• PENIPUAN PISANG BIRU DI MARKETPLACE

    by  • 22/11/2021 • Buah, Sayur, Tanaman Hias, PERTANIAN • 0 Comments

    Niatnya memang menipu, hingga foto pisang kepok awu, blue java banana, ice cream banana, Musa × paradisiaca ABB group; yang mestinya berwarna abu-abu; diedit pakai photoshop menjadi biru bahkan ada yang ungu.

    Yang mereka tawarkan pun benih impor berupa biji. Ice cream banana mereka klaim berasal dari Hawaii. Padahal selain disebut ice cream banana karena bertekstur lembut, dan harum vanilla seperti es krim; pisang ini jelas bernama blue java banana. Aslinya memang dari Jawa, Indonesia. Di sini namanya kepok awu. Awu = abu, karena warna kulit buah saat mentah bukan hijau melainkan kelabu, abu-abu. Lain halnya masyarakat luar negeri, yang sejak awal menyebutnya blue java banana. Tahun 1996, saat berkunjung ke lembaga penelitian pisang di Australia, saya dipameri blue java banana ini oleh para peneliti di sana.

    Sejak dekade 1990, blue java banana memang sudah sangat populer di Australia dan AS (Hawaii dan Florida); yang masih dimungkinkan menanam pisang. Penggemar tanaman Indonesia yang berkunjung ke Hawaii, mengira blue java banana ini asli Hawaii. Mengapa namanya java? Tidak apa-apa. Bukankah ada computer software dengan nama Java? Jadi para penggemar tanaman itu yakin bahwa blue java banana itu pisang luar negeri. Di antara mereka ada yang dengan biaya sangat tinggi membawa anakan blue java banana itu ke Indonesia. Mereka bangga karena bisa punya pisang biru asal Hawaii.

    Ketidaktahuan konsumen ini kemudian ditangkap oleh para penipu di marketplace. Mereka menawarkan biji pisang biru impor yang sangat langka ini; dengan harga per butir Rp 7.500 belum termasuk biaya kirim. Tidak jelas biji pisang apa yang mereka tawarkan, sebab blue java banana merupakan pisang triploid (3N); yang tak berbiji. Beda dengan pisang barangan (Musa acuminata AA group) atau pisang raja bulu (Musa x paradisiaca AB group) yang diploid hingga kadang ada satu dua biji di beberapa buah dalam satu tandan. Kemungkinan biji pisang biru yang ditawarkan itu sebenarnya biji pisang batu/kelutuk (Musa balbisiana BB group).

    Benih pisang blue java banana berupa anakan, bukan biji; sebenarnya mudah didapat di Indonesia. Di Jawa, pisang kepok awu masih banyak dan disebut dengan berbagai nama. Selain kepok awu di Jawa dikenal pula pisang kepok gablog, kepok putih dan kepok kuning. Kepok awu, kepok gablog dan kepok putih tak pernah dibudidayakan, dan buahnya hanya laku sebagai pakan burung. Masyarakat lebih senang kepok kuning dengan daging buah kering dan manis. Daging buah kepok awu lembek dan agak masam meskipun harum. Daging buah lembek dan masam inilah ternyata yang justru disukai bangsa Amerika dan Australia.

    Hibrida Alam

    Di pasar dunia, pisang kepok dan tanduk, termasuk kepok awu; dikategorikan sebagai pisang olahan (plantain), yang dibedakan dengan pisang buah (banana). Plantain bernama botani Musa × paradisiaca, diduga silangan (hibrida) alam antara pisang buah Musa acuminata, dengan pisang batu (kelutuk), Musa balbisiana. Hingga nama botani plantain menggunakan tanda silang (×) yang berarti silangan (hibrida) alam. Nama Musa × paradisiaca diberikan oleh Carl Linnaeus pada tahun 1753. Lengkapnya nama botani plantain Musa × paradisiaca L. Kode huruf L. di belakang tiap nama botani, berarti nama tersebut diberikan oleh Linnaeus.

    Belakangan para ahli botani mengelompokkan pisang dan pisang olahan menjadi 10 grup: AA, AAA, AAAA, AAAB, AAB, AABB, AB, ABB, ABBB, BB. A merupakan akronim dari acuminata (dari Musa acuminata). Kelompok AA merupakan pisang Musa acuminata diploid. AAA Musa acuminata triploid dan AAAA Musa acuminata tetraploid. B akronim dari balbisiana. BB berarti Musa balbisiana diploid (pisang batu). Kelompok dengan kode huruf A dan B merupakan silangan alam antara Musa acuminata dengan Musa balbisiana; dengan hasil diploid (AB), triploid (AAB, ABB) dan tetraploid (AAAB, AABB, ABBB). Blue java banana, masuk kelompok ABB yang triploid.

    Penipuan benih blue java banana di marketplace, sudah sampai ke tingkat kasar dan brutal. Padahal uang yang mereka dapatkan tidak seberapa. Misalkan satu pembeli memesan 10 butir biji “blue java banana” pendapatan kotor mereka hanya Rp 75.000. Kemungkinan besar biji-biji pisang itu tak akan bisa tumbuh. Andaikan bisa tumbuh, perlu waktu 3 – 4 tahun untuk tahu bahwa benih pisang yang ditanam itu ternyata bukan blue java banana. Ada juga yang membeli benih blue java banana berupa anakan. Tak sampai satu tahun tanaman itu berbuah dan ternyata juga bukan blue java banana melainkan pisang siam.

    Membeli tanaman lewat marketplace memang rawan penipuan. Buah tinta, bayam belanda, pokeweed, American pokeweed, poke sallet, dragonberries, Phytolacca americana yang sebenarnya beracun; dijual di marketplace sebagai “ginseng merah korea” atau “panax ginseng korea”. Padahal buah tinta tumbuh liar sebagai gulma di dataran tinggi di Indonesia. Ketidaktahuan konsumen telah melahirkan para bandit penjual bibit tanaman di marketplace. Umbi suweg, elephant foot yam, Amorphophallus paeoniifolius, dijual sebagai umbi rafflesia hutan. Padahal rafflesia parasit murni yang langsung tumbuh sebagai bunga dari tanaman inang.

    Fenomena daun sirsak sepuluh tahun silam, juga berasal dari ketidaktahuan publik. Produsen dan penjual kapsul daun sirsak, itu hanya perorangan yang tinggal di sebuah rumah biasa di Amerika Serikat. Tapi ia bisa menggegerkan dunia, termasuk Indonesia; hanya dengan informasi palsu bahwa khasiat daun sirsak 150× kemoterapi. Informasi kehebatan daun sirsak ini sengaja disembunyikan agar kemoterapi tetap laku. Padahal tak pernah ada penelitian apa pun terhadap khasiat daun sirsak untuk kanker. Saat ini informasi apa pun ada di genggaman tangan dan tinggal diklik. Kalau mau, kalau tidak malas. # # #

    Artikel pernah dimuat di Tabloid Kontan
    Foto F. Rahardi

    About

    Leave a Reply

    Your email address will not be published. Required fields are marked *