TALAS SEBAGAI KOMODITAS PANGAN
by indrihr • 26/07/2021 • Pangan, PERTANIAN • 0 Comments
Di Hawaii, talas demikian dimuliakan karena dipercaya sebagai kakak tertua manusia. Dalam Agama Hawaii, Bapa Angkasa disebut Wākea. Ia beristri Ibu Pertiwi (Ibu Bumi) bernama Papahānaumoku. Dari perkawinan mereka, lahirlah Dewi Hoʻohokukalani.
Hoʻohokukalani merupakan dewi yang sangat cantik. Wākea demikian terpesona dengan kecantikan putrinya, hingga tergoda untuk inses. Dari hubungan terlarang itu, lahirlah Haloa Naka yang langsung meninggal. Dari makam bayi Haloa Naka itu, tumbuhlah talas yang disebut Kalo. Hoʻohokukalani melahirkan bayi kedua, yang oleh Wākea juga diberi nama Haloa dan menjadi manusia pertama di Hawaii. Jadi, bagi masyarakat Hawaii, talas merupakan saudara tua manusia, yang harus dimuliakan. Haloa Naka berarti napas abadi. Makan talas berarti menghirup napas abadi, hingga bisa panjang umur serta sehat.
Di Hawaii, talas dikonsumsi dalam bentuk bubur, yang disebut poi. Poi wajib ada dalam rumah tangga Hawaii untuk makan malam. Sarapan dan makan siang bebas makan apa saja, tapi makan malam wajib ada poi. Padahal, talas baru masuk Hawaii dari Kepulauan Pasifik Selatan, sekitar tahun 600. Talas, Colocasia esculenta, berasal dari Asia Tenggara, termasuk Indonesia. Umbi ini bermigrasi ke Daratan Asia, Taiwan, Jepang serta Kepulauan Pasifik antara tahun 35.000 sampai 14.000 SM, bersamaan dengan migrasi Homo sapiens. Migrasi talas ke timur, terhenti di Kepulauan Pasifik Selatan (Samoa, Vanuatu dan Tuvalu). Baru pada tahun 600 talas bermigrasi ke utara sampai Hawaii.
Karena menjadi makanan pokok, talas dibudidayakan secara intensif di Hawaii. Sawah-sawah di sana bukan ditanami padi, melainkan talas air. Talas air lebih banyak dibudidayakan di Hawaii dibanding talas darat, karena relatif lebih tahan penyakit hawar daun akibat kapang Phytophthora colocasiae. Semua bagian tanaman talas dikonsumsi. Umbi untuk poi, pelepah, bunga dan anakan disayur. Tapi yang paling populer daunnya sebagai buntil yang disebut lau-lau. Dulunya poi dan lau-lau dimasak secara tradisional. Sekarang dua menu populer di Hawaii itu diproduksi di pabrik.
Di McD Honolulu, bukan hanya disajikan burger, ayam goreng dan nasi; tetapi juga poi, lau-lau, taro pie dan taro ice cream. Semua menu itu berbahan baku talas. Padahal produksi talas Hawaii hanya 1.283 ton dan tidak masuk 10 besar penghasil talas utama dunia. Tapi masih lumayan dibanding Indonesia, tempat asal usul talas, yang tak punya data produksi. Inilah 10 besar penghasil talas dunia (FAO 2019, ton). Nigeria 2.860.909; China 1.954.750, Kamerun 1.909.738, Ghana 1.518.436, Papua Nugini 271.981, Madagaskar 226.438, Burundi 217.510, Rwanda 171.803, Laos 154.644, Jepang 138.730.
Dari Prestise ke Pangan
Di Indonesia, talas dibudidayakan dalam volume sangat terbatas di kawasan wisata, terutama di Kabupaten Bogor. Itulah sebabnya, Bogor dikenal sebagai kota talas, selain kota hujan. Di Kopeng, Bandungan, dan beberapa tempat wisata, komoditas talas selalu diberi embel-embel bogor, hingga menjadi “talas bogor”. Kecuali di Kabupaten Malang, talas dikenal dengan nama bentul. Pada dekade 1980, bentul diintroduksi ke Bogor, sebagai pengganti talas ketan (talas bogor). Talas ketan memang berukuran besar, dengan rasa daging umbi paling enak. Kelemahannya, berumur panjang sekitar 9 bulan, dan agak sulit membuang anakannya.
Dalam waktu singkat talas bogor tergantikan oleh bentul. Ternyata, bentul rentan terhadap hawar daun, ketika dibudidayakan di lahan dengan elevasi kurang dari 1.000 meter dpl. Dekade 2010, LIPI berhasil menciptakan talas unggul baru, silangan dari beberapa kultivar. Salah satu induknya, talas kaliurang yang menurut penelitian LIPI paling unggul dan paling enak. Talas baru itu disebut talas pratama. Tahun 2017, talas pratama mulai disebarkan ke petani di Kabupaten Bogor. Tatang Koswara, salah satu peneliti LIPI, penyilang talas pratama, setelah pensiun juga menanam jenis talas ini di Sumedang.
Waktu itu harga talas pratama masih Rp 20.000 per kilogram. Talas ukuran jumbo bobot 4 kilogram, berharga Rp 80.000. Pembeli antri, karena barangnya masih langka. Setelah banyak petani yang membudidayakannya, harga talas pratama pelan-pelan turun, hingga sama dengan bentul, dan talas bogor. Rasa talas pratama memang lebih enak dari talas ketan. Sampai dengan tahun 2019, talas masih komoditas prestise. Mereka yang berwisata ke Bogor, Bandungan, Kopeng, Batu, akan membawa pulang oleh-oleh talas. Di Jakarta, talas goreng hanya ada di Pasar Baru, dengan harga lebih tinggi dari sukun.
Tahun 2020 dunia dilanda pandemi Covid-19. Aktivitas wisata terhenti. Talas yang selama ini lebih banyak dipasarkan di kawasan wisata, terpaksa masuk pasar. Dari pasar masuk ke warung di gang-gang sempit. Harga semua jenis talas turun. Talas pratama di warung dekat rumah dijual seharga Rp 8.000 (kecil). Rp 10.000 (sedang), Rp 15.000 (besar) dan Rp 25.000 (jumbo). Talas yang dulunya hanya bisa didapat di kawasan wisata, dibawa pulang sebagai “oleh-oleh”, sekarang kembali menjadi komoditas pangan. Orang membeli talas di warung dekat rumah, untuk dikonsumsi, bukan demi gengsi.
Sebelum padi masuk Kepulauan Nusantara dari daratan Asia, talas, uwi-uwian dan suweg menjadi makanan pokok. Setelah padi datang, umbi-umbian ini tetap menjadi bahan pangan penting. Singkong, ubi jalar, kentang, ganyong, garut dan jagung; baru datang dari Amerika Tropis paling cepat abad 17. Pada awal millenium III sekarang ini, dominasi beras sebagai bahan pangan makin tinggi. Nomor dua bukan jagung, singkong, ubi jalar atau umbi-umbian lain, tetapi gandum. Impor gantum kita di atas 10 juta ton dengan nilai di atas Rp 30 triliun. Sementara McD, Honolulu, negara bagian AS, menyajikan talas; kita terbuai oleh gandum yang 100% harus diimpor. # # #
Artikel pernah dimuat di Tabloid Kontan
Foto F. Rahardi
