BISNIS BATANG PISANG KERING
by indrihr • 05/10/2020 • Perkebunan, PERTANIAN • 0 Comments
Saya produsen dan pengumpul batang pisang kering, yang kemudian saya setorkan ke pedagang besar antar kota. Untuk apa sajakah sebenarnya batang pisang kering ini? Apakah hanya untuk bungkus tembakau seperti kata pedagang besar itu? (Idris, Kendal)
Sdr. Idris, bulan Agustus memang puncak panen tembakau di Kabupaten Temanggung, Magelang dan Wonosobo; di Jawa Tengah. Tiga Kabupaten ini merupakan penghasil tembakau rajangan terbesar di Indonesia. Tembakau rajangan merupakan bahan baku utama rokok kretek, yang dibudidayakan di dataran tinggi. Disebut tembakau rajangan, karena daun tembakau setelah dipanen dibuang tangkai dan tulang daun utama, diperam, dirajang, dijemur dan disimpan dalam keranjang bambu dilapis batang pisang kering.
Selain tembakau rajangan di dataran tinggi, petani kita juga membudidayakan tembakau krosok di dataran rendah, sepanjang Pantura Jawa, mulai dari Kabupaten Kendal ke arah timur. Tembakau krosok untuk bahan baku rokok putih dan cerutu. Disebut tembakau krosok, karena setelah dipanen, daun tembakau langsung dikeringkan dengan cara digantung dalam ruang pengering. Pabrik rokoklah yang akan merajang tembakau krosok ini dengan mesin. Kecuali daun tembakau yang akan dibuat cerutu.
Tembakau krosok dibungkus dengan tikar yang dianyam kasar, bukan dengan keranjang berlapis batang pisang kering. Ada juga tembakau yang khusus untuk bahan baku cerutu, yang dibudidayakan BUMN PT Perkebunan Nusantara (PTPN) di Klaten, Jember, dan Deli. Tembakau rajangan juga disebut tembakau Voor-Oogst, karena ditanam pada akhir musim penghujan, dan dipanen pada musin kemarau. Tembakau krosok juga disebut Na-Oogst, karena ditanam pada puncak musim kemarau, untuk dipanen pada awal musim penghujan.
Batang pisang kering produksi Anda dan teman-teman Anda itu, paling banyak memang diserap oleh petani dan pedagang tembakau rajangan, atau tembakau Voor-Oogst. Hanya sebagian kecil yang diserap sektor perindustrian, subsektor kerajinan. Padahal potensi penyerapan batang pisang kering sektor perindustrian, sebenarnya jauh lebih besar dibanding sektor agro. Selama ini batang pisang kering digunakan untuk meubel, tas, dompet, dan kotak tisu. Daya serap pasar barang kerajinan batang pisang di Uni Eropa dan Jepang sangat tinggi.
Subsektor kerajinan, selama ini masih menggunakan batang pisang kering itu tanpa pengolahan. Mereka hanya memecah-mecah bahan itu menjadi lebih kecil sebelum dipelintir untuk dianyam. Padahal batang pisang kering ini akan bernilai lebih tinggi, apabila dihancurkan dengan chooper, dipres untuk dibuang airnya, digiling, lalu dikeringkan. Material ini dicampur dengan lem organik atau anorganik; untuk dicetak menjadi lembaran dan potongan sesuai keperluan. Teknologi ini sangat sederhana, tetapi belum pernah diperkenalkan ke para perajin.
Sdr. Idris, sebenarnya yang disebut batang pisang itu merupakan batang semu.batang pisang sejati berupa bonggol yang berada di dalam tanah. Batang semu itu sebenarnya merupakan pelepah daun yang saling menangkup, hingga membentuk batang. Karena masyarakat sudah sangat familier dengan sebutan batang pisang, maka tangkai daun naik peringkat menjadi pelepah daun pisang. Ini merupakan salah kaprah yang harus kita terima. Sama halnya dengan menanak (memasak) nasi, padahal yang ditanak sebenarnya beras.
Selama ini, perajin, hanya berburu batang pisang yang telah dipanen buahnya, dipotong ukuran standar, diurai lalu dijemur. Mereka juga menghadapi kendala bahan baku, sebab di Pulau Jawa, tidak ada petani yang membudidayakan pisang secara monokultur. Bahkan pisang klutuk yang bisa dipanen daunnya pun belum ada yang membudidayakan secara monokultur dalam skala ekonomi. Padahal belakangan ini tren penggunaan daun pisang sebagai pengganti plastik terus meningkat.
Di kawasan tropis dengan tingkat kelembapan tinggi, budidaya pisang secara monokultur memang terkendala penyakit; terutama yang disebabkan Pseudomonas solanacearum, Phytophthora citrophthora, dan Fusarium oxysporum. Kendala ini bisa diatasi, antara lain dengan budidaya pisang secara tumpangsari dengan bambu, untuk dipanen rebungnya. Sebab dalam serasah dan akar bambu, ada cendawan Trichoderma harzianum, yang bisa mengatasi Pseudomonas dan Phytophthora.
Sampai sekarang, penyerap terbesar batang pisang kering masih agroindustri tembakau rajangan. Ini bisa dimaklumi, sebab penggunaannya hanya sekali. Di petani, pedagang, maupun pabrik rokok, tembakau rajangan yang telah dikemas dalam keranjang berlapis batang pisang kering, akan disimpan paling sedikit selama tiga tahun sebelum digunakan. Pada waktu kemasan dibuka, keranjang dengan batang pisang kering itu akan dibuang. Hingga tiap tahun selalu diperlukan batang pisang kering baru. # # #
Artikel pernah dimuat di Kontan Pagi
Foto F. Rahardi
