• BINTARO, MENTENG DAN GANDARIA

    by  • 16/12/2019 • Buah, Sayur, Tanaman Hias, PERTANIAN • 0 Comments

    Kalau klik di Google kata kunci bintaro, yang akan keluar hanya nama sebuah kawasan pemukiman di Jakarta Selatan dan Tangerang Selatan. Demikian pula kalau kita klik kata kunci menteng. Yang keluar juga nama sebuah kawasan pemukiman di Jakarta Pusat.

    Agak lumayan ketika yang di klik gandaria. Di urutan paling atas ada peta Google, yang menunjukkan lokasi Gandaria City dan Gandaria Hospital. Di urutan kedua ada foto Gandaria City Mall, ketiga foto Restoran Marugame di Gandaria City, urutan ketiga foto Gandaria Hospital. Baru di urutan keempat ada entri pertama situs Wikipedia, dengan penjelasan: “Gandaria (Bouea macrophylla Griffith) atau nama lokal lainnya jatake adalah tanaman yang berasal dari kepulauan Indonesia dan Malaysia.” Dua entri berikutnya kembali menjelaskan tentang Gandaria City, dan entri keempat ada foto-foto buah gandaria.

    Padahal, bintaro, sea mango, Cerbera manghas; dan menteng, kepundung, mundung, Baccaurea racemosa; juga nama tumbuhan. Bintaro baru populer sebagai pohon peneduh jalan dan elemen taman dekade 1990, setelah kompleks perumahan di Jakarta Selatan dan Tangerang Selatan menggunakan nama tumbuhan ini. Sebelumnya bintaro hanya tumbuh liar di kawasan mangrove. Buah bintaro berbentuk bulat, berukuran sebesar kepalan tangan. Warnanya hijau saat masih muda, dan merah maroon setelah tua. Buah bintaro bersabut tebal, dan bertempurung keras; hingga mengapung di laut dan menyebar ke kawasan yang jauh dari induknya.

    Kulit luar dan biji bintaro mengandung racun sianida (HCN), hingga monyet dan babi hutan pun tak mau makan. Konon masyarakat sering menggunakan buah bintaro yang berjatuhan untuk mengusir tikus. Lain dengan bintaro yang beracun, buah menteng edible. Sampai sekarang buah ini masih dijual di pasar tradisional di sekitar Jakarta. Menteng masih satu genus dengan rambai, Baccaurea motleyana. Bedanya, daging buah menteng berwarna pink, daging buah rambai putih. Genus Baccaurea, suku meniran-meniranan, Phyllanthaceae; terdiri dari 53 spesies, yang sebagian besar tumbuh liar di kawasan hutan.

    Hak Paten

    Nama tumbuhan, baik berupa pohon, perdu, semak, liana maupun herbal (tumbuhan lunak tak berkayu); sudah sejak dulu umum digunakan sebagai nama tempat, atau nama jalan. Penggunaan nama tumbuhan itu terus berlanjut untuk pemukiman modern, tanpa perlu minta izin ke pihak yang berwenang, tanpa takut akan digugat pemilik hak kekayaan itelektual (HKI), dan pemilik hak paten. Tumbuh-tumbuhan memang tak bisa dipatenkan, atau diklaim sebagai milik satu kelompok masyarakat, atau satu negara. Pada abad 17 dan 18, Kongsi Dagang Hindia Timur Belanda (VOC, Vereenigde Oostindische Compagnie) pernah memonopoli cengkih Maluku.

    Biji cengkih ini dijaga sangat ketat oleh VOC, agar tak bisa diselundupkan keluar dan dibudidayakan ke daerah dan negara lain. Toh pada tahun 1770 Pierre Poivre (1719 – 1786); seorang ahli botani Perancis yang menyamar sebagai turis, bisa menyelundupkan biji cengkih ke Mauritius dan Zanzibar. Di Zanzibar cengkih bisa tumbuh dengan lebih baik dari di Kepulauan Maluku, hingga terciptalah varietas Zanzibar. Pada zaman modern ini, satu negara, provinsi, kabupaten, kota atau kelompok masyarakat; tak bisa mengklaim tumbuhan sebagai milik eksklusifnya.

    Yang bisa dipatenkan, dan tak bisa digunakan oleh pihak lain hanyalah nama pemukiman atau mall, lengkap dengan logonya sebagai merek dagang. Kawasan pemukiman lain, tak bisa menggunakan nama Bintaro, kecuali diberi tambahan nama lain di belakangnya. Nama menteng di Jakarta Pusat malahan telah menjadi nama resmi kelurahan dan kecamatan. Nama menteng masih bisa digunakan untuk kegiatan bisnis lain. Misalnya untuk apartemen, hotel, restoran, apotek dan lain-lain. Sebagai nama dan logo apartemen, hotel, restoran, dan apotek; kata Menteng bisa didaftarkan untuk mendapatkan Hak Paten ke Direktorat Jenderal Kekayaan Intelektual; Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia.

    Dari Asem Bagus ke Salihara

    Di DKI Jakarta dan sekitarnya, cukup banyak nama tempat yang berasal dari tumbuhan. Selain Bintaro, Menteng dan Gandaria; masih ada pohon buah (Kwini, Pisangan, Kemang, Cisalak, Jeruk Purut); pohon bunga (Kenanga, Bungur, Cempaka Putih); bambu (Bambu Apus, Bambu Kuning, Pondok Bambu); kelapa (Kelapa Gading, Pondok Kelapa); asam jawa (Asem Reges), pohon karet (Karet; gulma (Jombang)); lalap Sunda (Ciputat, dari putat). Berawal dari nama jalan atau kampung, kemudian dunia bisnis modern mengadopsinya sebagai nama pemukiman, apartemen, mall, hotel, rumah sakit, restoran dan lain-lain.

    Asem Bagus, nama sebuah kecamatan di kabupaten Situbondo, Jawa Timur; juga berasal dari nama pohon asam jawa, yang di lidah orang Jawa disebut asem. Waktu Gubernur Jenderal Hindia Belanda, Herman Willem Daendels membangun jalan raya dari Anyer di Jawa Barat, sampai ke Panarukan di Jawa Timur, digunakanlah pohon asam jawa sebagai peneduh. Di Kecamatan Asem Bagus, pohon asam jawa ini bisa tumbuh sangat baik, karena beriklim kering dan berudara sangat panas. Sampai dengan dekade 1970, deretan asam jawa warisan Daendels di kecamatan Asem Bagus ini masih ada.

    Komunitas Salihara yang bergiat di bidang kesenian dan kebudayaan di Pasar Minggu, Jakarta Selatan; juga berasal dari nama tumbuhan. Salihara juga dikenal dengan nama tembelekan, tahi kotok, wild-sage, Lantana camara. Tumbuhan ini berasal dari Amerika Latin, dan masuk ke Indonesia dibawa oleh Bangsa Portugis dan Belanda sebagai tanaman hias. Karena buahnya disukai burung, dalam waktu sangat cepat salihara menyebar dan tumbuh liar sebagai gulma. Jalan di Pasar Minggu ini diberi nama Salihara, karena dulunya banyak ditumbuhi gulma Lantana camara. Lalu komunitas yang berlokasi di jalan ini diberi nama Komunitas Salihara. # # #

    Artikel pernah dimuat di Tabloid Kontan
    Foto F. Rahardi

    About

    Leave a Reply

    Your email address will not be published. Required fields are marked *