 per buah. Kerantungan juga disebut mahrawin, lai bengang, kartungan, kerantongan, ketungan, kutongan, sukang, durian isu, durian daun, ladyin tedak (Durio oxleyanus). Kerantungan berukuran kecil, diameter 10 – 15 sentimeter, bobot rata-rata 0,5 kilogram. Bentuk bulat, warna kulit hijau, duri sepanjang 3 – 4 sentimeter, lentur dengan ujung tidak tajam. Beda dengan durian biasa (Durio zibethinus), yang kulitnya beralur dan akan terbelah saat buah masak; buah kerantungan harus dibelah dengan parang untuk membukanya.
Satu buah kerantungan hanya berisi dua butir buah/biji (pongge). Bahkan ada yang satu buah hanya berisi satu pongge. Tiap pongge berdaging buah warna kekuningan, cukup tebal hingga layak makan. Tidak seperti lahung (Durio dulcis) dan durian merah (Durio graveolens) yang berdaging buah sangat tipis. Karenanya, meski berukuran kecil, makan buah kerantungan hampir sama dengan makan durian biasa. Terlebih, tekstur daging buahnya lembut, tak berserat, manis, dengan aroma karamel yang tak menyengat. Aroma karamel inilah yang menyebabkan buah kerantungan banyak penggemarnya.
Meski berbuah kecil, pohon kerantungan bisa menjulang setinggi 30 meter, dengan diameter batang sampai 90 sentimeter. Daun kerantungan berbentuk elips berukuran 5 X 15 sentimeter, dengan permukaan bagian atas hijau gelap dan bawah abu-abu. Bunga muncul dari ranting, bukan dari dahan dan cabang seperti durian biasa. Hingga buah kerantungan sulit untuk dilihat dari bawah, karena tersamar dengan tajuk pohon yang sama-sama berwarna hijau. Habitat asli kerantungan hutan tropika basah dataran rendah; di seluruh Kalimantan, Sumatera, dan Semenanjung Malaya.
Potensial untuk Pembenci Durian
Selama ini durian merupakan buah yang kontroversial. Di satu pihak penggemarnya luar biasa fanatik, tetapi di lain pihak yang tak suka juga tak kalah ketat menolaknya. Di seluruh dunia selalu ada pengumuman untuk tak membawa masuk barang atau makanan yang berbau menyengat ke dalam hotel, pesawat terbang, dan angkutan umum lain. Salah satu barang terlarang itu durian. Buah durian masak yang diangkut mobil pribadi, akan meninggalkan jejak aroma sampai berhari-hari. Aroma tajam durian ini disebabkan oleh zat belerang bernama Volatile Sulphur Compound (VSC), yang aktif pada saat buah mulai masak.
Kerantungan sama dengan lai (Durio kutejensis), tidak beraroma tajam seperti halnya durian. Aroma karamel pada daging buah kerantungan, baru akan berasa saat buah ada di mulut. Bahkan ketika buah sudah dibuka pun, aroma karamel itu tidak tercium. Terlebih ketika buah itu belum dibuka. Padahal seandainya aroma karamel itu menyebar dengan tajam pun; orang tak akan mempermasalahkannya. Lain dengan aroma zat VSC durian, yang juga terdapat dalam bawang putih dan telur busuk. Mereka yang tidak doyan durian, biasanya mau mengonsumsi lai yang tak beraroma dan kerantungan yang beraroma karamel.
Dipasarkannya biji kerantungan secara online, menandakan bahwa spesies Durio ini adaptif dengan dataran rendah kawasan tropis lain, di luar habitat aslinya. Greg Hambali, peneliti dan kolektor aneka tumbuhan tropis itu; sudah mencoba menanam kerantungan, lahung, dan durian merah di kebunnya di Baranangsiang, dan Dermaga di Bogor, Jawa Barat. Di sana, kerantungan, lahung dan durian merah itu tumbuh baik dan rutin berbuah setiap tahunnya, tanpa perawatan apa pun. Kalau lai memang sudah sejak lama dibudidayakan di mana-mana. Terlebih yang sudah tersilang dengan durian biasa, yang disebut lai durian.
Hanya 18 Spesies Edible
Genus Durio tergolong suku (famili) kapas-kapasan (Malvaceae), terdiri dari 32 spesies. Sebagian besar endemik Kalimantan. Hanya ada beberapa spesies yang sebarannya meliputi Asia Tenggara. Dari 32 spesies Durio itu, hanya 18 spesies yang edible. Dari 18 spesies Durio edible itu, yang umum dibudidayakan secara massal hanyalah Durio zibethinus (durian biasa), dengan berbagai kultivarnya. Di luar Durio zibethinus yang umum dibudidayakan barulah lai. Spesies liar yang diambil buahnya untuk dipasarkan hanyalah kerantungan, lahung, dan durian merah.
Durian kura-kura, Durio testudinarius yang tumbuh di Serawak, Malaysia; edible karena ukuran buahnya cukup besar, dengan daging buah yang juga tebal. Durian kura-kura Serawak tumbuh sangat padat di pangkal batang. Pengusaha Pupuk Hantu, pernah menggunakan secara illegal foto durian kura-kura Serawak untuk promosi. “Bahkan durian pun, setelah diberi pupuk hantu, bisa berbuah sampai ke pangkal batang”. Padahal yang dipasang itu durian kura-kura yang aslinya memang berbuah di bagian pangkal batang. Durian kura-kura yang tumbuh di Kalimantan Barat, berukuran sangat kecil, berdaging buah tipis; dan selalu habis dimakan kura-kura sebelum buah tua.
Selain durian biasa dan lai, kerantungan paling berpotensi dibudidayakan secara massal untuk tujuan komersial. Pertama karena faktor aroma yang tak menyengat seperti durian biasa. Aroma karamel pada daging buahnya juga menjadi daya tarik tersendiri. “Duri” pada kulit buah kerantongan juga lunak hingga tidak merepotkan dalam pengemasan, pengangkutan dan pengupasan. Ukuran kerantongan yang kecil juga menjadi kelebihan, karena bisa dikonsumsi sekali habis oleh satu orang. Satu buah durian biasa, terlebih kultivar monthong, sulit untuk dihabiskan oleh satu orang yang bukan maniak durian. # # #
Artikel pernah dimuat di Tabloid Kontan
Foto F. Rahardi
