GOLDEN BERRY MASIH DI ATAS RP 100.000 PER KILO
by indrihr • 27/12/2021 • Buah, Sayur, Tanaman Hias, PERTANIAN • 0 Comments
Harga golden berry masih relatif stabil sejak mulai dibudidayakan sekitar 2015. Sebelumnya yang dijual di Indonesia golden berry impor. Padahal di sini golden berry itu gulma ciplukan (Jawa), cecendet (Sunda); dan nama-nama lain sesuai dengan daerahnya.
Yang disebut golden berry itu Physalis peruviana. Dalam Bahasa Inggris disebut Cape gooseberry dan ground cherry. Di seluruh dunia ada 124 spesies Physalis, suku Solanaceae, dan semua berasal dari Benua Amerika. Dari 124 spesies dalam genus Physalis itu, tiga di antaranya tumbuh liar di Indonesia. Dari tiga spesies Physalis di Indonesia itu, Physalis angulata dan minima paling banyak dijumpai di mana-mana sebagai gulma. Sedangkan Physalis peruviana relatif tak sebanyak Physalis angulata/minima. Dari tiga spesies Physalis itu, hanya Physalis peruviana yang dibudidayakan dan dipasarkan sebagai golden berry.
Padahal rasa buah Physalis peruviana masam. Tetapi rasa masam itulah yang justru disukai Bangsa Eropa. Lain dengan buah Physalis angulata/minima yang manis tetapi malahan tidak laku dijual. Disukainya buah Physalis peruviana, tentu bukan hanya karena rasa masamnya. Ukuran buah Physalis peruviana cukup besar, dengan kulit buah (bukan seludang buah) berwarna kuning mengarah ke orange. Penampilan fisik buah Physalis peruviana inilah yang menyebabkannya disebut golden berry, buah beri dengan warna keemasan. Bagi bangsa Eropa, rasa masam itu penting karena menjadi salah satu indikator tingginya vitamin C, warna orange indikator tingginya beta karoten.
Larisnya golden berry tentu bukan sekadar karena faktor penampilan fisik, kandungan vitamin C dan beta karoten. Selain dua hal tadi, masih ada faktor kepercayaan terhadap khasiat buah ini untuk meningkatkan kesehatan, dan juga terkait dengan gaya hidup (prestise). Harga buah di atas Rp 100.000 per kilogram, relatif tinggi untuk ukuran kantung rakyat Indonesia saat ini. Tetapi justru tingginya harga inilah yang menyebabkan golden berry diimpor dari Thailand, untuk dijual di swalayan elite dan juga secara online. Jadi harga golden berry antara Rp 100.000 sampai Rp 200.000, wajar karena merupakan produk impor.
Menurut catatan saya Waida Farm di Sumedanglah yang pertamakali membudidayakan golden berry di Indonesia, sekitar tahun 2015. Waktu itu Tatang Koswara, seorang peneliti LIPI pensiun lalu pulang kampung ke Sumedang untuk mengembangkan talas pratama hasil silangannya. Sekaligus ia mencoba menanam cecendet, yang banyak tumbuh liar di sekitar tempat tinggalnya. Talas dan golden berry itu ia pasarkan secara online langsung dan lewat market place dengan brand Waida Farm. Waktu saya berkunjung ke rumahnya pada 21 Oktober lalu, ia sudah memproduksi jus golden berry dan talas frozen.
Keliru Physalis angulata/minima
Membudidayakan dan memasarkan golden berry memang tidak mudah. Terbukti dalam kurun waktu lebih dari lima tahun, harga komoditas ini tak pernah turun drastis. Padahal sepintas ciplukan atau cecendet tak perlu ditanam. Di lahan-lahan sayuran ciplukan selalu tumbuh subur bersama gulma lain. Demikian pula di lahan-lahan kosong. Terlebih ciplukan Physalis minima yang ada di mana-mana. Tetapi dalam praktek tak banyak yang tahu, bahwa yang disebut golden berry hanyalah Physalis peruviana. Pernah seorang teman memberi tahu saya bahwa golden berry yang ditanamnya kecil-kecil dengan warna pucat.
Itu jelas bukan golden berry Physalis peruviana tapi ciplukan Physalis angulata/minima, dia kaget. “Memangnya ada berapa jenis ciplukan?” Beda dengan ciplukan biasa Physalis angulata/minima; golden berry Physalis peruviana tumbuh meninggi dan perlu ajir seperti pada budidaya kacang panjang. Meski bisa tumbuh mulai dari 0 meter dpl sampai 1.200 meter dpl; golden berry akan tumbuh dengan hasil optimum pada elevasi antara 500 sampai 1000 meter dpl. Waktu awal membudidayakannya, produktivitas golden berry hanya satu kilogram per tanaman per musim tanam sekitar lima bulan. “Setelah tahu caranya satu tanaman bisa lima kilo!”
Tampaknya faktor pemasaran menjadi kendala utama para petani golden berry. Tatang Koswara pun sebenarnya juga masih tetap peneliti yang tak bisa bisnis. Dia bisa memasarkan talas pratama dan golden berry secara online, karena dibantu salah seorang anaknya yang piawai masuk ke dunia digital. Hingga pada akhirnya Tatang Koswara juga hanya berkonsentrasi ke pembentukan komunitas, baik kelompok tani maupun koperasi; lalu menampung hasilnya. “Mereka yang bisa jualan sendiri, lebih bagus. Makin banyak yang tanam cecendet makin cepat masyarakat mengetahui jenis buah ini.”
Pandemi selama hampir dua tahun membuat golden berry juga tiarap. Dulu semua swalayan besar pesan. Sekarang yang rutin tinggal Super Indo. Lainnya hanya kadang-kadang. Giant malah tutup. Bagi Tatang Koswara, pandemi ini juga bisa dianggap sebagai “berkah”. Talas itu dulunya komoditas wisata, yang hanya dijual sebagai oleh-oleh di tempat wisata. Setelah ada pandemi, talas masuk pasar, juga dipesan perorangan secara online karena mereka memang suka talas sebagai bahan pangan alternatif. Di Sumedang sendiri sekarang ada yang memasarkan talas kukus, ada yang mengolahnya jadi tepung.
Lain halnya dengan golden berry yang masih belum berkembang sebagai komoditas wisata. Sebentar lagi, ada kemungkinan golden berry dijajakan bersama buah dan komoditas lain di kios oleh-oleh di Lembang, Jawa Barat. Sebab secara diam-diam, cecendet yang mengikuti perkembangan talas pratama; telah dibudidayakan di banyak tempat. Komunitas yang dikembangkan Tatang Koswara sudah menyebar di 16 kabupaten di seluruh Jawa Barat. Selain juga di Banten, Jawa Tengah, DIY dan Jawa Timur. Tak terbayangkan, gulma ciplukan/cecendet itu bisa berharga di atas Rp 100.000 per kilo. # # #
Artikel pernah dimuat di Tabloid Kontan
Foto F. Rahardi
