• UMBI GEMBOLO

    by  • 02/07/2020 • Pangan, PERTANIAN • 0 Comments

    Di Kalifornia, AS, saya pernah membeli umbi jepang yang disebut Nagaimo seharga 6 dollar AS per kilogram. Dengan kurs Rp 14.000 per satu dollar AS, harga umbi Nagaimo itu Rp 84.000 per kilogram. Bisakah umbi itu dibudidayakan di Indonesia? (Kurnia, Jakarta).

    Sdr. Kurnia, umbi Jepang Nagaimo itu juga sering disebut Yamaimo, Chinese yam, Korean yam, Dioscorea oppositifolia. Nagaimo merupakan tumbuhan beriklim empat musim, yang tidak mungkin dibudidayakan di kawasan tropis seperti Indonesia. Dulu Nagaimo hanya dikonsumsi oleh masyarakat miskin di Jepang. Tetapi sejak abad 17 Nagaimo naik daun. Waktu itu ada rumor, bahwa umbi nagaimo berkhasiat bisa meningkatkan gairah seks laki-laki. Sebab bentuk umbi Nagaimo memanjang, yang bisa diasosiasikan dengan bentuk penis.

    Sejak itulah umbi Nagaimo menjadi menu elite Jepang yang dibudidayakan secara massal, dan kemudian diekspor. Meskipun Nagaimo tidak mungkin dibudidayakan di Indonesia, tetapi kita juga punya umbi yang masih satu genus dengan Nagaimo, dengan bentuk dan rasa yang juga mirip. Umbi itu bernama gembili (forma kecil) dan gembolo (forma besar). Dalam Bahasa Inggris umbi ini disebut lesser yam. Nama botaninya Dioscorea esculenta. Gembili masih dibudidayakan masyarakat, dan kadang juga tampak dijual di kakilima Jakarta.

    Gembolo sudah sangat jarang dibudidayakan. Bahkan kelestariannya juga terancam, karena petani membencinya. Alasannya, karena gembolo mengeluarkan duri kemarung (gemarung), yang rapat, tajam, dan sulit lapuk. Bagi tanaman ini, duri kemarung yang tumbuh dalam tanah di sekitar bonggol tanaman, berguna untuk melindungi umbi dari babi hutan. Tetapi karena duri ini sering mengganggu, maka banyak petani yang membuang tanaman ini dari kebun mereka. Itulah yang mengakibatkan keberadaan gembolo terancam.

    Tetapi di Jawa, nama gembolo lebih populer digunakan untuk menyebut ubi Singapura, air potato, Dioscorea bulbifera. Hingga keberadaan gembolo sebagai forma besar dari umbi gembili juga semakin terlupakan. Di masing-masing daerah, sebutan gembili forma besar ini berlain-lainan. Umbi ini sebenarnya bisa dibudidayakan secara komersial untuk substitusi nagaimo. Di Jepang, nagaimo merupakan komoditas penting, yang cara mengonsumsinya bukan hanya dengan cara dikukus seperti halnya gembili di Indonesia.

    Di Jepang, Nagaimo juga dikonsumsi sebagai salad, digoreng, bahkan merupakan bahan untuk kuah Udon, masakan khas Jepang. Umbi Nagaimo liar, sebenarnya juga berbentuk tak beraturan. Nagaimo hasil budidaya, bisa seragam dan lurus memanjang, karena bakal umbi dimasukkan ke dalam cetakan dari bahan logam atau pipa PVC. Hingga umbi terpaksa tumbuh dengan diameter sesuai cetakan, dan terus memanjang sampai tanaman dorman pada akhir musim panas.

    Nagaimo, gembili dan gembolo, merupakan tanaman semusim. Nagaimo akan tumbuh dari benih berupa umbi, pada musim semi. Genus Dioscorea umumnya berupa tanaman merambat, dengan cara membelit. Di alam, Nagaimo, gembili dan gembolo tumbuh dengan cara membelit, memanjat pohon lain. Para petani membudidayakan Nagaimo, gembili dan gembolo dalam guludan, dan memberinya ajir untuk merambatkan sulur tanaman. Nagaimo akan masuk fase dorman yang ditandai dengan mengeringnya daun pada akhir musim panas.

    Saat itulah Nagaimo dipanen. Gembili ditanam pada awal musim penghujan, dan pada pertengahan musim kemarau tanaman juga akan dorman, ditandai dengan menguning dan mengeringnya daun. Saat itulah umbi gembili dipanen. Gembolo masih belum dibudidayakan secara massal seperti halnya Nagaimo. Bahkan dibandingkan gembili yang masih dibudidayakan para petani, gembolo hanya bisa dijumpai tumbuh liar di lahan-lahan penduduk, atau malah di hutan.

    Umbi gembili tumbuh di sekitar pangkal tanaman, dan tak berduri kemarung. Umbi gembolo dengan pangkal batang penuh duri kemarung, tumbuh menyebar dengan jarak sampai 0,5 meter. Melalui budidaya intensif, gembolo juga bisa dibentuk memanjang seperti halnya Nagaimo, dengan cetakan pipa logam maupun PVC. Kalau harga singkong di tingkat petani paling tinggi Rp 2.000 per kilogram; gembolo sebagai “Nagaimo Tropis” bisa dipasarkan dengan harga di atas Rp 10.000 per kilogram di tingkat petani. # # #

    Artikel pernah dimuat di Kontan Pagi
    Foto F. Rahardi

    About

    Leave a Reply

    Your email address will not be published. Required fields are marked *