• REMPAH DAN PANDEMI INDIA

    by  • 23/03/2021 • Herbal, PERTANIAN • 0 Comments

    Ketika kasus Covid-19 AS 10.6 juta jiwa, India 10,3 juta jiwa. Waktu itu para pakar memperkirakan sebentar lagi kasus Covid-19 India akan melebihi AS. Sebab populasi India 1,3 miliar, AS hanya 300 juta.

    Ternyata tidak. Data Awal Februari ini total kasus AS 27,6 juta; India 10,8 juta jiwa. Ada yang menduga, populasi yang dites di India tak sebanyak AS. Ternyata populasi yang dites di India lebih besar dari AS. Hasilnya, di AS kasus baru didapat, di India sebagian besar yang dites sudah punya antibodi. Berarti individu tersebut pernah terpapar Virus Corona, tetapi antibodinya cukup kuat hingga tidak sampai sakit. Kementerian Kesehatan India memperkirakan sudah sekitar 20% dari populasi penduduk India terpapar Covid-19 dan bisa bertahan dengan antibodi mereka.

    India memang tidak menerapkan lockdown total. Sebab ketika lockdown total diterapkan, kekacauan terjadi. Sama-sama berpenduduk di atas 1 miliar, disiplin masyarakat India tidak sekuat masyarakat China. Negeri tempat asal-usul Corona ini berhasil menghentikan pandemi, terutama karena kekuatan pemerintah mereka, hingga rakyat terpaksa disiplin. India sebaliknya. Pemerintahnya tak seketat China dalam mengendalikan aktivitas penduduknya. Jadi tak heran penularan Covid-19 di India berlangsung dengan sangat cepat, hingga telah menginveksi sekitar 20% dari total populasi atau sekitar 277,6 juta jiwa.

    Karena sebagian besar yang dites negatif, otomatis angka kasus baru di India menurun tajam. Puncak kasus baru di India sehari 97.000, terjadi pada bulan September 2020. Setelah itu terus menurun. Dari data resmi pemerintah, rasio meninggal di India juga paling rendah dibanding 10 negara dengan kasus Covid-19 tertinggi. Data awal Februari 2021, total kasus India 10,8 juta terbesar kedua setelah AS; 0,78% dari populasi 1,38 miliar. Total meninggal 155.195; 1,4% dari total kasus. Sembuh 8,44 juta; 87%. AS dengan total kasus tertinggi dunia 27,69 juta; 8,33% dari populasi 332,1 juta. Meninggal 476.336; 1,71%. Sembuh 17,5 juta; 63,21%.

    Brasil negara dengan kasus terbanyak ketiga 9,5 juta; 4,47% dari populasi 213,4 juta. Meninggal 232.170; 2,43% dari total kasus. Sembuh 8,44 juta; 88,47%. Meski pemerintahnya dihujat dalam menangani kasus Covid-19, Indonesia sebenarnya masih relatif baik. Sampai awal Februari 2021 total kasus Indonesia 1,16 juta, terbanyak nomor 19; 0,42% dari populasi 275,2 juta. Meninggal 31.763; 2,67%. Sembuh 963,028; 82,58%. Rasio total kasus kita lebih rendah dari AS, India dan Brasil. Rasio total meninggal kita lebih tinggi dari AS, India dan Brasil. Rasio sembuh lebih rendah dari AS dan Brasil, lebih tinggi dari India.

    Faktor Rempah-rempah

    Para pakar masih bertanya-tanya, mengapa kasus baru Covid-19 India menurun drastis sejak September 2020. Bahkan tak jarang mereka meragukan angka-angka resmi yang dirilis pemerintah. Padahal selama ini India cukup terbuka dalam banyak hal. Para pakar itu lupa menengok menu khas India yang penuh dengan rempah. Mereka yang baru pertamakali ke India, atau makan di warung India di Medan atau Kualalumpur; akan kaget dengan pekatnya rempah dalam hampir semua menu. Masakan Timur Tengah yang juga penuh rempah, merupakan pengaruh India. Demikian pula dengan masakan Minang, yang kaya rempah.

    Sejak zaman purba, India identik dengan rempah. Lada dan kayu manis; asli India. Orang Indialah yang mengambil pala dan cengkih dari Kepulauan Nusantara, untuk dijual ke orang Arab. Sampai sekarang India masih jawara rempah-rempah dunia, dalam bentuk oleoresin. Menu franchise modern tidak menggunakan bumbu berupa serbuk atau pasta; melainkan oleoresin. Ekstrak dari bahan mentah lada, pala, cengkih dll, hingga standar rasa dari pizza, ayam goreng atau steak merk tertentu akan sama di seluruh dunia. Diduga, rempah yang pekat dalam masakan India menjadi salah satu andil bagi ketahanan tubuh masyarakatnya.

    Fungsi rempah dalam makanan, bukan hanya untuk kelezatan; melainkan meningkatkan metabolisme tubuh, terutama pencernaan. Cengkih, kayumanis, pala, lada, jahe, sereh; lengkuas, salam, bawang putih/merah, cabai; berfungsi menekan bakteri dan kapang patogen dalam organ pencernaan hingga tidak berkembang. Bakteri yang membantu proses pencernaan, relatif tahan terhadap bumbu dan garam; hingga bisa tumbuh optimum. Fungsi rempah ternyata tak sebatas pada organ pencernaan. Cengkih dan kayu manis merupakan antibiotik ampuh, karena tingginya kemampuan membunuh bakteri.

    Cengkih dan kayumanis sudah digunakan untuk mengawetkan mumi para Firaun Mesir. Dilumurkan ke karkas domba dan sapi yang digantung dalam gudang selama musim dingin di Eropa; sebelum freezer ditemukan pada dekade 1.700. Ketika gigi dicabut, dokter membubuhkan antibiotik yang beraroma cengkih. Itu memang cengkih. Dalam tubuh manusia, rempah juga berfungsi menekan pertumbuhan bakteri, kapang, dan juga virus. Pada awal pandemi, masyarakat Indonesia memviralkan jahe merah, hingga harga komoditas ini melambung. Jahe memang salah satu rempah yang bisa meningkatkan daya tahan tubuh.

    India juga negeri asal-usul makan sirih. Masyarakat Indochina, Taiwan, dan Kepulauan Nusantara; belajar makan sirih dari India. Sirih, kapur, gambir atau pinang; selain bersifat antibiotik, memperkuat selaput lendir organ mulut dan pencernaan; juga berefek tonik. Daya tahan tubuh menguat terhadap capek, lapar, dan mengantuk. Sampai sekarang tradisi makan sirih masih tetap kuat di India. Ini juga merupakan salah satu faktor, mengapa angka kasus baru Covid-19 India menurun tajam sejak September 2020. Tetapi justru di tubuh manusia yang telah imun, ada peluang tercipta virus tipe baru. Ini mesti diwaspadai. # # #

    Artikel pernah dimuat di Tabloid Kontan
    Foto F. Rahardi

    About

    Leave a Reply

    Your email address will not be published. Required fields are marked *