• KUNCUP BUNGA SEDAP MALAM

    by  • 06/07/2021 • Buah, Sayur, Tanaman Hias, PERTANIAN • 0 Comments

    Saya petani bunga sedap malam dan mawar tabur. Sejak pandemi 2020, permintaan bunga sedap malam turun drastis. Bagaimanakah cara memanen, mengeringkan dan mengikat kuncup bunga sedap malam, untuk dipasarkan sebagai campuran sup kimlo? (Anwar, Magelang).

    Sdr. Anwar, meskipun bernama sedap malam, bahan sup kimlo yang diikat (dibundel) itu bukan kuncup bunga sedap malam (agave amica, Polianthes tuberosa). Nama lainnya bunga pisang, tetapi juga bukan bunga pisang (Musa acuminata). Kadang juga disebut bunga kenanga, tetapi juga bukan terbuat dari bunga kenanga (Cananga odorata). Sedap malam kimlo terbuat dari kuncup bunga lily kuning, daylily, Hemerocallis fulva. Di pasar global lily kuning dikenal dengan nama dried golden needles. Tak pernah ada kejelasan, mengapa kuncup bunga lily kuning kering si jarum emas ini; di Indonesia menjadi “sedap malam”.

    Padahal sedap malam dan lily kuning bukan hanya beda spesies dan genus, tetapi juga beda suku. Sedap malam suku Asparagaceae; sedangkan lily kuning suku Asphodelaceae. Saat ini, sedap malam paling banyak dibudidayakan sebagai bunga potong setelah krisan. Sentra budidaya sedap malam ada di Kabupaten Pasuruan (kultivar dataran rendah dengan bunga tunggal); Magelang, Semarang dan Sukabumi (kultivar dataran menengah/tinggi dengan bunga ganda). Di Kabupaten Semarang dan Magelang, tepatnya di Kecamatan Bandungan dan Grabag, bunga sedap malam dibudidayakan bersama dengan mawar tabur.

    Beda dengan sedap malam yang dibudidayakan secara massal sebagai bunga potong, di Indonesia lily kuning hanya sebatas ditanam sebagai elemen taman di dataran tinggi. Di Pulau Jawa lily kuning bisa dijumpai di kawasan wisata sekitar Puncak, Lembang, Garut, Bandungan, Kopeng, Tawangmangu, dan Batu. Sedap malam sebagai tumbuhan berumbi, dibiakkan dengan umbi anak. Lily kuning dikembangbiakkan dengan biji, tunas di tangkai bunga (proliferation), dan anakan (pecahan rumpun). Di Indonesia lily kuning hanya dibiakkan dengan pecahan rumpun, karena jarang menghasilkan proliferation dan biji.

    Kuncup bunga lily kuning telah dikenal dan dibudidayakan sebagai sayuran di daratan China, Taiwan, Korea dan Jepang, sejak ribuan tahun silam. Kuncup segarnya bisa langsung disayur, atau digoreng sebagai cemilan. Kimlo sendiri masakan khas Minnan (Min Selatan), di timur Provinsi Guangdong, dan selatan provinsi Zhejiang. Kuncup lily kuning kering itu diikat karena ada falsafahnya. Karena orang-orang Minnan banyak yang merantau, sup kimlo jadi mendunia, termasuk sampai Indonesia. Belakangan kimlo bukan hanya dikenal sebagai masakan nasional Indonesia melainkan menu khas Palembang.

    Kimlo lain dengan timlo solo. Meskipun banyak persamaannya, timlo solo tidak memakai ikatan bunga sedap malam. Para pakar kuliner dan sejarahwan, yakin bahwa timlo solo merupakan pengembangan dari sup kimlo. Justus van Maurik, dalam catatan perjalanannya ke Pulau Jawa tahun 1897 berjudul “Indrukken van Een Totok” menyebut adanya etnisitas Tionghoa menjajakan sup china kimlo berkeliling menggunakan pikulan, terutama di pemukiman Tionghoa (pecinan). Kimlo itu disajikan dalam mangkuk dan sendok bebek porselin warna biru. Para pembeli menikmati sup kimlo itu sambil jongkok.

    Lie Hiang Hwa dalam Buku Poetri Dapoer terbitan Chen Company Solo 1941, menyajikan lengkap resep sup kimlo berikut bahan-bahan dan cara memasaknya. Dalam resep tahun 1941 itu disebutkan dengan jelas, adanya bunga sedap malam yang diikat sebagai salah satu bahan sup kimlo. Tampaknya salah kaprah kuncup bunga lily kuning disebut sebagai sedap malam, sudah berlangsung sejak lama. Lily kuning maupun sedap malam sama-sama bunga pendatang. Tak diketahui dengan pasti kapan lily kuning masuk ke kepulauan Nusantara, tetapi diduga sudah sejak zaman kerajaan-kerajaan Hindu.

    Bunga sedap malam yang asli Meksiko, baru masuk Indonesia setelah kedatangan Bangsa Eropa pada abad 16. Sebagai bunga potong, sedap malam lebih menarik dan populer di Jawa, karena keharumannya. Etnisitas Jawa memang menyukai bunga-bunga beraroma harum seperti mawar, melati, kantil, dan kenanga. Itulah sebabnya ketika sup kimlo memasyarakat, sebutannya bukan lily kuning melainkan sedap malam. Sebutan lily kuning sebenarnya juga salah kaprah, sebab bunga ini bukan suku Liliaceae melainkan Asphodelaceae. Tetapi di dunia ini memang banyak bunga yang disebut lily padahal bukan suku Liliaceae. Misalnya lily amazon, Eucharis grandiflora, suku Amaryllidaceae.

    Sdr. Anwar, sejak pandemi Maret tahun 2020, industri bunga potong dan tanaman hias dunia memang hancur. Sebab industri bunga terkait dengan pengumpulan massa, di hotel, restoran, gereja, gedung pertemuan dan perkantoran. Pandemi menghentikan aktivitas pengumpulan massa, hingga industri bunga ikut terdampak. Satu-satunya cara, beralih ke komoditas lain, misalnya tanaman sayuran, rempah, serta tanaman hias bukan bunga potong. Pasar tanaman hias ritil justru laris manis selama pandemi, sebab selama tinggal di rumah, banyak anggota masyarakat yang senang tanaman hias. # # #

    Artikel pernah dimuat di Kontan Pagi
    Foto F. Rahardi

     

    About

    Leave a Reply

    Your email address will not be published. Required fields are marked *