HUMUS BAMBU
by indrihr • 25/08/2020 • Buah, Sayur, Tanaman Hias, PERTANIAN • 0 Comments
Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB), akibat wabah Corona; telah menyebabkan orang lebih banyak di rumah, sebagian di antara mereka mencoba hobi bercocoktanam dalam pot. Baru seneng-senangnya tanaman layu, busuk, atau keriting.
Selain tanaman hias, biasanya para hobiis menanam cabai, tomat, jahe, sayuran terutama caisim, dan kangkung. Saat sedang semangat-semangatnya, mendadak tanaman layu, ada yang busuk, ada yang keriting. Penyebabnya tentu macam-macam. Pertama dari benih. Ketika kita gunakan benih cabai busuk, bijinya memang masih bisa tumbuh dengan baik. Tetapi kemungkinan besar benih ini akan mewariskan gen yang rentan terhadap penyakit tertentu. Misalnya Pseudomonas. Bisa juga penyakit disebabkan oleh faktor eksternal. Kurang atau kelebihan sinar matahari, air; atau salah satu unsur hara.
Bisa pula penyebabnya faktor media tanam. Para “petani” dadakan ini biasanya hanya menggunakan media tanam tanah. Paling banter tanah dicampur kompos, atau pupuk kandang. Pupuk kandang potensial menumbuhkan gulma. Sebab ternak ruminansia (kambing, domba, sapi, kerbau), makan rumput berikut bijinya. Biji rumput itu akan tumbuh dalam pot, atau lahan pertanian sayuran Anda. Pupuk kandang dan kompos juga potensial mengembangkan cacing dalam pot. Cacing memang menyuburkan tanah di lahan pertanian. Tetapi dalam pot, cacing akan membunuh tanaman.
Cacingnya sendiri hanya akan makan selulosa pupuk kandang dan kompos. Tidak mengganggu akar tanaman. Tetapi cacing itu akan mengeluarkan kotoran yang lengket. Kotoran itu akan menggumpal, hingga tidak bisa ditembus akar tanaman. Kondisi inilah yang menyebabkan tanaman merana, bahkan bisa mati karena akar tidak mendapatkan udara. Selain bertugas menyerap air campur nutrisi, akar tanaman juga memerlukan udara untuk pertumbuhannya. Pengolahan lahan pertanian antara lain untuk mengurai tanah hingga kembali berongga/berudara. Di negara maju, tanah malah “disuntik” udara secara langsung.
Komposisi Media Tanam
Idealnya komposisi media tanam terdiri dari tanah liat (lempung merah) 1 bagian (misalnya 1 pot besar). Pasir urug (pasir sungai) 1 bagian. Bahan organik (pupuk kandang/kompos) 1 bagian; dicampur rata. Untuk mencegah cacing dan rayap datang, sertakan furadan secukupnya. Kecuali untuk budidaya sayuran. Keriting pada tanaman cabai dan tomat bisa disebabkan oleh virus yang dibawa serangga thrips, bisa juga virus itu sudah ada di benih yang kita tanam. Tetapi bisa juga keriting itu justru disebabkan oleh pemberian pupuk buatan, terutama NPK. Karenanya untuk budidaya cabai, tomat, dan tanaman berbatang lunak (terna), jangan diberi NPK.
Media tanam tebaik, untuk pot polybag maupun guludan; sebenarnya humus bambu. Yang dimaksud humus bambu, bukan hanya daun-daun bambu yang telah lapuk, tetapi juga tanah dan akar bambu. Humus bambu netral, tidak masam, tidak basa (alkali). Dengan pH netral, humus bambu cocok untuk membudidayakan apa pun, terutama sayuran. Tingkat porousitas humus bambu juga baik, karena ada keseimbangan antara tanah liat, dengan bahan organik berupa material bambu yang telah lapuk. Nutrisi humus bambu juga cukup, berupa bahan organik yang telah terurai.
Tetapi kelebihan humus bambu terutama karena adanya Rizobakteri Pemacu Tumbuh Tanaman, RPTT (Plant Growth Promoting Rhizobacteria, PGPR). RPTT ini terdapat dalam tanah di sekitar akar bambu, yang berperan memacu pertumbuhan dan fisiologi akar serta meningkatkan daya tahan tanaman dari berbagai penyakit. Sebenarnya RPTT bisa dikultur menggunakan akar bambu, dedak, terasi, gula, dan air. Tetapi untuk budidaya tanaman skala rumah tangga, paling ideal memang menggunakan humus bambu secara langsung sebagai media tanam. Kecuali kita akan menggunakan RPTT secara massal untuk areal pertanian yang luas.
Trichoderma
Selain RPTT, dalam humus bambu, terutama yang dekat akar; juga ada cendawan Trichoderma Sp, yang bersifat antifungal. Trichoderma akan mencegah tumbuhnya cendawan dan bakteri patogen seperti Pseudomonas solanacearum, jamur Fusarium oxysporium dan Phytophthora infestans. Sebenarnya Trichoderma juga bisa dikultur (dikembangbiakkan) secara mudah dengan medium nasi basi. Tetapi, sama dengan RPTT; untuk skala rumah tangga, lebih tepat menggunakan humus bambu secara langsung sebagai media tanam, mempercepat pertumbuhan semaian, dan mencegah datangnya penyakit.
Sayangnya, sampai sekarang humus bambu masih belum menjadi komoditas media tanam secara komersial. Dekade 1980, ketika suplir dan paku-pakuan booming sebagai tanaman hias, humus bambu pernah sebentar mudah ditemukan dipasar. Produksi humus bambu, sebenarnya juga hanya mengambil di alam, kemudian menyortir. Serasah sebaiknya tidak diikutkan. Demikian pula ranting dan bonggol yang masih keras. Akar bambu yang sangat kasar, perlu dicincang sebelum diikutkan sebagai media tanam. Akar bambu ini cukup penting karena di situlah terdapat RPTT dan Trichoderma.
Sebagian besar bambu menghasilkan humus. Di seluruh dunia ada 1.575 spesies bambu. Dari jumlah itu, 147 spesies di antaranya tumbuh di Indonesia. Yang paling banyak dijumpai di sekitar pemukiman bambu tali, bambu apus, Gigantochloa apus. Bambu betung, bambu petung, Dendrocalamus asper. Bambu ampel, bambu aur, Bambusa vulgaris. Bambu-bambu yang tumbuh di sekitar pemukiman, menghasilkan humus dalam volume besar. Tinggal secara rutin dipanen sebagai bahan media tanam. Di Indonesia masih budidaya bambu untuk dipanen rebungnya pun masih belum lazim. Terlebih dipanen humusnya. # # #
Artikel pernah dimuat di Tabloid Kontan
Foto Humus Bambu F. Rahardi
