• CHAYA SEBAGAI “PEPAYA JEPANG”

    by  • 24/02/2020 • Buah, Sayur, Tanaman Hias, PERTANIAN • 0 Comments

    Saya seorang petani sayuran. Belakangan ini ada jenis sayuran baru yang dikenal sebagai “pepaya Jepang”. Daunnya mirip daun pepaya, tetapi menanamnya dari stek batang seperti singkong. Benarkah ini jenis pepaya dari Jepang? (Mansyur, Bogor).

    Sdr. Mansyur, yang disebut pepaya Jepang, sebenarnya bukan jenis pepaya, meskipun daunnya mirip daun pepaya. Ini juga bukan jenis singkong, meskipun menanamnya dengan stek batang seperti singkong. Pepaya Jepang ini sebenarnya bernama chaya, tree spinach, Cnidoscolus aconitifolius. Masih sama-sama suku Euphorbiaceae dengan singkong, Manihot esculenta. Jadi menanamnya juga sama-sama dengan benih berupa stek batang sama seperti singkong. Dengan pepaya, chaya beda famili. Pepaya, Carica papaya, masuk suku Caricaceae.

    Chaya berasal dari Semenanjung Yukatan, Meksiko, Amerika Tengah. Di Meksiko, chaya sudah lama dikenal sebagai sayuran oleh masyarakat Indian Maya. Tetapi masyarakat kulit putih tak terlalu memperhatikannya, hingga baru pada tahun 1923 chaya dideskripsi oleh Ivan Murray Johnston ((1898–1960), seorang ahli botani AS. Murray mendeskripsi chaya dan memberi nama Cnidoscolus aconitifolius, berdasarkan data awal yang pernah dikumpulkan oleh Philip Miller (1691 –1771), seorang ahli botani Inggris.

    Tahun 1768, Miller memberi nama chaya Jatropha aconitifolia karena mengira tanaman ini jenis jarak pagar, genus Jatropha. Tahun 1984, G. J. Breckon menemukan sub spesies chaya, yang penyebarannya sampai ke Amerika Selatan. Chaya ini diberi nama Cnidoscolus aconitifolius subsp. Polyanthus. Jadi di Meksiko sendiri, chaya termasuk tumbuhan yang “baru diketemukan”. Chaya segera menarik perhatian masyarakat dunia karena kandungan nutrisi pada daunnya yang sangat tinggi.

    Chaya baru masuk ke Indonesia pada awal dekade 2000, dan langsung menyebar ke masyarakat. Awalnya banyak yang mengira chaya sebagai daun gedi, sayor yondok, Abelmoschus manihot. Tetapi kemudian segera ketahuan perbedaannya. Daun chaya hijau gelap, sementara daun gedi hijau terang. Masyarakat menyenangi chaya, karena rasa daunnya tidak pahit seperti daun pepaya. Tak tahu siapa yang memulai, tiba-tiba pada awal dekade 2010, di Bogor ada sayuran baru yang disebut sebagai “pepaya Jepang”.

    Nama “Jepang” memang sering dikaitkan dengan beberapa tumbuhan. Lima spesies tanaman hias genus Adenium, berasal dari Afrika dan Jazirah Arab. Genus Adenium memang juga termasuk suku kamboja-kambojaan (Apocynaceae). Tetapi genus Adenium jelas beda dengan kamboja, genus Plumeria; yang terdiri dari 11 spesies, dan semua berasal dari Amerika Tropis. Tetapi ketika tanaman hias Adenium masuk Indonesia, namanya berubah menjadi “kamboja Jepang” sampai sekarang.

    Demikian pula dengan “bambu Jepang”. Di Indonesia yang disebut “bambu Jepang” ada dua jenis tanaman. Pertama bambu biara, monastery bamboo, long-sheath bamboo, Thai bamboo, umbrella bamboo, Thyrsostachys siamensis. Bambu biara paling populer digunakan sebagai pagar hidup di Indonesia. Bambu ini berasal dari Thailand. Tak tahu mengapa bambu biara ini yang disebut sebagai bambu Jepang. Bahkan para perancang taman (arsitektur lanskap) di Indonesia, juga menyebut bambu biara sebagai bambu Jepang.

    Padahal, yang benar-benar bernama bambu Jepang, juga ada di Indonesia. Dalam Bahasa Inggris, bambu Jepang asli ini disebut fishpole bamboo, golden bamboo, monk’s belly bamboo, dan fairyland bamboo. Nama botaninya Pseudosasa japonica. Hanya sedikit perancang taman, yang tahu bahwa Pseudosasa japonica inilah yang benar-benar bambu Jepang, dan bukan bambu biara Thyrsostachys siamensis. Secara fisik, penampilan bambu Jepang asli, memang tidak semenarik bambu Jepang yang sebenarnya bambu biara.

    Yang paling aneh, tanaman hias Dracaena surculosa, suku asparagus-asparagusan, Asparagaceae. Jelas Dracaena surculosa bukan suku padi-padian, Poaceae. Tanaman hias Dracaena surculosa juga berasal dari Afrika Barat. Tetapi tanaman hias ini juga disebut “bambu Jepang”. Kalau yang ini bukan hanya di Indonesia. Dalam Bahasa Inggris pun Dracaena surculosa juga disebut Japanese bamboo. Jadi tak aneh kalau kemudian chaya yang berasal dari Meksiko, dan bukan jenis pepaya disebut “pepaya Jepang”.

    Artikel pernah dimuat di Kontan Pagi
    Foto F. Rahardi

    About

    Leave a Reply

    Your email address will not be published. Required fields are marked *