• DARI SAWIT KE B30

    by  • 05/03/2020 • Perkebunan, PERTANIAN • 0 Comments

    Biodisel 30% (B30), mulai dipasarkan Pertamina mulai 1 Januari 2020, setelah diluncurkan Presiden Joko Widodo pada 23 Desember 2019. Sebelumnya, Indonesia sudah menggunakan biodisel 20% (B20) sejak 2016.

    Jadi penggunaan B30 per 1 Januari 2020, bukan merupakan reaksi dicantumkannya larangan penggunaan minyak sawit sebagai energi terbarukan dalam Delegated Regulation Supplementing Directive of The EU Renewable Energy Directive II (RED II) pada bulan Maret 2019. Waktu itu Indonesia langsung membalas, dengan menahan impor minuman keras (miras) dari Uni Eropa. Sampai dengan bulan April 2019 ini, Kementerian Perdagangan RI memang belum mengeluarkan izin impor minuman beralkohol dari Uni Eropa. Sementara izin impor minuman beralkohol dari Rusia (Vodka) dan Meksiko (Tequila), sudah keluar.

    Alasan dicantumkannya minyak sawit bukan sebagai energi terbarukan, karena agroindustri sawit di Indonesia terkait dengan isu perusakan hutan (deforestasi). Bukankah lahan budidaya gandum, jagung, kentang, bunga matahari, kacang tanah; dulunya juga hutan? Bedanya, petani Uni Eropa membabat hutan ratusan bahkan ribuan tahun silam. Indonesia, baru merusak hutan untuk menanam sawit sekarang. Alasan perusakan lingkungan itu jelas mengada-ada, tetapi sangat efektif. Sebab FEDIOL, the EU Vegetable Oil and Proteinmeal Industry Association memang sangat terpukul dengan kehadiran minyak sawit Indonesia dan Malaysia.

    Produktivitas rata-rata minyak sawit, 5,5 ton (per hektar per tahun). Kelapa dan zaitun 2,5 ton, kacang tanah, bunga matahari; hanya 1,5 ton. Inilah yang jadi pokok permasalahan, mengapa sejak dekade 1980, minyak sawit mentah, crude palm oil (CPO); sudah sangat mencemaskan produsen minyak kedelai, kacang tanah, dan bunga matahari Eropa. Padahal yang terpukul oleh sawit bukan hanya mereka. Indonesia, dulunya penghasil kopra utama dunia. Kopra merupakan bahan minyak kelapa. Sampai sekarang Indonesia masih penghasil kelapa nomer satu dunia, tapi industri kopranya habis, tinggal satu dua.

    Nikel dan Biodisel

    Dekade 1980 Eropa bikin isu, minyak sawit menyebabkan kanker. Karena isu ini mudah sekali dipatahkan, sejak dekade 1990 mereka melontarkan isu lingkungan, dengan menyalurkan dana ke LSM-LSM Indonesia. Isu lingkungan itulah yang terus digulirkan oleh FEDIOL sampai sekarang. Puncaknya, dengan dicantumkannya larangan penggunaan minyak sawit sebagai energi terbarukan dalam (RED II), Maret 2019. Lalu November 2019, Indonesia mengumumkan tak akan mengekspor bijih nikel ke Uni Eropa. Indonesia merupakan pemasok utama bijih nikel ke Uni Eropa. Nikel dan besi merupakan bahan baku industri baja tahan karat.

    Penghentian ekspor nikel ke Uni Eropa, juga mulai berlaku pada 1 Januari 2020. Uni Eropa berniat mengajukan gugatan terhadap penghentian ekspor nikel ini ke World Trade Organizations (WTO), dan Indonesia siap menghadapi gugatan ini. Indonesia memang tercatat sebagai produsen nikel terbesar dunia, dengan volume 560.000 ton per tahun, menyusul Filipina (340.000 ton), Kaledonoia Baru dan Russia (210.000 ton), dan Australia (170.000 ton). Tampaknya, hambatan impor miras dari Uni Eropa tak terlalu efektif untuk melunakkan sikap mereka terhadap sawit kita. Lain halnya dengan nikel.

    Tapi di lain pihak, sebagai penghasil CPO terbesar dunia, kita juga harus mengantisipasi, kelebihan pasokan apabila Uni Eropa benar-benar menolak sawit kita. Alternatif paling tepat memang mengolahnya menjadi biodisel. Memang kita akan kehilangan devisa dari ekspor CPO. Tetapi di lain pihak, kita bisa menghemat devisa dari impor minyak bumi (mentah + olahan). Nilai impor migas kita Januari – November 2019 sebesar 5 milyar $ AS. Turun 42,4% dari impor migas periode yang sama 2018 sebesar 8,69 $ AS. Rencananya tahun 2020, pemerintah akan menggenjot agar B30 bisa ditingkatkan ke B40, kemudian 2021 ke B40 dan 100% biosolar.

    Dari Sawit ke Tebu

    Sampai saat ini Indonesia tetap masih jawara penghasil sawit dunia. Data FAO 2017 menunjukkan produksi CPO Indonesia sebesar 158,3 (juta ton). Disusul Malaysia peringkat dua sebesar 101,7 40.900; Thailand 14,5; Nigeria 7,7; Ekuador 3,2; Ghana 2,46; Papua Nugini 2,43; ; Honduras 2,4; Pantai Gading 2,2 dan Guatemala 2. Melihat angka-angka itu, agak sulit negara lain mengejar posisi Indonesia dan Malaysia sebagai penghasil minyak nabati dunia. Hingga sebenarnya, sawit memang tak bisa ditolak. Terlebih lagi, Belanda dan Inggrislah yang menyilangkan sawit Afrika (Dura, Elaeis guineensis), dengan sawit Amerika Latin (Pisifera, Elaeis oleifera), hingga menghasilkan sawit budidaya (hibrida, Tenera).

    Dunia ini memang aneh. Sawit yang asli Afrika dan Amerika Latin, berkembang menjadi komoditas penting justru di Asia Tenggara. Tebu yang asli dari Maluku, penghasil utamanya saat ini justru Brasil di Amerika Selatan. Sebagai bahan bakar alternatif, tetes tebu sangat potensial. Rendemen tetes tebu sekitar 5% dari bobot batang tebu. Hingga dari 1 ton tebu, akan dihasilkan 50 liter biodisel. Inilah 10 besar penghasil tebu dunia: Brasil 758,5 (juta ton); India 306; China 104,7; Thailand 102,9; Pakistan 73,4; Meksiko 56,9; Australia 36,5; Kolumbia 34,6; Guatemala 33,7; AS 30,1.

    Indonesia berada di peringkat 12 setelah Filipina dengan produksi 21,2 juta ton. Padahal dulu, zaman Belanda Indonesia (Pulau Jawa) merupakan penghasil gula tebu utama dunia. Mengingat pentingnya agroindustri tebu, baik sebagai penghasil gula maupun biodisel; pemerintah serius untuk mengembangkannya di luar pulau Jawa. Salah satunya, PT Muria Sumba Manis di Sumba Timur, yang nantinya akan menjadi terbesar di dunia. Indonesia sebagai tempat asal-usul tebu, mestinya juga bisa dengan mudah mengembalikan pamor komoditas ini dalam waktu dekat. # # #

    Artikel pernah dimuat di Tabloid Kontan
    Foto F. Rahardi

    About

    Leave a Reply

    Your email address will not be published. Required fields are marked *