BUDAYA PANGAN
by indrihr • 21/09/2021 • Pangan, PERTANIAN • 0 Comments
Penggunaan roti (hosti) dan anggur dalam ritual agama Katolik; sebenarnya merupakan kelanjutan dari budaya pangan Mesopotamia purba. Roti, air anggur dan bir sudah dianggap suci oleh masyarakat Mesopotamia yang sangat makmur.
Masyarakat Aztec di Meksiko, lain lagi. Selama ribuan tahun mereka menganggap suci biji bayam, amaranth grains. Kualitas tepung biji bayam memang lebih baik dibanding jagung, singkong, garut dan ganyong; yang semua asli Amerika Tropis. Untuk menghormati para dewa Aztec, mereka membuat patung dari tepung biji bayam, dengan madu di bagian dalamnya. Patung ini diarak dalam ritual keagamaan, lalu dibagi-bagikan ke peserta ritual. Abad 16, Bangsa Spanyol dan Portugis sampai ke kawasan ini. Imam-imam Dominikan yang menyaksikan ritual Bangsa Aztec ini marah.
Para Imam Dominikan itu menganggap ritual Bangsa Aztec ini menyamai Perayaan Ekaristi Agama Katolik. Bangsa Aztec ditumpas, penanaman bayam penghasil biji dilarang. Baru pada dekade 1970, Meksiko sadar akan kekeliruan ini. Spesies bayam biji, Amaranthus caudatus, Amaranthus cruentus, dan Amaranthus hypochondriacus dicari. Ternyata di Meksiko sudah tidak ada. Spesies bayam biji ini ketemu di kawasan pegunungan di Peru, lalu dibawa kembali ke Meksiko untuk dikembangkan. Belakangan AS, China, dan India ikut mengembangkan bahan pangan kuno Bangsa Aztec ini.
Talas, taro, Colocasia esculenta lain lagi. Komoditas pangan ini berasal dari Asia Tenggara, terutama Jawa. Sebelum padi diintroduksi dari daratan Asia, Homo sapiens penghuni pulau Jawa membudidayakan talas sebagai bahan penghasil karbohidrat. Tak diketahui adanya mitologi di sekitar talas. Migrasi Homo sapiens antara 35.000 – 15.000 tahun SM; menyebarkan talas ke Asia Selatan, Asia Timur dan Kepulauan Pasifik. Migrasi Homo sapiens ini belum sampai ke Hawaii. Kepulauan Hawaii baru dihuni manusia sekitar 800 tahun yang lalu. Penduduk Asli Hawaii berasal dari Kepulauan Pasifik Selatan.
Di kepulauan baru ini, penduduk Asli Hawaii menciptakan mitologi talas. Poi, bubur talas dan lau-lau, buntil talas merupakan “saudara tua manusia”, hingga merupakan hidangan wajib untuk makan malam. Di Jawa, mitologi Dewi Sri dan Nyi Pohaci, juga diciptakan untuk padi, yang diintroduksi dari daratan Asia. Sementara talas yang sangat dimuliakan di Hawaii, di pulau Jawa justru dilupakan. Di Bogor, kota yang identik dengan talas; komoditas ini hanya dibudidayakan sebagai “oleh-oleh”; bukan komoditas pangan. Pandemi sejak awal 2020, telah mengembalikan talas sebagai komoditas pangan.
Petisi Mucikari
Nasib umbi nagaimo, Chinese yam, Dioscorea polystachya; dan yamaimo, Korean yam, Dioscorea oppositifolia; menjadi lebih baik sejak 1621. Sebelumnya umbi-umbian ini hanya dikonsumsi oleh masyarakat miskin di Jepang; meskipun sebenarnya rasa umbinya sangat enak. Sampai kemudian tahun 1621 muncul petisi dari seorang mucikari, yang ditujukan ke Tokugawa Ieyasu, Shogun pertama zaman Dinasti Edo. Isi petisi tersebut, “Kekuasaan Anda akan langgeng, apabila mau membangun kompleks prostitusi. Anehnya petisi itu dikabulkan. Kompleks prostitusi itu dibangun, diberi nama Yoshiwara dan baru ditutup tahun 1959.
Sejak dibukanya kompleks prostitusi di rawa-rawa Edo (Tokyo), merebaklah isu; bahwa mengonsumsi umbi nagaimo dan yamaimo akan meningkatkan libido seseorang. Umbi yang dulunya makanan orang miskin, dicari-cari dan jadi mahal. Kalangan elite yang dulunya malu mengonsumsi umbi ini, sekarang menyukainya. Berbagai menu tercipta. Umbi nagaimo dan yamaimo juga dikonsumsi segar sebagai salad, untuk kuah udon, digoreng, dibakar dicampur sup dan lain-lain. Harga umbi segar nagaimo dan yamaimo saat ini sekitar Rp 60.000 sampai Rp 70.000 per kilogram dan laris manis.
Di Indonesia, uwi lajer salah satu forma Dioscorea alata; juga berdaging umbi putih dan manis seperti nagaimo dan yamaimo. Di China D. alata forma panjang ini dibudidayakan secara massal, diolah menjadi keripik dan dikalengkan. Di Indonesia tak ada isu “budaya” di sekitar umbi-umbian ini. Karenanya di sini juga tak ada jenis umbi-umbian yang naik daun dan menjadi komoditas mahal. Mahalnya talas bogor lebih sebagai “komoditas oleh-oleh” terkait dengan wisata, bukan terkait dengan budaya pangan. Padahal dari 613 spesies Dioscorea yang ada di dunia, sebanyak 35 spesies terdapat di Indonesia, termasuk Dioscorea alata.
Selain umbi-umbian, buah maja yang disebut-sebut dalam Kitab Pararaton pun juga dilupakan di Indonesia. Dalam Pararaton, disebutkan bahwa Raden Wijaya dibantu oleh Aria Wiraraja, membuka hutan di “tanah terik”. Orang-orang Madura yang kehausan, memetik buah maja dan memakannya, ternyata rasanya pahit. Hingga kerajaan itu pun disebut Majapahit. Maja yang dimaksudkan Kitab Pararaton adalah bael, wood apple, Aegle marmelos. Di India, maja memang dikeramatkan dan ditanam di kuil-kuil Syiwa. Dalam pernikahan wajib ada buah maja, sebab buah itu merupakan lambang Hyang Syiwa.
Tak heran kalau di jalan-jalan di India Selatan buah maja dijajakan sebagai minuman segar. Agama Hindu Bali tak melestarikan tradisi ini. Hingga di Bali buah maja juga hampir tak dikenal. Yang lebih populer sebagai buah maja malahan berenuk, calabash tree, Crescentia cujete; yang sebenarnya berasal dari Amerika Tropis. Berenuk baru masuk Indonesia paling cepat pada abad 17. Sedangkan maja asli Aegle marmelos hampir tak ada yang mengenalnya di Pulau Jawa. Budaya pangan pada zaman modern tetap memerlukan mitologi. Di Jepang, mitologi pangan ini tetap hidup melalui berbagai festival padi. # # #
Artikel pernah dimuat di Tabloid Kontan
Foto F. Rahardi
