CACING TANAH PEMBUNUH TANAMAN POT
by indrihr • 11/10/2021 • Buah, Sayur, Tanaman Hias, PERTANIAN • 0 Comments
Dalam pelajaran sekolah, disebutkan bahwa cacing merupakan penyubur tanaman. Di banyak negara, cacing tanah digunakan sebagai penghancur sampah organik. Hasilnya berupa pupuk kotoran cacing (cascing), yang berkualitas tinggi.
Tetapi cacing tanah dalam pot, atau polybag; potensial membunuh tananam. Cacing tanah itu akan memakan bahan organik dalam media tanam dan kotorannya berupa cascing akan menyuburkan tanah. Tetapi, tubuh cacing tanah juga mengeluarkan lendir yang akan membuat tanah disekitarnya menjadi semakin lengket dan mengeras saat tidak disiram. Di halaman rumah, kita sering melihat “kotoran” cacing (punthuk cacing). Itu sebenarnya bukan kotoran cacing tetapi tanah bercampur lendir dari kulit cacing, yang dibuang keluar, saat cacing membuat lubang untuk jalan di dalam tanah.
Akibatnya, media tanam sulit untuk mengalirkan air dan miskin oksigen. Akar tanaman dalam pot/polybag tidak bisa tumbuh optimum, karena sulit menembus media tanam yang lengket, keras dan miskin oksigen. Dampaknya tanaman akan merana lalu mati. Proses ini bisa berlangsung dalam jangka waktu sangat cepat, sekitar satu sampai dua bulan. Tahu-tahu tanaman layu, mengering lalu mati. Ketika dibongkar, media tanam sudah menggumpal dan penuh dengan cacing. Pembongkaran media setelah tanaman mati, jelas sangat terlambat. Idealnya, untuk mengantisipasi, tanaman secara rutin disiram insektisida kontak paling sedikit tiga bulan sekali.
Pemberian pestisida hanya untuk tanaman hias, atau tanaman buah saat sedang tidak produktif. Tanaman sayuran jangan diberi pestisida untuk mengusir cacing, sebab berumur sangat pendek, dan produknya akan dikonsumsi. Alternatifnya, media tanam untuk sayuran terlebih dahulu dipanaskan dengan cara disangrai, direbus, atau dibakar bersama dengan serasah dan ranting-ranting kayu kering. Selain untuk membunuh telur cacing, pemanasan media tanam sebelum digunakan, juga untuk mematikan biji rumput dan gulma pengganggu. Media tanam yang steril ini akan menjamin tanaman tidak mati akibat cacing.
Tanaman dalam pot dengan media steril, sebaiknya juga tidak ditaruh langsung di tanah, melainkan di atas rak, dak atau tempat lain yang tidak langsung berhubungan dengan tanah. Meskipun ditaruh di atas tanah yang sudah dikeraskan, atau diberi terpal, cacing tetap akan datang dan masuk melalui lubang di bagian bawah pot, lalu beranak-pinak dalam media tanam. Dengan ditaruh di atas rak, tanaman akan aman dari gangguan cacing; tetapi semut tetap mengganggu, terutama apabila media tanam terlalu gembur. Gangguan semut bisa diatasi dengan memperbanyak tanah liat dalam media tanam.
Dua Jenis Cacing Tanah
Cacing tanah terdiri dari dua jenis, genus Pheretima dan genus Lumbricus. Yang banyak dijumpai di alam dan membunuh tanaman dalam pot, cacing tanah genus Pheretima. Cacing Pheretima berpenampang bundar, berkulit licin keabu-abuan, memancarkan warna pelangi apabila terkena sinar matahari. Cacing Pheretima bergerak sangat cepat apabila dikeluarkan dari gumpalan tanah. Di hutan Pulau Peucang, Taman Nasional Ujung Kulon, sering tampak kawanan babi hutan Sus scrofa “membajak” tanah dengan moncongnya untuk mencari cacing tanah Pheretima, guna pemenuhan protein bagi tubuh mereka.
Cacing tanah genus Lumbricus berpenampang pipih, berkulit merah dengan kerutan-kerutan berbentuk gelang. Juga disebut cacing merah. Cacing Lumbricus bergerak sangat lamban dan terkesan lemah. Jenis cacing ini hanya dijumpai di sekitar kandang ternak unggas maupun ruminansia. Di alam, cacing Lumbricus dijumpai di lantai gua atau ceruk tempat tinggal kelelawar pemakan serangga dan walet. Mereka makan guano (kotoran kelelawar dan walet). Bisa juga di tempat banteng dan rusa tidur. Di sini selalu ada kotoran yang menjadi makanan utama cacing Lumbricus. Cacing jenis ini tidak pernah dijumpai dalam pot.
Cacing inilah yang sering dipelihara untuk menghasilkan cascing, diberi pakan pupuk kandang yang masih segar (belum terkomposkan); dengan hasil 100% cascing. Di negara-negara maju, cacing Lumbricus juga digunakan untuk menghancurkan sampah organik, dengan starter pupuk kandang. Hasil yang didapat dari proses ini bukan hanya kompos, melainkan kompos campur cascing. Kualitas kompos campur cascing, lebih baik dibanding kompos yang dihasikan oleh bakteri dan kapang. Harga kompos campur cascing juga lebih tinggi dari kompos biasa, tetapi lebih rendah dari cascing murni 100%.
Beda dengan cacing Pheretima yang membuat tanah jadi lengket, cacing Lumbricus justru membuat tanah jadi gembur. Sebab permukaan kulit cacing tanah Lumbricus hanya mengeluarkan air, bukan lendir. Tanda di tanah dekat kandang ternak itu hidup cacing Lumbricus, permukaannya agak lebih tinggi, dan tampak gembur. Ini menjadi tanda bagi para pencari cacing untuk umpan mancing. Para pemelihara cacing yang tak mampu membeli benih, biasanya juga mengumpulkan cacing Lumbricus di sekitar kandang ternak. Cacing yang terkumpul, dipelihara dalam wadah kecil agar menjadi banyak, sebelum diternak dalam wadah besar.
Meskipun memerlukan kelembapan tinggi, cacing tanah rentan terhadap genangan air. Itulah sebabnya media pot yang lengket dan padat hingga tak mengalirkan air; juga akan membunuh cacing. Tetapi sebelum mati, mereka akan kabur lewat lubang di bagian bawah pot, untuk mencari lahan baru yang masih subur dan sehat. Dalam beternak cacing pun, digunakan kain yang dibentangkan dengan cara diikatkan ke empat tiang agar tak ada genangan air. Di cekungan kain itulah ditaruh pupuk kandang yang masih fresh, dan benih cacing. Hanya dalam waktu satu minggu, kotoran segar itu sudah akan berubah menjadi cascing. # # #
Artikel pernah dimuat di Tabloid Kontan
Foto F. Rahardi
