WIJAYAKUSUMA DAN PANEMBAHAN SENOPATI
by indrihr • 29/06/2021 • Buah, Sayur, Tanaman Hias, PERTANIAN • 0 Comments
Di situs Wikipedia, bunga wijayakusuma (bunga wiku, Epiphyllum oxypetalum), disebut berasal dari Kabupaten Cilacap, Amerika Tropika (Venezuela dan Karibia). Sejak kapan Kabupaten Cilacap pindah ke Amerika Tropika?
Sedangkan Venezuela sebuah negara di Amerika Selatan. Sementara Karibia nama laut dan kepulauan di Amerika Tengah. Di situs rumah.com, bunga wijayakusuma Epiphyllum disebutkan “memiliki kaitan yang erat dengan raja-raja Majapahit. Calon raja baru harus memetik bunga wijayakusuma yang mekar sebelum naik takhta”. Padahal Majapahit sudah runtuh tahun 1520, sedangkan Bangsa Eropa yang membawa wijayakusuma dari Amerika Tropis, baru sampai ke Jawa 1596. Paling cepat, wijayakusuma Amerika Tropis itu diintroduksi ke Jawa pada abad 17.
Masih di situs rumah.com disebutkan, “Seorang tokoh bernama Ki Ageng Selo, sekitar tahun 1970 diberi mandat oleh Presiden Soeharto untuk menanam bunga wijayakusuma di halaman Istana Negara. Bunga wijayakusuma tersebut diambil langsung dari Pulau Nusakambangan. Ki Ageng Selo hidup pada akhir abad 16 dan awal abad 17. Bagaimana caranya ia bisa mengambil wijayakusuma Epiphyllum dari Nusakambangan? Beberapa kesalahan informasi itu berawal dari penyebutan dua jenis bunga berbeda, dengan nama sama: wijayakusuma.
Pertama wijayakusuma Pisonia grandis, berupa perdu. Penampilan wijayakusuma Pisonia grandis persis sama dengan tanaman hias kol banda, Pisonia umbellifera. Keduanya masih sama-sama genus Pisonia, suku kampah-kampahan, Nyctaginaceae. Habitat asli wijayakusuma Pisonia grandis berupa pulau-pulau karang yang membentang dari Madagaskar, Asia Selatan, Asia Tenggara, Australia sampai Kepulauan Pasifik. Kedua wijayakusuma Epiphyllum oxypetalum, suku kaktus-kaktusan, Cactaceae, yang berasal dari Amerika Tropis: Amerika Tengah, Kepulauan Karibia dan Amerika Selatan bagian utara.
Wijayakusuma Pisonia grandis yang tumbuh di Karang Bandung, Nusakambangan; hanya dikeramatkan oleh masyarakat Banyumas. Untuk mengambil hati masyarakat Banyumas, Panembahan Senopati (Sutowijaya), ikut mengeramatkan wijayakusuma tersebut. Tradisi ini dilanjutkan oleh para Sultan Mataram. Ketika Mataram pecah dua: Kasunanan Surakarta dan Kasultanan Yogyakarta, tradisi mengambil wijayakusuma di Karang Bandung hanya dilanjutkan oleh Kasunanan Surakarta. Wijayakusuma Pisonia grandis, diambil dalam rangka jumenengan (penobatan raja baru), dengan berbagai ritual yang menyertainya.
Tak Meyakinkan
Majapahit tak mengenal tradisi mengeramatkan wijayakusuma Pisonia grandis. Tak ada bukti tertulis, peninggalan arkeologi atau adat masyarakat, yang menunjukkan adanya kaitan antara Majapahit dengan wijayakusuma. Masyarakat Bali yang merupakan kelanjutan dari masyarakat Hindu Majapahit, juga tidak mengeramatkan wijayakusuma. Padahal di utara Bali, banyak tumbuh wijayakusuma dan bisa berbunga. Di Bali, wijayakusuma disebut dag dag see, digunakan untuk pagar dan daunnya dipanen sebagai pakan babi.Tidak mungkin tumbuhan yang dikeramatkan diperlakukan demikian.
Meski dikeramatkan, penampilan bunga wijayakusuma Pisonia grandis tak meyakinkan. Ukuran bunga sangat kecil berbentuk corong (terompet) berwarna putih kehijauan, terkumpul dalam malai yang tumbuh di ujung ranting. Bunga ini akan menjadi buah berupa polong dengan perekat (lem) di permukaan kulitnya. Polong itu akan melekat di bulu burung laut lalu menyebar dari pulau karang yang satu ke pulau karang lain. Malai polong wijayakusuma kadang bisa menempel penuh dan mambuat sayap burung laut tak bisa direntangkan. Burung yang terlilit malai polong wijayakusuma akan jatuh dan mati atau dimangsa predator.
Karena penampilan wijayakusuma yang dikeramatkan tak meyakinkan, dicarilah bunga dengan penampilan spektakuler; untuk diberi nama wijayakusuma. Pilihan jatuh ke Epiphyllum oxypetalum, yang sudah ada di Pulau Jawa sejak abad 17 atau 18. Bunga Epiphyllum oxypetalum berukuran besar, berwarna putih, mekar hanya sebentar pada malam hari. Orang senang menunggu saat bunga ini mekar secara perlahan-lahan. Karena berpenampilan elok, dan mekar malam hari; Epiphyllum oxypetalum diberi nama ratu malam, Queen of the Night. Tetapi sejak dekade 1950, bunga ini sudah disebut wijayakusuma.
Popularitas Epiphyllum oxypetalum sebagai wijayakusuma, segera mengalahkan Pisonia grandis. Terlebih di era digital sekarang ini, apabila kita klik di Google dengan kata kunci bunga wijayakusuma, foto yang muncul bukan Pisonia grandis, melainkan Epiphyllum oxypetalum. Tetapi, informasi tentang kekeramatannya, diambil dari Pisonia grandis. Termasuk di situs penjualan online, yang ditawarkan pasti wijayakusuma Epiphyllum. Sekarang bahkan bukan hanya Epiphyllum oxypetalum, tetapi juga spesies lain dengan aneka warna yang mempesona. Mulai dari putih, pink, krem, kuning sampai ke merah. Harganya juga cukup merakyat, mulai dari Rp 10.000 sampai 25.000 per stek.
Ketika kita cari bibit wijayakusuma Karang Bandung, yang muncul di Google, “Jual bibit wijayakusuma di kota Bandung”. Dan ketika dibuka isinya hanya bibit Epiphyllum. Baru ketika kita ketik jual wijayakusuma Pisonia, ada situs yang menawarkannya. Bibit dalam pot setinggi sekitar 1 meter itu ditawarkan Rp 750.000 dengan ongkir sekitar DKI Jakarta antara Rp 34.000 sampai Rp 68.000. Padahal sebenarnya wijayakusuma Pisonia, juga bisa diperbanyak dengan stek. Daya tumbuhnya bahkan lebih cepat dibanding wijayakusuma Epiphyllum. Tapi ya itulah, popularitasnya kalah dari wijayakusuma Epiphyllum. # # #
Artikel pernah dimuat di Tabloid Kontan
Foto F. Rahardi
