• “BISNIS SEMU” BUAH ANGGUR

    by  • 15/02/2021 • Buah, Sayur, Tanaman Hias, PERTANIAN • 0 Comments

    Buah anggur itu bisnis yang menarik. Impor anggur kita 2018, menurut BPS sebesar 100.611,1 ton; dengan nilai Rp 4,3 triliun. Berarti harga impor per kilogramnya mencapai Rp 43.727,90. Maka di swalayan dipasangnya harga per ons (100 gram) agar kelihatan murah.

    Impor apel kita tahun yang sama mencapai 163.385,5 ton; tetapi nilainya hanya Rp 5,02 triliun. Hingga harga per kilogram impor apel kita Rp 30.751,56 per kilogram. Dengan angka-angka itu, mestinya budidaya anggur skala komersial cukup menguntungkan dan bisa bersaing. Sebab dengan harga impor di atas Rp 40.000, harga eceran anggur impor bisa di atas Rp 50.000 per kilogram. Sebagian petani anggur Buleleng, Bali, sudah mulai membudidayakan anggur buah. Sebagian besar dari mereka membudidayakan anggur wine, untuk memasok Sababay Winerry. Hatten punya kebun sendiri dan baru belakangan mengambil dari petani.

    Anggur buah para petani Buleleng, dijual di kebun seharga Rp 7.000 per kilogram ke Sababay. Perusahaan ini mencoba mengintroduksi anggur buah dari berbagai negara ke petani. Dengan harga Rp 7.000 petani sudah untung sebab pas panen raya biasanya harga jatuh di bawah Rp 2.000 per kilogram. Pas harga Rp 5.000 per kilogram mereka tak punya anggur karena musim hujan. Harga Rp 7.000 untuk anggur buah juga sudah bagus, sebab harga anggur wine hanya Rp 5.000 per kilogram di kebun. Ini pun petani sudah untung sebab pas panen raya harga bisa jatuh di bawah Rp 1.000 per kilogram. Sababay menjual anggur buah itu Rp 20.000 di Bali, setelah disortasi, dan dikemas. Itu pun sudah separo harga anggur impor.

    Produktivitas lahan anggur di Buleleng, rata-rata 15 ton per hektare per panen. Sebenarnya mereka bisa panen tiga kali dalam setahun. Karena kualitas buah pada musim hujan jelek, mereka hanya membuahkan dua kali setahun pas musim kemarau. Hingga pendapatan kotor mereka dari budidaya anggur buah, Rp 7.000 X 30.000 = Rp 210 juta per hektare per tahun. Pendapatan itu masih harus dipotong biaya pupuk, pemangkasan, panen dan penyusutan. Pendapatan bersih mereka masih di atas Rp 150 juta per hektare per tahun. Rata-rata petani anggur Buleleng mengelola 250 are lahan anggur, dengan pendapatan bersih sekitar Rp 37,5 juta per tahun.

    Itulah hitung-hitungan riil bisnis anggur skala komersial. Selain di Buleleng anggur buah juga berkembang di Probolinggo, Jawa Timur. Di sini, anggur berkembang karena keberadaan Kebun Percobaan (KP) Banjarsari, yang fokus ke komoditas anggur. Nama rasmi KP Banjarsari cukup panjang, Instalasi Penelitian dan Pengkajian Teknologi Pertanian (IP2TP) Banjarsari. Secara struktural, KP Banjarsari berada di bawah Balai Penelitian Tanaman Jeruk dan Buah Sub Tropik (Balitjestro); Kementerian Pertanian. Ada dua anggur andalan KP Banjarsari. Belgia Kuning (anggur wine), dan Prabu Bestari (anggur buah).

    Bisnis Pelatihan dan Benih

    Belakangan di Yogyakarta, khususnya di Bantul, muncullah Desa Anggur. Dari sini “pebisnis anggur” berkembang ke banyak tempat. Kalau pendapatan utama para petani anggur Buleleng dari menjual buah anggur, pendapatan utama para “pebisnis anggur”di Jawa ini dari menjual benih, tanaman anggur dalam pot, dan pelatihan. Buah anggurnya juga mereka jual, tetapi karena volumenya terbatas, selalu habis di kebun. Jadi hitung-hitungan ala para “pebisnis anggur” ini pasti hebat. Semua serba menarik dan menguntungkan. Ini mirip dengan iming-iming kurma tropis beberapa tahun silam.

    Kalau benar, sebuah komoditas mudah dibudidayakan dan menguntungkan, otomatis akan berkembang dengan sendirinya. Contohnya nanas Pemalang, Jawa Tengah. Kekuatan nanas Pemalang, bukan karena jenis nanasnya, bukan karena kemudahan budidaya, melainkan karena kepiawaian mereka dalam memasarkan. Kalau bicara kualitas buah, nanas Palembang lebih bagus, lebih besar, lebih manis. Tetapi tak ada kepiawaian memasarkan nanas Palembang. Nanas Subang sudah dari dulu ada, tapi ya tetap seperti dulu, tak berkembang. Nanas Pemalang sebenarnya merupakan nanas Bogor dengan ukuran lebih kecil.

    Ketika diintroduksi ke Pemalang dengan elevasi lebih tinggi dari Bogor, nanas jenis queen ini mengecil. Tetapi, orang Pemalang gigih dalam memasarkan. Mirip dengan duku Palembang, mereka menyebar ke kota-kota besar, jualan di kaki lima. Kelemahan utama nanas dalam mengupas, mereka atasi dengan menjual yang sudah terkupas dan terpotong. Konsumen tinggal menikmati. Inilah kekuatan nanas Pemalang. Dibanding nanas, anggur jelas lebih menarik. Dengan harga Rp 7.000 per kilogram pun, mereka bisa menghasilkan Rp 210 juta per hektare per tahun. Tetapi upaya pemasaran seperti nanas Pemalang itu tak ada pada anggur.

    Selain itu, volume produksi anggur Buleleng masih sangat rendah. Selain Buleleng, yang potensial mengembangkan budidaya anggur hanyalah Pasuruan, Probolinggo, Situbondo, dan NTT. Tetapi para “pebisnis anggur” yang jualan benih itu, menutup informasi ini. Hingga kesannya, anggur bisa dibudidayakan di seluruh wilayah Indonesia. Sama dengan kurma tropis lima tahun lalu. Posisi Provinsi Nakhonrachasima, Thailand; tempat “kurma tropis” itu 15° Lintang Utara (LU), sejajar dengan Yaman, Eritrea, Sudan dan Chad, negara penghasil kurma dunia. Informasi ini tak dibuka ke publik. Kesannya, kurma juga bisa tumbuh baik di seluruh wilayah Indonesia.

    Anggur bukan buah baru. Belanda pernah mengembangkan kultivar Isabella, di Ambarawa, Salatiga dan Magelang. Sampai dengan dekade 1970, buah anggur Isabella masih dijual di terminal dan pasar di tiga kota tersebut. Isabella di tiga kota itu punah karena anggur impor, dan anggur Buleleng yang mendominasi pasar buah pada dekade 1980. Sentra anggur di Probolinggo, dan Buleleng, juga sudah ada sejak zaman Belanda. Mereka tahu, anggur perlu udara panas dan kering. Dua tempat itu dipilih karena beragroklimat kering dan dekat dengan pasar utama, yakni Jawa dan Bali. Jadi kalau mau bisnis, mari kita gunakan akal sehat dan kerja keras. Seperti petani nanas Pemalang itu. # # #

    Artikel pernah dimuat di Tabloid Kontan
    Foto F. Rahardi

     

    About

    Leave a Reply

    Your email address will not be published. Required fields are marked *