• AREN GENJAH

    by  • 07/06/2021 • Perkebunan, PERTANIAN • 0 Comments

    Di situs penjualan online, ditawarkan benih aren genjah, umur enam sampai tujuh tahun bisa dipanen. Umumnya aren baru menghasilkan pada umur 10 tahun. Benarkah ada aren genjah yang bisa dipanen pada umur enam tahun? (Riska, Manado).

    Sdri. Riska, memang benar di situs penjualan online belakangan ini ditawarkan benih aren genjah, yang bisa produktif pada umur enam sampai tujuh tahun. Benih yang ditawarkan berupa biji (kolang-kaling tua), kecambah, atau semaian. Harga benih biji @ Rp 500, benih kecambah @ Rp 900 dan semaian dalam polybag @ Rp 5000. Harga belum termasuk ongkos kirim. Maraknya penawaran benih aren genjah ini cukup menggembirakan, sebab populasi pohon aren terus menyusut, bahkan di beberapa daerah terancam punah.

    Ada beberapa penyebab menyusutnya populasi aren. Pertama, karena pohon aren ditebang untuk diambil patinya. Pohon layak ditebang hanya yang belum keluar bunga perdananya. Sebab setelah keluar bunga, kadar pati dalam batang berkurang. Akibat penebangan, pohon aren penghasil biji semakin terbatas. Kolang-kaling yang terbatas itu pun, dipanen muda untuk diperdagangkan, terutama selama bulan Ramadan. Jumlah kolang-kaling tua sebagai benih sangat sedikit, atau sama sekali tidak ada.

    Masyarakat pedesaan, percaya bahwa yang bisa menanam aren hanya musang luwak. Musang memakan buah kolang-kaling berikut bijinya, kemudian biji yang keluar bersama fases akan tumbuh menjadi tanaman baru. Dengan langkanya kolang-kaling masak dan musang liar, tanaman baru di sentra aren juga semakin sulit dijumpai. Karena keyakinan tersebut, masyarakat pedesaan tak pernah berinisiatif membenihkan aren. Selain itu, mereka juga tidak tahu cara menangani buah kolang-kaling menjadi biji, juga tidak tahu cara menyemainya.

    Daging buah kolang-kaling mengandung asam oksalat sangat tinggi, yang akan menimbulkan rasa gatal tangan yang menyentuhnya. Dalam menangani kolang-kaling muda, tangan para petani hanya menyentuh kulit buah yang telah direbus atau dibakar. Kemudian dengan parang tajam kulit buah itu dipotong, dan biji yang masih muda dicungkil keluar. Jadi tangan si pengupas kolang-kaling, tak terkena getah yang menimbulkan rasa gatal. Dalam industri perbenihan aren, buah kolang-kaling harus dikeluarkan dari daging buah secara manual. Agar tak menimbulkan rasa gatal di tangan, buah ditaruh dalam keranjang dan diinjak-injak menggunakan sepatu boot.

    Biji kolang-kaling yang telah bersih disemai dengan media pasir sampai berkecambah, kemudian ditanam dalam polybag. Secara teknis membenihkan aren tidak sesulit yang dibayangkan para petani tradisional. Benih inilah yang kemudian dipasarkan secara langsung atau lewat situs online ke para petani. Sebaiknya, Anda membeli benih berupa kecambah, atau semaian dalam polybag. Apabila Anda membeli biji, mengecambahkannya belum tentu berhasil, sebab memerlukan keterampilan yang tak dimiliki semua orang. Menyemai kecambah di polybag atau menanam semaian di lapangan, lebih mudah.

    Sdri. Riska, aren genjah memang benar ada, hasil seleksi dan pemuliaan oleh IPB dan Badan Litbang Kementerian Pertanian. Sebenarnya, umur panen aren bukan hanya bergantung ke faktor genetik, melainkan juga lokasi tumbuh. Di dataran rendah, umur panen aren lebih pendek dibanding di dataran tinggi. Di kawasan kering seperti NTT, umur berbuah aren juga lebih cepat dibanding di Jawa Barat yang basah. Rata-rata, aren baru berbunga perdana pada umur 8 – 10 tahun, ditandai dengan munculnya bunga betina pada pucuk tanaman, dengan bunga jantan di bawahnya. Bunga betina calon kolang-kaling hanya akan muncul satu kali. Sedangkan bunga jantan akan terua muncul dari atas ke bawah, sampai ke dekat permukaan tanah. Setelah itu tanaman akan mati.

    Ijuk sebenarnya sudah bisa mulai dipetik pada tahun-tahun awal sampai tanaman menjelang berbunga. Jadi sebenarnya, selama menunggu panen pati, kolang-kaling, atau nira; aren sudah menghasilkan ijuk. Setelah ijuk habis, petani harus memutuskan, apakah akan menjual batang arennya sebagai bahan pati, atau memeliharanya untuk dipanen kolang-kaling dan disadap niranya. Alternatif kedua pasti lebih menguntungkan, tetapi petani akan menerima uang secara bertahap hasil penjualan kolang-kaling dan gula aren. Kalau dijual berupa batang, bisa terima uang sekaligus, tetapi dengan nilai lebih rendah.

    Sebenarnya aren genjah juga punya kelemahan, karena volume hasil ijuk, pati, kolang-kaling, dan nira sebagai bahan baku gula aren; lebih kecil dibanding aren biasa (aren dalam). Untuk tujuan bisnis, aren genjah tetap lebih menguntungkan karena, perputaran uangnya juga lebih cepat dibanding aren dalam. Karena aren genjah pun baru bisa dipetik hasilnya pada umur enam sampai tujuh tahun, ada baiknya komoditas ini dibudidayakan secara tumpang sari dengan tanaman semusim, atau tanaman buah umur pendek. Misalnya nanas, pepaya dan pisang. # # #

    Artikel pernah dimuat di Kontan Pagi
    Foto F. Rahardi
    .

    About

    Leave a Reply

    Your email address will not be published. Required fields are marked *