POHON PENGHASIL KAYU RINGAN TAHAN GEMPA
by indrihr • 15/03/2021 • Perkebunan, PERTANIAN • 0 Comments
Banten termasuk kawasan langganan gempa. Terbaru Selasa 5 Januari 2021 dengan magnitudo 4.3. Yang paling besar Gempa Banten 5 Januari 1699. Dampak gempa 1699 itu sampai ke Jakarta (Batavia), dan menghancurkan bangunan-bangunan penting.
Meski Banten langganan gempa, rumah-rumah adat Masyarakat Baduy Dalam tetap utuh. Rumah-rumah itu menggunakan material ringan, dengan konstruksi yang saling mengunci (mengikat); hingga diguncang sekuat apa pun, konstruksi bangunan rumah tradisional itu akan tetap berdiri tegak. Andaikan karena lapuk rumah itu roboh; atap, dinding dan kerangka bangunan yang ringan; tidak akan mencederai penghuninya. Rumah adat seperti ini tidak hanya terdapat di Baduy Dalam, melainkan juga di sebagian besar desa-desa di pedalaman Jawa Barat dan Banten. Misalnya di Kasepuhan Ciptagelar dan Kampung Naga.
Rumah-rumah adat ini menggunakan kerangka kayu keras dan kuat, agar bisa tahan lama. Misalnya nangka, waru gunung, mindi. Atap rumah dari ijuk, alang-alang atau daun rumbia (daun atep, kirai, sagu). Dinding rumah dari anyaman bambu dua lapis. Dinding luar anyaman kasar, dinding dalam anyaman halus. Istana kerajaan-kerajaan Jawa zaman Majapahit dan sebelumnya, juga menggunakan material sama: kerangka kayu, atap ijuk, alang-alang atau daun rumbia, dan dinding anyaman bambu. Batu, atau batu-bata; hanya digunakan sebagai lantai dan dinding pagar pembatas halaman. Model rumah seperti ini diciptakan untuk mengantisipasi iklim tropis yang lembap dan juga agar tahan gempa.
Bambu merupakan material kuat dan ringan. Bambu tak hanya digunakan untuk dinding rumah-rumah tradisional di Jawa, melainkan juga untuk usuk (kaso) dan reng. Di atas usuk dan reng inilah ijuk, alang-alang atau daun rumbia diikatkan. Kerangka rumah biasanya dipilih kayu dengan tingkat kekerasan, kekuatan dan keawetan tinggi. Kayu seperti ini biasanya berat, hingga akan mencederai penghuni rumah apabila ambruk. Itulah sebabnya tiang dengan blandar dan pengeret dihubungkan dengan cara melubangi dan mengerat, hingga keratan tiang akan masuk ke dalam lubang blandar dan pengeret yang menindihnya.
Ada beberapa jenis sambungan tiang dengan blandar dan pengeret. Antara lain sambungan cathokan, purus dan ekor burung. Di bawah, tiang utama juga dikerat, dan masuk ke dalam lubang batu umpak. Hingga bagian atas maupun bawah tiang bangunan, akan terkunci dan tidak bergeser meskipun diguncang dengan sangat keras. Teknik sambungan seperti ini akan membuat struktur bangunan stabil. Nenek moyang kita tak hanya menggunakan teknik sambungan seperti ini untuk bangunan rumah dari kayu, melainkan juga untuk bangunan candi dari batu. Konsep sambungan “lingga – yoni” sebenarnya juga bermakna harapan akan kesuburan.
Balsa Penyeberang Samudera
Jepang dan China ingin kayu-kayu tropis yang ringan dari Indonesia. Pilihan jatuh ke sengon, jeungjing, albasia, moluccan albizia, Falcataria moluccana. Sampai dengan dekade 1980, sengon merupakan kayu rakyat yang berharga sangat murah. Penyerap utamanya hanya produsen kotak buah dan barang konsumsi murah. Misalnya kecap dan sirup kualitas bawah. Sejak dekade 1990, sengon mulai naik daun. Sebab sejak itu Indonesia meratifikasi ketentuan Eco Labelling. Jepang, konsumen kayu hutan utama Indonesia, hanya mau membeli kayu budidaya. Ternyata yang paling siap untuk diserap pabrik hanya sengon.
Kayu pinus, akasia, gamelina dll. Produksi perusahaan Hutan Tanaman Industri (HTI); tak mampu mengantisipasi permintaan produk kayu setengah jadi. Mereka lebih tertarik untuk membuat bubur kertas (pulp), yang pasarnya juga cukup menarik. Para petani di pulau Jawa lebih siap membudidayakan sengon. Selain karena faktor eco leballing; tenaga kerja muda di Jawa lebih tertarik untuk bekerja di luar sektor pertanian. Lahan-lahan pertanian yang dulunya ditanami singkong dan jagung terlantar. Lahan-lahan inilah yang dijadikan “hutan sengon. Pabrik kayu lapis dan barecore bertumbuhan dan jadi penyerap utama sengon.
Sekitar 80% produk barecore kita diekspor ke China. Sebenarnya sengon bukan kayu paling ringan. Masih ada senu, Pipturus argenteus; gamelina, Gmelina arborea; jabon, Neolamarckia cadamba; dan balsa, Ochroma pyramidale. Balsa merupakan kayu teringan di dunia. Selain ringan, balsa juga keras dan kuat. Sengon, senu, gamelina dan jabon ringan tapi empuk. Tingkat kekerasan, kekuatan dan keawetan empat jenis kayu ini sangat rendah. Tetapi untuk industri kayu setengah jadi, kayu-kayu empuk ini justru unggul. Karena untuk menjadi barecore, kayu-kayu ini akan diberi pengawet, dan dipres hingga mencapai tingkat kepadatan tertentu.
Tanpa perlakuan khusus balsa sudah cukup keras dan kuat, meskipun paling ringan. Kalau gamelina asli India, balsa berasal dari Amerika Latin. Antara tahun 200 – 400, orang-orang Indian Amerika Selatan mengarungi Samudera Pasifik menggunakan rakit kayu balsa. Selama tiga abad itu mereka menyambangi kepulauan Pasifik, dan kawin campur dengan penduduk setempat yang berasal dari Afrika. Itulah sebabnya penduduk Pasifik tidak sehitam masyarakat Papua, yang secara genetik masih sama dengan penduduk Afrika. Migrasi masyarakat Indian Amerika Selatan ini terhenti di Papua, Taiwan, dan Okinawa.
Jejak migrasi masyarakat Indian dengan rakit kayu balsa ini, terekam dari penelitian genetika, linguistik, arkeologi, dan botani. Selain kayu balsa, para imigran Indian ini juga membawa ubi jalar, keladi, dan jagung. Keragaman varietas ubi jalar di Papua yang dibawa orang-orang Indian ini, justru lebih banyak dibanding keragaman ubi jalar di Amerika Selatan. Jagung ketan yang tumbuh di China, Taiwan, Filipina, Sulawesi dan NTT, justru tak dijumpai di Benua Amerika, tempat asal-usul jagung. Sayangnya, di negeri kita perkembangan balsa sebagai kayu paling ringan dan paling kuat di dunia, tak sepesat sengon. # # #
Artikel pernah dimuat di Tabloid Kontan
Foto F. Rahardi
