BISNIS DAN INVESTASI AGRO 2021
by indrihr • 01/02/2021 • Buah, Sayur, Tanaman Hias, PERTANIAN • 0 Comments
Tak ada pakar yang berani memastikan, kondisi bisnis Indonesia dan dunia 2021. China dan negara-negara Afrika memang seakan kebal pandemi. Ekonomi mereka tumbuh pesat di atas rata-rata dunia. Itu kekecualian.
Sebab sebagian besar bisnis dunia, terutama yang terkait dengan jasa transportasi, akomodasi dan konsumsi; benar-benar ambruk. Di Indonesia, orang bilang bisnis tanaman hias booming. Buktinya ada janda bolong seharga ratusan juta rupiah per tanaman, lalu sekarang Caladium diburu hampir semua pecinta tanaman hias. Pot lenyap dari pasar. Kios tanaman dipenuhi mobil parkir. Itu benar. Tetapi ketika omset semua pedagang tanaman ritil ini dijumlah, tak ada apa-apanya dibanding satu atau dua grosir tanaman hias. Pasar Rawa Belong, Jakarta Barat; sentra perdagangan bunga nasional, sekarang senyap.
Mall, toko, restoran, hotel sudah boleh buka dengan kapasitas terbatas. Tetapi tetap saja sepi pengunjung. Orang lalu bertanya-tanya, kapan pandemi berakhir? Pandemi virus Corona, yang kemudian populer dengan akronim Bahasa Inggrisnya, Covid-19 (Coronavirus Disease 2019); akan segera berakhir setelah penduduk dunia divaksin. Bahkan, sebenarnya dibanding Flu Spanyol 1918; pandemi 2020 sekarang ini relatif ringan. Data Worldometers sebelum Natal 2020; korban terinveksi Covid-2019 dunia 77,5 juta; meninggal 1,7 juta, sembuh 54,4 juta. Indonesia terinveksi 671.778, meninggal 20.085, sembuh 546.884.
Flu Spanyol 1918 diperkirakan menginveksi 500 juta penduduk bumi, meninggal 20 – 100 juta. Indonesia, yang masih bernama Hindia Belanda, awalnya diperkirakan meninggal 1,5 juta jiwa. Penelitian yang lebih baru menunjukkan korban Flu Spanyol di Jawa dan Madura, mencapai 4,37 juta jiwa. Hingga di seluruh kawasan Hindia Belanda diperkirakan korban Flu Spanyol mencapai paling sedikit 6 juta jiwa. Tetapi mengapa waktu itu dunia adem ayem? Karena sarana komunikasi dan informasi, masih sangat terbatas. Sekarang ini, sebenarnya orang lebih takut pada informasi, bukan pada fakta dan data.
Padahal selama pandemi dari bulan April 2020 sampai dengan Desember 2020, ternyata ada saja bisnis yang justru ramai dengan omset naik. Ojek sepeda motor yang pada awal pandemi dipolitisir untuk demo, dan masyarakat sempat terkecoh; ternyata justru booming. Omset dari mengantar orang memang turun tajam. Tetapi omset mengantar barang naik lebih tajam lagi. Booming seperti ini juga dialami oleh perusahaan produsen masker, tisu, dan sarana sanitasi. Sesuatu yang tak pernah mereka bayangkan sebelum pandemi. PT Pos yang selama ini seperti mati suri tiba-tiba diperlukan.
Orang Tetap Perlu Makan
Surat pos sudah hampir tak ada, sedangkan paket pos dianggap lama dan mahal. Ternyata PT Pos punya kelebihan lain. Paket yang diantar ke Kantor Pos hari ini, pasti diantar hari ini juga. Beda dengan jasa ekspedisi swasta yang kadang harus menunggu sampai barangnya cukup. Jaringan ekspedisi swasta juga tak menjangkau semua kabupaten di Indonesia. PT Pos mampu menjangkau semua kecamatan di Indonesia. Omset mall, toko dan restoran memang turun; tetapi komoditas-komoditas tertentu, termasuk komoditas agro, justru naik tajam lewat penjualan online. Salah satunya empon-empon, terutama jahe merah.
Pertanyaan, bagaimanakah bisnis agro 2021, sulit untuk dijawab. Tetapi, orang kan tetap perlu makan? Orang yang takut keluar rumah tetap perlu beras, sayuran, buah-buahan, tempe, tahu, daging, ikan, telur, minyak goreng, cabai, bawang merah, lada, daun salam, lengkuas, sereh, teh, kopi, susu, madu, cokelat, jahe. Tetapi semua komoditas itu sudah stabil. Sudah ada petaninya, sudah ada pemasoknya, dan konsumennya juga itu-itu juga. Sebenarnya konsumen komoditas agro tak bisa disebut “itu-itu saja”. Sebab sekarang ini sedang terjadi pergeseran dari konsumsi massal (pesta, hotel, restoran besar); ke konsumsi di tingkat rumah tangga.
Talas bogor ukuran besar yang dulunya hanya dibeli wisatawan, sekarang masuk pasar becek. Demikian pula ikan nila, gurame, daging has dalam (tanderloin); sekarang ada di pasar tradisional. Dulu komoditas itu hanya ada di restoran dan hotel bintang. Teh, kopi, dan kakao premium; terpaksa disimpan di gudang; sebab akan rugi kalau dijual sebagai teh, kopi dan kakao biasa. Selama ini hampir tak ada orang tertarik ke umbi-umbian dan sayuran gulma. Setelah pandemi orang bukan hanya bertanya, tetapi juga mencari bibit umbi-umbian dan gulma; untuk dibudidayakan sebagai pangan dan sayuran “prestisius”.
Mereka yang optimis, terutama yang mampu memanfaatkan dunia digital; justru akan mendapat “anugerah keajaiban”. Seorang pengusaha makanan jadi yang memasarkan produknya di warung; kolaps pada awal pandemi. Untung-untungan ia masuk ke dunia digital, dan kaget melihat hasilnya. “Omset dari online ternyata jauh lebih besar dari warung!” Dalam suasana kheos, juga akan datang para penipu. Mereka menawarkan iming-iming “investasi agro” (bagi hasil) dengan keuntungan berlipat. Jangan tergiur. Jangan pernah menyerahkan uang ke pihak lain, tanpa jaminan hukum (PT, Koperasi, Penanaman Modal).
Ternyata juga tak semua obyek wisata terdampak pandemi. Wisata besar dan mapan seperti Kuta, Ubud, Malioboro, Borobudur; memang sangat terdampak. Tetapi lihatlah Dukuh Butuh, Desa Temanggung, Kecamatan Kaliangkrik, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah. Butuh yang mendapat julukan Nepal Van Java, justru sangat sibuk selama pandemi. Mengapa? Karena video yang dibuat dengan drone dan viral di Media Sosial, telah memicu wisatawan datang. Mereka yang takut berkerumun massal, memilih tempat sepi dan dingin seperti Butuh, nun di lereng Gunung Sumbing. Tentu sambil membeli sayuran. # # #
Artikel pernah dimuat di Tabloid Kontan
Foto F. Rahardi
