• RAFFLESIA DI TOKOPEDIA

    by  • 05/01/2021 • Buah, Sayur, Tanaman Hias, PERTANIAN • 0 Comments

    Di Tokopedia, ditawarkan “umbi suweg atau rafflesia bunga bangkai hutan” seharga Rp 65.000, bobot 580 gram. Masih di Tokopedia, umbi yang sama bobot 1.200 gram, ditawarkan Rp 135.000. Biaya kirim mulai dari Rp 11.000, waktu pre order tiga hari.

    Harga umbi suweg Rp 112.000 per kilogram itu relatif murah, dibandingkan tawaran di situs yang sama umbi suweg bobot 500 gram Rp 161.200, per kilo Rp 322.400. Tetapi terlalu mahal dibanding tawaran umbi suweg di Shopee seharga Rp 150.000 bobot dua kilogram, per kilo Rp 75.000. Dibandingkan dengan umbi suweg di sebuah kios buah di Cimanggis, Depok; semua harga itu sangat mahal. Bulan September 2020 saya membeli umbi suweg bobot 12 kilogram lebih; hanya Rp 120.000, atau Rp 10.000 per kilogram. Di kampung, Rp 10.000 sudah dapat umbi suweg bobot di atas lima kilogram.

    Tetapi, benarkah umbi suweg sama dengan rafflesia? Sebagian besar masyarakat Indonesia memang tidak tahu perbedaan antara keduanya. Bahkan banyak yang beranggapan bahwa bunga suweg memang rafflesia. Sebab beberapa kali koran, termasuk Harian Kompas, juga televisi; menyebut bunga suweg sebagai rafflesia. Kesalahan media ini, terutama disebabkan oleh prinsip dasar jurnalisme yakni check and re check telah diabaikan. Jadi tak heran kalau di Tokopedia, suweg disebut sebagai “rafflesia bunga bangkai hutan”. Para pembeli umbi suweg ini, akan memberitahu keluarga dan teman, bahwa ia punya “bunga rafflesia”.

    Padahal rafflesia dan suweg bukan hanya beda spesies, tetapi beda genus, suku, ordo bahkan kelas. Suweg, Amorphophallus paeoniifolius, suku talas-talasan (Araceae), ordo Alismatales, kelas Monokotil. Sedangkan rafflesia merupakan genus dengan 20 spesies; suku Rafflesiaceae, ordo Malpighiales, kelas Rosids. Dari 20 spesies rafflesia itu, delapan spesies tumbuh di Filipina, tujuh di Indonesia, empat di Malaysia dan satu di Thailand. Dari tujuh spesies yang tumbuh di Indonesia, Rafflesia arnoldi merupakan spesies terbesar, sekaligus juga pemegang rekor bunga terbesar di dunia.

    Rafflesia arnoldi hanya tumbuh di hutan sisi barat Bukit Barisan di Sumatera, dari Sumetara Selatan, Bengkulu, Jambi sampai Sumatera Barat. Bunga ini ditemukan oleh Joseph Arnold (1782 – 1818) seorang dokter Angkatan Laut Kerajaan Inggris. Dokter Arnold menemukan rafflesia, ketika mendampingi Thomas Stamford Raffles sebagai Letnan Gubernur Bengkulu antara 1818 – 1824. Untuk menghormati keduanya, tahun 1821 Robert Brown (1773 – 1858) memberi nama bunga ini Rafflesia arnoldi. Bahkan Refflesia juga digunakan sebagai nama bagi 20 genera Rafflesia.

    Parasit Murni dan Umbi

    Rafflesia merupakan tumbuhan parasit murni. Hidupnya 100% bergantung ke tumbuhan inang genus Tetrastigma. Sampai sekarang para pakar masih belum tahu, bagaimana cara biji Rafflesia menginveksi jaringan batang Tetrastigma. Tetrastigma merupakan tumbuhan liana, dengan batang berkayu, memanjat tumbuhan lain dengan cara membelit. Rafflesia merupakan tumbuhan tanpa akar, batang dan daun. Hingga yang muncul dari batang liana, langsung kuncup bunga. Sekali terinveksi, Tetrastigma akan terus memunculkan bunga Rafflesia seumur hidup.

    Dari tujuh spesies Rafflesia yang ada di Indonesia, dua spesies endemik Jawa, yakni Rafflesia horsfieldii dan Rafflesia rochussenii. Dulu, Rafflesia horsfieldii dikenal dengan nama Rafflesia patma dan Rafflesia zollingeriana. Rafflesia horsfieldii inilah yang beberapa kali mekar di Kebun Raya Bogor. Tetrastigma di Kebun Raya Bogor, berhasil disambung (grafting) dengan liana yang sudah terinveksi Rafflesia horsfieldii dari hutan. Untuk pertamakalinya Rafflesia horsfieldii mekar di Kebun Raya Bogor pada tahun 2010. Tahun 2019 pada inang yang sama, Rafflesia horsfieldii kembali mekar untuk ke 16 kalinya di Kebun Raya Bogor.

    Suweg merupakan tanaman pangan. Umbi suweg budidaya bisa langsung dikonsumsi dengan cara dikukus, dibuat getuk, atau digoreng. Di India, suweg dibudidayakan secara massal di bagian selatan, sebagai bahan pangan. Di Indonesia suweg masih bisa dijumpai tumbuh di kebun bahkan halaman runah penduduk. Sampai sekarang masyarakat masih mengonsumsi umbi suweg. Suweg tumbuh pada awal musim penghujan. Yang disebut batang suweg, sebenarnya batang semu, karena itu pelepah daun. Batang suweg berupa umbi yang tumbuh di dalam tanah. Pada musim kemarau daun dan batang semu mengering. Umbi masuk ke fase dorman.

    Pada fase dorman inilah umbi suweg bisa dikonsumsi. Kalau dibiarkan, pada awal musim hujan umbi akan kembali tumbuh. Ketika ukuran umbi sudah optimum, yang tumbuh pertama bukan tunas daun, melainkan bunga. Karena berbau busuk, masyarakat menyebutnya bunga bangkai. Padahal sebutan bunga bangkai sebenarnya bukan ditujukan pada suweg melainkan walur, acung, Amorphophallus variabilis; yang tumbuh liar dan umbinya gatal. Bunga titan arum, Amorphophallus titanum, yang bisa setinggi dua meter, kemudian disebut sebagai “bunga bangkai raksasa”.

    Suweg ikut terbawa-bawa disebut bunga bangkai. Bunga rafflesia, karena juga berbau busuk, kemudian juga sekalian disebut bunga bangkai. Dari sinilah kebingungan dan salah sebut itu muncul. Bunga suweg kemudian dianggap sebagai “rafflesia”. Media massa yang tidak melakukan check and re check; juga ikut mengukuhkan salah kaprah ini. Suweg, walur, titan arum, juga masih satu genus dengan porang, iles-iles, Amorphophallus muelleri dan Amorphophallus bulbifer. Genus Amorphophallus, beranggotakan 198 spesies, yang tumbuh di kawasan tropis dan sub tropis Asia dan Afrika. # # #

    Artikel pernah dimuat di Tabloid Kontan
    Foto F. Rahardi

    About

    Leave a Reply

    Your email address will not be published. Required fields are marked *